Harga Emas Anjlok 2 Persen, Perak 3 Persen, Imbas Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran Inflasi AS
- Harga emas dunia turun sekitar 2 persen pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026) waktu setempat atau Selasa (5/5/2026) pagi WIB, tertekan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga emas spot turun 2 persen menjadi 4.523,23 dollar AS per ons. Sementara harga emas berjangka AS melemah 2,4 persen ke level 4.533,30 dollar AS per ons.
Kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek mengatakan, eskalasi terbaru konflik AS dan Iran membuat pasar kembali khawatir terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
"Berita terbaru jelas tidak memberikan keyakinan kepada pasar bahwa semuanya akan baik-baik saja dan kembali memunculkan ancaman persoalan inflasi, disertai sinyal yang cukup hawkish terkait suku bunga," ujar Melek.
Baca juga: Harga Emas Dunia Melemah ke 4.599 Dollar AS, Ini Pemicunya
Ketegangan meningkat setelah Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz dan membakar pelabuhan minyak Uni Emirat Arab (UEA). Aksi tersebut disebut menjadi eskalasi terbesar sejak gencatan senjata diumumkan empat pekan lalu.
Di sisi lain, upaya Presiden AS Donald Trump menggunakan Angkatan Laut AS untuk membuka kembali jalur pelayaran turut memperburuk konflik.
Situasi tersebut mendorong penguatan dollar AS dan lonjakan harga minyak mentah Brent lebih dari 5 persen.
Penguatan mata uang AS membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga mengurangi minat investor terhadap emas.
Lonjakan harga energi juga meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Baca juga: Prospek Emas hingga 2026: Tinjauan Inflasi AS dan Kebijakan Bank Sentral
Barclays bahkan bergabung dengan sejumlah lembaga keuangan lain yang memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) tidak akan memangkas suku bunga tahun ini.
Pekan lalu, The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan dalam keputusan yang disebut paling terpecah sejak 1992, seiring meningkatnya kekhawatiran dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini, mulai dari data lowongan kerja, laporan ketenagakerjaan ADP, hingga penggajian April 2026.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, suku bunga tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
"Saya melihat level dukungan kuat emas berada di sekitar 4.200 dollar AS per ons. Saya pikir masih ada persoalan yang lebih luas pada akhir tahun yang dapat menopang harga. Namun, ketidakpastian dan kemungkinan kenaikan suku bunga dapat mendorong sebagian trader keluar dari pasar dalam jangka pendek," jelas Melek.
Penurunan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 3,2 persen menjadi 72,95 dollar AS per ons, platinum melemah 1,7 persen ke level 1.955,95 dollar AS per ons, dan paladium turun 2,9 persen menjadi 1.481,00 dollar AS per ons.
Tag: #harga #emas #anjlok #persen #perak #persen #imbas #konflik #timur #tengah #kekhawatiran #inflasi