Legislator Nilai RI Punya Ketahanan Kuat di Tengah Krisis Energi
Ilustrasi minyak bumi. (Freepik)
16:12
22 April 2026

Legislator Nilai RI Punya Ketahanan Kuat di Tengah Krisis Energi

Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara paling kuat menghadapi krisis energi global 2026 berdasarkan riset JPMorgan Asset & Wealth Management bertajuk Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026, dengan tingkat ketahanan energi mencapai 77 persen.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M Sarmuji mengatakan capaian tersebut patut diapresiasi, terutama di tengah tekanan geopolitik akibat perang Iran versus Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

“Situasi global saat ini tidak mudah. Konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berdampak langsung pada rantai pasok energi dunia dan memicu ketidakpastian harga. Dalam konteks ini, posisi Indonesia yang relatif kuat bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan cerdas dalam membaca situasi,” ujar Sarmuji dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Baca juga: Gejolak Energi Global, Malaysia Dorong Biodiesel dan Penghematan BBM

Ilustrasi para pekerja di industri migas sedang melaksanakan pekerjaannya di lapangan. SHUTTERSTOCK Ilustrasi para pekerja di industri migas sedang melaksanakan pekerjaannya di lapangan.

Dalam riset tersebut, Indonesia berada tepat di bawah Afrika Selatan yang mencatat tingkat ketahanan energi sebesar 79 persen.

Posisi Indonesia berada di atas China yang memperoleh skor 76 persen, disusul Amerika Serikat 70 persen, Australia 68 persen, Swedia 66 persen, Pakistan 65 persen, Rumania 64 persen, Peru 63 persen, dan Kolombia 60 persen.

Sarmuji menilai capaian Indonesia menjadi signifikan mengingat Indonesia masih berstatus net importir energi, khususnya minyak.

Karena itu, menurut dia, kemampuan bertahan dalam tekanan global menunjukkan adanya kombinasi kebijakan yang tepat antara pengelolaan sumber daya domestik dan strategi mitigasi risiko.

Baca juga: Genjot Energi Hijau, Teknologi HVDC Jadi Kunci Interkoneksi Listrik

Menurut Sarmuji, ketahanan energi Indonesia ditopang oleh struktur energi domestik yang cukup solid, dengan 77 persen kebutuhan energi nasional relatif terlindungi.

Komposisi penopang ketahanan energi tersebut terdiri dari batu bara sebesar 48 persen, gas 22 persen, serta energi terbarukan sebesar 7 persen.

Ia mengatakan, struktur tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang posisi Indonesia dalam menghadapi gejolak energi global yang dipicu ketidakpastian geopolitik.

Meski demikian, Sarmuji mengingatkan situasi global masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian, sehingga penguatan sektor energi nasional tetap diperlukan.

Baca juga: Temuan Cadangan Gas Raksasa Kaltim Diharap Bisa Tekan Impor Energi

Menurut dia, pemerintah perlu terus memperkuat bauran energi nasional, mempercepat pengembangan energi terbarukan, serta meningkatkan efisiensi dan ketahanan sektor energi secara menyeluruh.

“Capaian ini harus dijaga dan ditingkatkan. Ketahanan energi bukan hanya soal hari ini, tetapi juga kesiapan menghadapi masa depan yang penuh risiko. Pemerintah perlu terus bekerja keras dan cerdas agar Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga makin mandiri di sektor energi,” kata Sarmuji.

Tag:  #legislator #nilai #punya #ketahanan #kuat #tengah #krisis #energi

KOMENTAR