Literasi Keuangan Tinggi, tapi Perilaku Pinjol RI Masih Terlalu Pede
- Tingkat literasi keuangan pengguna pinjaman online (pinjol) di Indonesia tergolong tinggi.
Namun, belum diiringi perilaku keuangan yang sehat, terutama terkait sikap terlalu percaya diri dalam mengelola pinjaman.
Hal ini tecermin dalam hasil riset dari oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang berjudul Kajian Dampak Fintech Lending terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Indonesia: Studi Kasus AdaKami.
Baca juga: Gagal Bayar Pinjol, Ekonom: Pinjaman Dianggap Pendapatan Tambahan
Ilustrasi pinjaman online, pinjol.
Hasil riset menunjukkan, lebih dari 89,2 persen responden pengguna AdaKami memahami cara menghitung bunga pinjaman dan lebih dari 95 persen responden dinilai telah memiliki pengetahuan memadai mengenai biaya dan tenor pinjaman.
Akademisi LPEM FEB UI Prani Sastiono mengatakan, angka ini lebih baik dibanding kelompok lain yang disurvei, yaitu pengguna pinjaman informal dan pinjol ilegal.
"Kalau kita lihat di sini memang yang sudah memiliki literasi keuangan ini lebih dari 80% di semua kelompok. Untuk kelompok AdaKami ini sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, terutama dalam penghitungan bunga," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).
Namun demikian, dia menilai tingginya literasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perilaku keuangan yang bijak.
Baca juga: Mau Pinjam Uang di Pinjol? Ini Tips Aman dari OJK yang Perlu Dipahami
Prani menyoroti adanya kecenderungan overconfidence atau terlalu percaya diri di kalangan pengguna pinjol.
Sekitar 16 persen responden mengaku yakin dapat melunasi pinjaman tepat waktu, meskipun belum melakukan perhitungan kemampuan bayar.
Ilustrasi pinjaman online, pinjol, pinjaman daring.
Selain itu, sebanyak 73 persen responden menyatakan telah memahami syarat dan ketentuan pinjaman, meski belum membacanya secara perinci.
Tidak hanya itu, riset yang sama juga menemukan adanya kecenderungan perilaku yang berorientasi jangka pendek.
Baca juga: PN Jakpus Terima 40 Gugatan Perusahaan Pinjol Lawan Putusan KPPU
Sebanyak 14 persen responden mengaku terdorong membeli barang saat diskon, sementara 7 persen lainnya bersedia membayar biaya tambahan demi pencairan pinjaman lebih cepat, serta tertarik pada investasi dengan imbal hasil tinggi meski berisiko.
"Ini tentu saja punya risiko terhadap kemampuan membayar dan juga kesejahteraan dan keberlanjutan dari keuangan rumah tangga," kata Prani.
Berdasarkan temuan tersebut, LPEM FEB UI merekomendasikan penguatan edukasi keuangan oleh regulator, asosiasi, dan pelaku industri pinjol agar pengguna tidak hanya paham secara konsep, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial secara bijak.
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia Yasmine Sembirin mengatakan, pihaknya telah menggelar sekitar 700 kegiatan edukasi sepanjang 2025.
Baca juga: Gagal Bayar Selama 90 Hari, Utang Pinjol Tak Dianggap Lunas Justru Bertambah
Edukasi tersebut, lanjut dia, difokuskan pada peningkatan kesehatan keuangan masyarakat sekaligus mencegah pengguna terjebak dalam fenomena gagal bayar (galbay).
Terlebih saat ini data pengguna sudah tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), sehingga rapor keuangannya akan terlihat.
"Gerakan galbay itu juga terus kami edukasikan kepada para pengguna agar tidak sekali-kali menggunakannya," tukasnya.
Tag: #literasi #keuangan #tinggi #tapi #perilaku #pinjol #masih #terlalu #pede