Pendapatan Naik, Garuda Indonesia (GIAA) Pangkas Rugi pada Awal 2026
Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) memulai tahun 2026 dengan perbaikan kinerja keuangan.
Hal ini ditandai pertumbuhan pendapatan dan penyusutan rugi bersih pada kuartal I 2026, meski tekanan dari beban keuangan dan struktur liabilitas masih membayangi.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 31 Maret 2026 yang dikutip dari laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (23/4/2026), Garuda membukukan pendapatan usaha sebesar 762,35 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,14 triliun (asumsi kurs Rp 17.240 per dollar AS).
Baca juga: Pendapatan Garuda (GIAA) Kuartal I 2026 Tumbuh 5,36 Persen, Ditopang Perbaikan Kinerja Operasi
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Angka tersebut naik dari 723,56 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,48 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan itu terutama ditopang bisnis penerbangan berjadwal yang mencapai 648,10 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,17 triliun, meningkat dibanding kuartal I 2025 sebesar 603,69 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,41 triliun.
Sementara itu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal tercatat mencapai 24,98 juta dollar AS atau sekitar Rp 430,66 miliar, turun dari 37,96 juta dollar AS atau sekitar Rp 654,43 miliar.
Pendapatan lain-lain juga meningkat menjadi 89,27 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,54 triliun, dibandingkan 81,91 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,41 triliun pada periode sama tahun lalu.
Baca juga: Garuda Indonesia Dinobatkan Sebagai Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Versi OAG Flightview
Rugi bersih menyusut
Di tengah kenaikan pendapatan, Garuda Indonesia menekan rugi periode berjalan menjadi 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 717,53 miliar.
Angka kerugian Garuda Indonesia ini membaik dibandingkan rugi 75,93 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,31 triliun pada kuartal I 2025.
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Penyusutan rugi juga tercermin dari rugi sebelum pajak penghasilan yang turun dari 88,74 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,53 triliun menjadi 47,72 juta dollar AS atau sekitar Rp 822,29 miliar.
Perbaikan itu terjadi seiring lebih terkendalinya beban operasional. Total beban usaha Garuda turun menjadi 713,22 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,29 triliun dari 718,36 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,39 triliun pada kuartal I 2025.
Baca juga: Garuda Indonesia Siapkan 15 Pesawat untuk Layani Keberangkatan Perdana Haji Tahun Ini
Komponen beban operasional penerbangan turun menjadi 350,24 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,04 triliun, dibandingkan 361,96 juta dollar AS atau sekitar Rp 6,24 triliun.
Namun demikian, tidak semua pos beban mengalami penurunan. Beban pemeliharaan dan perbaikan naik menjadi 159,14 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,74 triliun dari sebelumnya 156,19 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,69 triliun.
Beban kebandaraan juga naik menjadi 57,84 juta dollar AS atau sekitar Rp 997,16 miliar dari 54,05 juta dollar AS atau sekitar Rp 931,42 miliar.
Sementara beban tiket, penjualan dan promosi meningkat menjadi 45,64 juta dollar AS atau sekitar Rp 786,83 miliar, dari sebelumnya 40,15 juta dollar AS atau sekitar Rp 692,19 miliar.
Baca juga: Garuda Daya Pratama Kirim Engineer ke Proyek MRO Korea
Beban keuangan Garuda Indonesia masih berat
Meski rugi menyusut, tekanan dari sisi pembiayaan masih terasa besar.
Garuda membukukan beban keuangan sebesar 104 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,79 triliun pada tiga bulan pertama 2026.
Meski turun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 124,57 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,15 triliun, pos ini tetap menjadi salah satu penekan utama profitabilitas perusahaan.
Di sisi lain, pendapatan keuangan meningkat menjadi 9,13 juta dollar AS atau sekitar Rp 157,40 miliar dari 3,36 juta dollar AS atau sekitar Rp 57,93 miliar.
Beberapa armada pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan
Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs neto 1,39 juta dollar AS atau sekitar Rp 23,96 miliar, berbalik dari keuntungan selisih kurs 12,83 juta dollar AS atau sekitar Rp 221,19 miliar pada kuartal I 2025.
Pos pendapatan dan beban lain-lain neto juga berubah menjadi beban 1,20 juta dollar AS atau sekitar Rp 20,69 miliar, dari sebelumnya pendapatan 13,57 juta dollar AS atau sekitar Rp 233,95 miliar.
Kondisi itu membuat total pendapatan dan beban usaha lainnya masih negatif 96,85 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,67 triliun, sedikit lebih dalam dibandingkan negatif 93,94 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,62 triliun setahun sebelumnya.
Likuiditas menurun
Dari sisi neraca, total aset Garuda Indonesia per 31 Maret 2026 tercatat 7,51 miliar dollar AS atau sekitar Rp 129,41 triliun, naik dari 7,43 miliar dollar AS atau sekitar Rp 128,11 triliun pada akhir 2025.
Baca juga: Anak Usaha Garuda GMFI Bukukan Laba Rp 570 Miliar, Ekuitas Berbalik Positif
Aset lancar meningkat menjadi 1,51 miliar dollar AS atau sekitar Rp 26,05 triliun, dari 1,42 miliar dollar AS atau sekitar Rp 24,45 triliun.
Namun kas dan setara kas turun menjadi 857,50 juta dollar AS atau sekitar Rp 14,79 triliun, dari 943,40 juta dollar AS atau sekitar Rp 16,27 triliun pada akhir 2025.
Penurunan kas ini juga tercermin pada arus kas. Kas neto dari aktivitas operasi tercatat 118,92 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,05 triliun, turun dari 162,27 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,80 triliun pada kuartal I 2025.
Di sisi investasi, arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi meningkat menjadi 134,98 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,33 triliun, dibandingkan 97,03 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,67 triliun setahun sebelumnya.
Baca juga: Garuda Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Harga Avtur
Sementara arus kas untuk aktivitas pendanaan tercatat negatif 62,48 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,08 triliun.
Secara total, kas dan setara kas berkurang bersih 78,54 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,35 triliun selama kuartal I 2026.
Ilustrasi pesawat.
Liabilitas naik, ekuitas menurun
Di sisi kewajiban, total liabilitas Garuda meningkat menjadi 7,44 miliar dollar AS atau sekitar Rp 128,24 triliun, dari 7,34 miliar dollar AS atau sekitar Rp 126,54 triliun pada akhir 2025.
Liabilitas jangka panjang masih mendominasi, mencapai 5,90 miliar dollar AS atau sekitar Rp 101,68 triliun.
Baca juga: OTP Garuda Tembus 92,08 Persen Saat Lebaran 2026, Tertinggi dalam 3 Tahun
Pos liabilitas sewa tercatat 1,98 miliar dollar AS atau sekitar Rp 34,19 triliun, sementara liabilitas estimasi biaya pengembalian dan pemeliharaan pesawat mencapai 2,28 miliar dollar AS atau sekitar Rp 39,35 triliun.
Utang obligasi tercatat 684,61 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,80 triliun, sedangkan pinjaman jangka panjang sebesar 630,06 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,86 triliun.
Sementara itu, total ekuitas turun menjadi 68,25 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,18 triliun dari 91,91 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,58 triliun pada akhir 2025.
Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan berubah negatif 39,63 juta dollar AS atau sekitar minus Rp 683,22 miliar, dibandingkan posisi positif 8,20 juta dollar AS atau sekitar Rp 141,37 miliar pada akhir tahun lalu.
Baca juga: Garuda Indonesia Buka Suara Soal Penutupan Rute Jakarta - Bengkulu
Akumulasi rugi belum dicadangkan juga bertambah menjadi 3,88 miliar dollar AS atau sekitar Rp 66,85 triliun, dari 3,83 miliar dollar AS atau sekitar Rp 66,05 triliun.
Meski demikian, kepentingan nonpengendali meningkat menjadi 107,88 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,86 triliun, dari 83,71 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,44 triliun.
Dengan capaian kuartal I 2026 ini, kinerja Garuda menunjukkan perbaikan operasional melalui pertumbuhan pendapatan dan penyusutan rugi, meski tekanan pembiayaan, penurunan likuiditas, dan tingginya liabilitas masih menjadi faktor yang membentuk struktur keuangan perseroan.
Tag: #pendapatan #naik #garuda #indonesia #giaa #pangkas #rugi #pada #awal #2026