Analis Soroti Dampak Pencopotan Dirjen Kemenkeu, Pasar Tunggu Arah Kebijakan Fiskal
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Istana, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
14:04
23 April 2026

Analis Soroti Dampak Pencopotan Dirjen Kemenkeu, Pasar Tunggu Arah Kebijakan Fiskal

- Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencopot dua direktur jenderal memicu beragam tafsir di kalangan pelaku pasar.

Senior analis Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ronny P. Sasmita menilai dampaknya cepat terasa, terutama dari sisi persepsi pasar. Langkah tersebut tidak dilihat sebagai rotasi biasa, tetapi sebagai sinyal arah kebijakan fiskal.

“Dalam jangka pendek, pasar bisa membaca ini sebagai sinyal kehati-hatian atau bahkan kekhawatiran. Kalau komunikasinya tidak solid, bisa memicu persepsi ketidakstabilan internal. Tapi kalau dikemas sebagai langkah penguatan, justru bisa dibaca positif sebagai bentuk discipline enforcement dalam pengelolaan fiskal,” ujar Ronny kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Purbaya dan Pejabat Kemenkeu Kompak Bungkam soal Pencopotan 2 Dirjen

Menurut Ronny, keputusan ini bisa ditafsirkan dua arah. Langkah tersebut bisa dibaca sebagai upaya memperbaiki mesin fiskal, tetapi juga bisa memunculkan kesan adanya masalah internal.

"Kuncinya ada di narasi pemerintah apakah ini pembersihan masalah atau penajaman strategi," katanya.

Ronny menilai pergantian pejabat setingkat direktur jenderal tidak berdiri sendiri. Ada konteks lebih luas, mulai dari tekanan ekonomi hingga kebutuhan penyesuaian kebijakan fiskal.

“Ini bukan hanya soal pergantian pejabat, tapi soal apakah Kementerian Keuangan sedang memperkuat fondasi fiskalnya, atau justru sedang menghadapi tekanan internal yang lebih dalam,” jelasnya.

Ruang fiskal yang semakin terbatas ikut menjadi faktor penting. Kebutuhan belanja meningkat, sementara ekspektasi pasar tetap tinggi. Posisi direktur jenderal menjadi krusial dalam menjaga arah kebijakan.

Ronny menyebut pergantian di level ini sering berkaitan dengan kebutuhan percepatan kebijakan atau koreksi strategi.

Ia memaparkan tiga faktor yang dinilai rasional di balik keputusan tersebut. Faktor pertama berkaitan dengan kinerja, terutama jika target penerimaan, belanja, atau pembiayaan tidak tercapai.

“Kedua, soal konsolidasi kebijakan. Menkeu mungkin ingin memastikan semua lini sejalan dengan strategi fiskal ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Purbaya Copot Dua Dirjen Kemenkeu, Febrio dan Luky Hengkang

Faktor ketiga terkait manajemen risiko. Aspek ini dinilai semakin penting di tengah volatilitas global. Deviasi kecil dalam kebijakan bisa berdampak besar terhadap kredibilitas fiskal.

Ronny menilai dampak jangka menengah dan panjang bergantung pada sosok pengganti dan arah kebijakan setelah pergantian.

“Kalau penggantinya lebih teknokratis, kuat secara eksekusi, dan mampu menjaga kredibilitas fiskal, maka ini bisa memperbaiki kinerja APBN. Tapi kalau pergantian ini justru membuka ruang politisasi kebijakan fiskal, nah justru bisa berbahaya,” kata dia.

Ia mengingatkan, isu ini berkaitan langsung dengan kepercayaan investor. Dampaknya juga merembet ke biaya utang negara dan stabilitas makroekonomi.

Tag:  #analis #soroti #dampak #pencopotan #dirjen #kemenkeu #pasar #tunggu #arah #kebijakan #fiskal

KOMENTAR