Rupiah Tembus Rp 17.326, Dipicu Sentimen Danantara dan Konflik Timur Tengah
Nilai tukar rupiah di pasar spot anjlok saat penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Mata uang Garuda melemah 84,50 poin atau 0,48 persen ke level Rp 17.326 per dollar AS.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah didorong oleh faktor internal dan eksternal.
Dari dalam negeri, target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dinilai sulit tercapai selama praktik kriminalisasi terhadap kebijakan publik masih terjadi.
Baca juga: Rupiah Pagi Masih Lesu, IHSG Tancap Gas
Ilustrasi rupiah.
“Ketidakpastian hukum yang ditimbulkan membuat para pengambil keputusan cenderung berhati-hati secara berlebihan, bahkan enggan bertindak,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Menurutnya, risiko kriminalisasi membuat pejabat publik kehilangan keberanian dan kreativitas saat mengambil keputusan strategis, terutama yang berkaitan dengan bisnis.
“Keputusan bisnis pada dasarnya selalu mengandung risiko. Namun, jika risiko tersebut berujung pada potensi pidana, maka pejabat negara akan cenderung menghindari pengambilan keputusan,” paparnya.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga menyoroti sejumlah kekhawatiran investor terhadap Danantara.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Meluas, Tak Hanya Terhadap Dolar AS
Isu tata kelola menjadi perhatian utama, termasuk struktur pelaporan yang dinilai terlalu terpusat karena entitas tersebut melapor langsung kepada Presiden.
Fitch juga menilai adanya potensi penggunaan Danantara untuk mendukung pembiayaan program pemerintah, terutama ketika terjadi kesenjangan antara anggaran dan kebutuhan belanja negara.
Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait posisi Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang seharusnya berorientasi komersial.
Bendera OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi
Untuk faktor eksternal, pasar global tengah mencermati dinamika baru di sektor energi setelah keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari kelompok negara pengekspor minyak OPEC.
Baca juga: Upaya Damai AS-Iran Buntu, Rupiah Tertekan ke Level Rp 17.243 Per Dollar AS
Langkah yang akan efektif mulai Jumat ini dinilai menjadi pukulan bagi stabilitas kelompok produsen minyak, terutama di tengah gangguan pasokan yang masih berlangsung akibat konflik Iran.
Pemerintah UEA menyatakan keputusan tersebut diambil untuk memprioritaskan “kepentingan nasional”, sekaligus memberi sinyal adanya pergeseran strategi di pasar energi global.
Di saat yang sama, tekanan terhadap pasokan minyak diperkirakan berlanjut seiring rencana Amerika Serikat memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran.
Presiden Donald Trump disebut telah menginstruksikan jajarannya untuk melanjutkan kebijakan tersebut guna menekan ekspor minyak Iran, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal.
Baca juga: Imbas Harga Minyak Naik, Rupiah Tertekan Pagi Ini, Sentuh Rp 17.221 per Dollar AS
Kebijakan tersebut diperkirakan memperpanjang gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia.
Situasi semakin kompleks meskipun telah terjadi gencatan senjata dalam konflik AS-Israel dengan Iran.
Hingga kini, konflik dalam kondisi buntu, dengan kedua pihak belum mencapai kesepakatan final.
Iran sendiri masih menutup jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global.
Baca juga: Negosiasi AS-Iran Beri Angin Segar, Rupiah Menguat ke Level 17.211
Sementara itu, AS tetap melanjutkan tekanan ekonomi melalui blokade pelabuhan Iran.
AS menuntut penghentian program nuklir Iran, sedangkan Iran meminta kompensasi atas konflik yang terjadi, pelonggaran sanksi ekonomi, serta kendali atas jalur strategis tersebut.
Ketegangan ini membuat pasar energi global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.
The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, menandai pertemuan ketiga berturut-turut tanpa perubahan.
Baca juga: Rupiah Diproyeksi Sentuh Rp 17.400 per Dollar AS, Seberapa Kuat Fiskal Indonesia?
Keputusan ini dinilai krusial karena memberikan gambaran arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Tag: #rupiah #tembus #17326 #dipicu #sentimen #danantara #konflik #timur #tengah