Bitcoin Melonjak 12,7 Persen pada April 2026, Namun Rentan Koreksi
Ilustrasi bitcoin. (WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO)
17:08
2 Mei 2026

Bitcoin Melonjak 12,7 Persen pada April 2026, Namun Rentan Koreksi

– Harga Bitcoin (BTC) mencatat lonjakan signifikan sepanjang April 2026. Namun, reli tersebut dinilai belum memiliki fondasi yang kuat sehingga berpotensi rentan terkoreksi.

Berdasarkan data CryptoQuant, Bitcoin naik 12,7 persen secara bulanan. Kenaikan ini menjadi yang terbaik sejak April 2025 sekaligus memperpanjang tren penguatan selama dua bulan berturut-turut.

Sebelumnya, harga Bitcoin hanya naik tipis sekitar 2 persen pada Maret usai lima bulan berturut-turut melemah.

Sementara itu, Ether juga mencatat kenaikan sekitar 8 persen pada periode yang sama, menandai performa terbaiknya sejak Agustus tahun lalu.

Baca juga: Saat Bitcoin dan XRP Lesu, Investor Cari Alternatif Pendapatan Tetap

Reli Bitcoin ditopang transaksi derivatif

CryptoQuant mencatat, lonjakan harga Bitcoin pada April terutama didorong aktivitas perdagangan derivatif, khususnya kontrak berjangka tanpa jatuh tempo (perpetual futures).

Di sisi lain, permintaan di pasar spot justru menunjukkan pelemahan. Indikator permintaan yang mengukur perubahan pembelian Bitcoin selama 30 hari tetap berada di zona negatif sepanjang April.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (2/5/2026), Kepala Riset CryptoQuant, Julio Moreno, menilai kombinasi tersebut menjadi sinyal peringatan bagi keberlanjutan reli harga.

“Divergensi antara kenaikan permintaan futures dan penurunan permintaan spot menunjukkan bahwa kenaikan harga lebih didorong oleh leverage dibanding akumulasi aset secara riil,” ujar Moreno dalam laporannya.

Menurut dia, kondisi seperti ini secara historis cenderung tidak bertahan lama dan biasanya diikuti koreksi harga ketika posisi leverage mulai dilepas.

Baca juga: Bitcoin (BTC) Rebound, Investor Institusi Topang Harga

Struktur pasar kripto berubah

Fenomena ini juga mencerminkan perubahan lanskap industri kripto. Perdagangan derivatif kini menjadi pendorong utama likuiditas dan pembentukan harga.

Sebaliknya, perdagangan spot, yang sebelumnya menjadi fondasi utama bursa kripto, semakin kurang stabil sebagai sumber pendapatan.

Hal ini karena aktivitas tersebut sangat bergantung pada siklus akumulasi aset yang tidak selalu terjadi secara konsisten.

Sepanjang 2026, permintaan kripto dinilai cenderung tidak merata dan lebih bersifat reaktif. Pergerakan harga juga banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik terkait konflik Iran.

Selain itu, pasar juga masih minim katalis positif, terutama karena pembahasan regulasi struktur pasar kripto di Amerika Serikat, yakni CLARITY Act, belum menunjukkan kemajuan berarti.

Baca juga: Teka-teki Satoshi Nakamoto, Sosok Pencipta Bitcoin Mulai Terungkap?

Belajar dari pola 2022

Moreno menambahkan, pola serupa, yakni meningkatnya permintaan futures saat permintaan spot melemah, pernah terjadi pada awal pasar bearish 2022 dan diikuti penurunan harga yang berkepanjangan.

Meski demikian, kondisi saat ini memiliki perbedaan, termasuk meningkatnya partisipasi institusi serta kehadiran produk ETF Bitcoin spot.

Pada April 2026, arus dana masuk (net inflow) ke ETF Bitcoin mencapai 1,9 miliar dollar AS, dengan total aset bersih sekitar 100,53 miliar dollar AS.

Sementara itu, perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai cadangan kas menambah kepemilikan sekitar 58.000 koin senilai kurang lebih 4,4 miliar dollar AS.

Meski sempat menyentuh level sekitar 79.500 dollar AS pada April, harga Bitcoin cenderung bergerak melemah setelahnya. Memasuki awal Mei, harga sempat naik lebih dari 2 persen, namun masih berada sedikit di bawah level tertinggi bulan sebelumnya.

Moreno menegaskan, reli berbasis leverage umumnya bersifat terbatas. Tanpa dukungan permintaan spot yang kuat, kenaikan harga berisiko berbalik arah ketika posisi derivatif mulai ditutup.

Tag:  #bitcoin #melonjak #persen #pada #april #2026 #namun #rentan #koreksi

KOMENTAR