DPK Diprediksi Tumbuh, tapi Kemampuan Menabung Masyarakat Melemah
Ilustrasi menabung.(FREEPIK/FREEPIK)
12:36
29 April 2026

DPK Diprediksi Tumbuh, tapi Kemampuan Menabung Masyarakat Melemah

Di tengah tekanan daya beli yang belum sepenuhnya pulih, dana pihak ketiga (DPK) rumah tangga menunjukkan tanda pemulihan.

Simpanan masyarakat di perbankan masih tumbuh, ditopang oleh peningkatan pendapatan, faktor musiman, hingga kecenderungan rumah tangga memperkuat dana cadangan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Namun, di balik pertumbuhan DPK, sejumlah indikator juga menunjukkan kehati-hatian.

Baca juga: Perbanas Sebut Pertumbuhan DPK Jadi Tantangan Utama Industri Perbankan

Ilustrasi menabung, menabung harian.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi menabung, menabung harian.

Kemampuan dan kemauan menabung sebagian kelompok rumah tangga justru melemah, terutama di kelompok berpendapatan rendah dan menengah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat pemulihan DPK rumah tangga dipengaruhi sejumlah faktor, terutama membaiknya aktivitas ekonomi baik di sektor formal maupun informal yang menopang pendapatan masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, faktor musiman seperti pembayaran bonus akhir tahun, Tunjangan Hari Raya (THR), serta realisasi belanja pemerintah turut meningkatkan likuiditas di masyarakat dan mendorong pertumbuhan simpanan.

“Ketidakpastian global yang masih berlanjut juga mendorong preferensi masyarakat untuk menahan konsumsi dan menempatkan dana pada instrumen perbankan sebagai bentuk kehati-hatian (precautionary saving),” ujar Dian dalam pernyataan tertulis, dikutip pada Rabu (29/4/2026).

Baca juga: LPS Sebut Likuiditas Perbankan Sehat, Kredit dan DPK Tumbuh

Fenomena precautionary saving ini menunjukkan perilaku rumah tangga yang cenderung memperbesar tabungan sebagai bantalan menghadapi risiko ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global, pola ini ikut menopang DPK, meski tidak serta merta mencerminkan konsumsi masyarakat sedang kuat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Launching Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS, Senin (20/5/2024).KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Launching Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS, Senin (20/5/2024).

Menurut Dian, peningkatan DPK idealnya juga berjalan seiring pertumbuhan kredit dan aktivitas transaksi ritel.

Dengan demikian, pertumbuhan simpanan tidak hanya mencerminkan penumpukan dana, tetapi juga merefleksikan pemulihan daya beli yang berkelanjutan.

Baca juga: OJK Soroti Pertumbuhan DPK yang Lebih Tinggi dari Kredit Bank

“Peningkatan DPK rumah tangga idealnya juga diimbangi oleh peningkatan kredit dan aktivitas transaksi ritel agar terefleksi bahwa terjadi pemulihan daya beli masyarakat secara berkelanjutan serta sekaligus menjadi indikator terjadinya penguatan buffer keuangan rumah tangga yang berdampak positif bagi stabilitas sistem keuangan,” kata Dian.

DPK diproyeksi tumbuh moderat

Prospek penghimpunan dana perbankan sepanjang 2026 juga masih positif, meski lajunya diperkirakan melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) Maret 2026 menunjukkan, secara kumulatif hingga kuartal II-2026, penghimpunan DPK diperkirakan meningkat.

Hal itu tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) sebesar 87,85 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 69,80 persen.

Baca juga: Rupiah Melemah dan Inflasi Bikin Tabungan Tergerus, Bagaimana Strategi Aman Jaga Kekayaan?

Peningkatan itu didukung pertumbuhan seluruh kategori simpanan. Tabungan mencatat SBT 82,47 persen, giro 80,36 persen, dan deposito 72,70 persen.

Meski demikian, pada akhir 2026, pertumbuhan DPK diperkirakan sebesar 8,47 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 13,83 persen pada 2025.

Meski melambat, proyeksi tersebut lebih baik dibanding ekspektasi responden pada survei kuartal IV-2025 yang memperkirakan pertumbuhan DPK hanya 7,62 persen.

Dian mengatakan, untuk 2026, tren DPK rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh moderat, ditopang stabilitas inflasi, peningkatan aktivitas ekonomi, serta kebijakan yang mendukung sektor riil.

Ilustrasi tabungan, menabung.SHUTTERSTOCK/FARKNOT ARCHITECT Ilustrasi tabungan, menabung.

Baca juga: Bingung Pilih Tabungan atau Investasi? Ini Cara Menentukannya

“Namun mempertimbangkan kondisi geopolitik global yang penuh dinamika, kondisi ini dapat sewaktu-waktu berubah,” ujar Dian.

Menurut dia, OJK bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus mendorong peningkatan DPK melalui berbagai strategi.

Strategi itu antara lain peningkatan inklusi dan literasi keuangan, percepatan digitalisasi layanan perbankan, penguatan ekosistem sistem pembayaran, hingga sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga daya beli tanpa menggerus kemampuan menabung masyarakat.

“OJK juga mendorong percepatan digitalisasi layanan perbankan, termasuk mobile banking dan penguatan ekosistem sistem pembayaran sehingga aktivitas menabung menjadi lebih aman, mudah dan menarik,” terang Dian.

Baca juga: 5 Kesalahan Keuangan yang Diam-diam Menggerogoti Tabungan

Konsumsi naik, porsi tabungan bertahan

Di sisi rumah tangga, Survei Konsumen BI Maret 2026 memperlihatkan komposisi penggunaan pendapatan relatif stabil.

Rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi tercatat 72,2 persen, naik dari 71,6 persen pada bulan sebelumnya. Sementara proporsi pembayaran cicilan atau utang turun menjadi 10,2 persen dari sebelumnya 10,6 persen.

Adapun proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) tercatat 17,6 persen, relatif stabil dibandingkan Februari 2026 sebesar 17,7 persen.

Data ini menunjukkan, meski porsi konsumsi naik, rumah tangga secara agregat masih menjaga alokasi untuk tabungan. Stabilitas saving to income ratio itu juga menjadi penyangga bagi pertumbuhan DPK.

Baca juga: Januari 2026, Konsumsi Rumah Tangga Turun, Tabungan Meningkat

Namun, di level mikro, kemampuan menabung tidak merata di seluruh kelompok pendapatan.

Ilustrasi menabung. Tips investasi gasi pas-pasan. Tips investasi.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung. Tips investasi gasi pas-pasan. Tips investasi.

Indeks menabung melemah

Survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan kehati-hatian rumah tangga juga dibayangi tekanan konsumsi jangka pendek.

Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Maret 2026 tercatat 79,5, turun 3,9 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan terjadi pada dua komponen utama, yakni Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) yang turun 3,0 poin menjadi 72,0 dan Indeks Kemauan Menabung (IKMM) yang turun 4,8 poin menjadi 87,1.

Baca juga: Bukan Soal Gaji, Kebiasaan Sehari-hari Ini Menggerus Tabungan

LPS menyebut penurunan itu berkaitan dengan meningkatnya pengeluaran konsumsi untuk kebutuhan Idulfitri dan pengeluaran tak terduga.

Tekanan paling terlihat pada perilaku menabung responden. Porsi responden yang mengaku sering menabung turun dari 19 persen pada Februari menjadi 17,7 persen pada Maret 2026.

Pada saat sama, porsi responden yang menyatakan jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan meningkat dari 35,5 persen menjadi 40,7 persen.

Sinyal pelemahan juga terlihat dari persepsi waktu menabung. Persentase responden yang menilai saat ini bukan waktu tepat untuk menabung naik menjadi 53,7 persen, dari sebelumnya 48,1 persen.

Baca juga: Benarkah Makan Tabungan Jadi Satu-satunya Masalah Kelas Menengah?

Bahkan, yang memandang tiga bulan mendatang bukan waktu tepat untuk menabung juga meningkat menjadi 33,9 persen, dari 31,4 persen.

Data ini menunjukkan, meski tabungan rumah tangga secara agregat masih tumbuh, tekanan pengeluaran jangka pendek dapat memengaruhi niat dan kemampuan masyarakat untuk menyisihkan dana.

Kelompok bawah paling tertekan

Jika dilihat per kelompok pendapatan, tekanan paling besar dialami rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah.

Ilustrasi menabung. FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Penurunan IMK terdalam terjadi pada rumah tangga berpendapatan Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta per bulan, yang turun 6,1 poin.

Baca juga: HSBC: Konsumsi Masyarakat Mulai Pulih, tapi Masih Makan Tabungan

Disusul kelompok berpendapatan hingga Rp 1,5 juta per bulan yang turun 2,6 poin, serta rumah tangga berpendapatan di atas Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per bulan yang turun 2,0 poin.

Sebaliknya, kelompok rumah tangga berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan justru tetap stabil di atas level 100, bahkan naik 3,3 poin pada Maret 2026.

Perbedaan ini menunjukkan ruang menabung lebih banyak bertahan di kelompok pendapatan atas, sementara kelompok bawah lebih rentan tergerus tekanan konsumsi.

Kondisi itu menjadi penting karena struktur DPK rumah tangga dalam jangka panjang tidak hanya bergantung pada peningkatan nominal simpanan, tetapi juga pada seberapa luas kemampuan menabung terjaga di berbagai lapisan pendapatan.

Baca juga: Harga Kebutuhan Naik, Ini Strategi Menghindari “Makan Tabungan”

DPK dan daya beli

Pertumbuhan DPK tidak semata dibaca sebagai indikator masyarakat makin sejahtera. Sebagian pertumbuhan simpanan juga dipengaruhi perilaku berjaga-jaga di tengah risiko ekonomi.

Karena itu, OJK menilai penting agar pertumbuhan DPK berjalan beriringan dengan penguatan kredit dan transaksi ritel.

Jika simpanan meningkat bersamaan dengan konsumsi dan pembiayaan yang tumbuh sehat, hal itu dapat mencerminkan pemulihan daya beli yang lebih kuat.

Sebaliknya, jika pertumbuhan DPK lebih banyak ditopang kehati-hatian dan penahanan konsumsi, maka itu lebih mencerminkan penguatan buffer rumah tangga ketimbang ekspansi ekonomi domestik.

Baca juga: Biaya Hidup Terus Meningkat, Tabungan Jadi Bantalan Kelas Menengah

Di tengah kondisi tersebut, kombinasi stabilitas inflasi, dukungan sektor riil, dan kebijakan menjaga daya beli dinilai akan menjadi faktor penentu apakah tren menabung dan pertumbuhan DPK bisa berlanjut sepanjang 2026.

Tag:  #diprediksi #tumbuh #tapi #kemampuan #menabung #masyarakat #melemah

KOMENTAR