IHSG Melonjak 2,07 Persen Pagi Ini, Apa Saja Daya Dorongnya?
Ilustrasi IHSG(KOMPAS/HERU SRI KUMORO)
11:08
14 April 2026

IHSG Melonjak 2,07 Persen Pagi Ini, Apa Saja Daya Dorongnya?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin menguat di sesi satu perdagangan Selasa (14/4/2026). Indeks naik naik 155,27 poin atau 2,07 persen ke level 7.655,45.

Indeks tercatat bergerak konsisten di zona hijau setelah dibuka di posisi 7.598,80 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 7.663,03.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan IHSG didukung oleh mayoritas saham yang menguat. Di mana ada 517 saham naik, jauh melampaui 142 saham yang melemah dan 156 saham bergerak stagnan.

Dari sisi likuiditas, aktivitas perdagangan meningkat tajam. Volume transaksi mencapai 22,11 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 10,37 triliun. Frekuensi perdagangan juga cukup tinggi, yakni 1.386.675 kali transaksi.

Baca juga: Rupiah Dibuka Tertekan ke Level Rp 17.141 per Dollar AS, IHSG Justru ke Zona Hijau

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai manuver terbaru Iran yang kembali membuka komunikasi dengan AS menjadi katalis utama pasar. Setelah sebelumnya pembicaraan mengalami kebuntuan, Iran disebut kembali menghubungi AS untuk melanjutkan negosiasi secara tatap muka.

Pertemuan tersebut berpotensi digelar kembali di Islamabad atau lokasi lain, dengan peran aktif Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dalam mendorong proses perdamaian.

“Setelah sebelumnya Iran dan Amerika tidak lagi sepakat mengenai perdamaian, tiba-tiba Iran menghubungi Amerika untuk kembali berdiskusi mengenai negosiasi perdamaian pada pertemuan tatap muka berikutnya. Tempatnya mungkin sama seperti sebelumnya di Islamabad, atau juga ada kemungkinan di tempat yang lain,” ujar Nico.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa negaranya tetap terbuka terhadap dialog, meskipun tekanan terhadap Iran tetap dilakukan melalui blokade angkatan laut di Selat Hormuz.

Trump bahkan menyebut pihaknya telah dihubungi oleh pihak yang “tepat” untuk mencapai kesepakatan. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meskipun konflik belum sepenuhnya mereda.

“Apakah Amerika membuang mukanya? Tentu saja tidak. Trump dengan bangga mengatakan bahwa Amerika akan selalu terbuka untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut sembari terus melakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Iran,” paparnya.

Baca juga: IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 1,42 Persen ke Level 7.606,90

Sentimen tersebut langsung tercermin pada penguatan signifikan indeks saham utama AS. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,63 persen, sementara S&P 500 menguat 1,02 persen dan mencapai level tertinggi sejak akhir Februari. Indeks Russell 2000 bahkan melonjak hingga 1,52 persen.

Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pasar Asia, yang diperkirakan turut bergerak menguat mengikuti sentimen global.

“Tentu hal ini memberikan indikasi pergerakan yang cukup terkonfirmasi bagi kawasan Asia untuk ikut menguat pagi ini,” paparnya.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,29 persen juga mencerminkan meredanya tekanan di pasar keuangan, meskipun yield obligasi di Eropa seperti Jerman dan Inggris masih mengalami kenaikan.

“Begitupun dengan berbagai imbal hasil obligasi yang mengalami penurunan, seperti US Treasury 10 tahun yang turun ke level 4,29 persen, namun imbal hasil obligasi Jerman dan Inggris masih mengalami kenaikkan,” beber Nico.

Meski demikian, Nico mengingatkan volatilitas pasar masih tinggi. Perkembangan negosiasi AS-Iran akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting sepanjang pekan ini. Dari AS, inflasi produsen (PPI) diproyeksikan meningkat, yang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Selain itu, laporan Fed Beige Book yang akan dirilis pada 16 April 2026 juga menjadi perhatian untuk melihat kondisi ekonomi terkini.

Data ketenagakerjaan seperti Initial Jobless Claims diperkirakan menurun, sementara Continuing Claims berpotensi meningkat. Sementara, penjualan ritel AS diproyeksikan menguat, sejalan dengan tren belanja konsumen yang masih solid.

Dari kawasan Eropa, investor akan mencermati data produksi industri serta inflasi yang diperkirakan stabil di level 2,5 persen secara tahunan. Adapun dari Tiongkok, data ekspor dan impor diproyeksikan melemah, meskipun neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.

Fokus utama juga tertuju pada rilis produk domestik bruto (PDB) China kuartal I-2026 yang diperkirakan tumbuh di kisaran 4,7–4,9 persen secara tahunan, meningkat dari periode sebelumnya sebesar 4,5 persen. Selain itu, data penjualan ritel dan produksi industri juga akan menjadi indikator penting bagi kekuatan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Sementara dari Jepang, data yang dinantikan relatif terbatas, yakni produksi industri dan indeks sektor jasa yang diproyeksikan menunjukkan peningkatan.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Nico menilai kondisi pasar yang relatif kondusif berpotensi mendorong penguatan pasar saham dan obligasi dalam jangka pendek, meskipun investor tetap perlu mencermati risiko global yang masih membayangi.

Di sisi domestik, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan untuk mendorong pelaku usaha rokok ilegal masuk ke sistem resmi melalui pembayaran cukai, yang ditargetkan mulai berlaku paling lambat Mei 2026. Kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk melegalkan praktik ilegal, melainkan memperluas basis penerimaan negara sekaligus menekan peredaran rokok ilegal.

Pemerintah juga memberikan masa transisi bagi pelaku usaha, namun tetap akan menindak tegas pihak yang tidak mematuhi ketentuan. Untuk menjaga efektivitas kebijakan, tarif cukai dan harga jual eceran rokok tidak akan dinaikkan pada 2026 guna mengurangi disparitas harga antara rokok legal dan ilegal.

Menurut Nico, langkah tersebut mencerminkan pendekatan pragmatis pemerintah dalam mengonversi pelaku usaha ilegal ke sistem formal. Meski berpotensi meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah, efektivitas kebijakan sangat bergantung pada tingkat partisipasi pelaku usaha serta konsistensi penegakan hukum.

Ia mengingatkan, tanpa pengawasan yang ketat, kebijakan ini berisiko menimbulkan moral hazard dan justru merugikan pelaku usaha yang selama ini telah patuh terhadap regulasi.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #ihsg #melonjak #persen #pagi #saja #daya #dorongnya

KOMENTAR