FAO: Konflik Timur Tengah Dorong Harga Pangan Dunia Naik
Sejumlah harga bahan kebutuhan pokok di Kalimantan Timur diproyeksi mengalami kenaikan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. Selasa (17/3/2026)(Pandawa Borniat/kompas.com)
09:20
14 April 2026

FAO: Konflik Timur Tengah Dorong Harga Pangan Dunia Naik

Kenaikan harga pangan global kembali terjadi pada Maret 2026 setelah sempat mengalami tren penurunan dalam beberapa bulan sebelumnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat, lonjakan ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, yang mulai merembet ke rantai pasok pangan global.

Mengacu pada laporan terbaru FAO, dikutip pada Selasa (14/4/2026), Food Price Index (FFPI), yang merupakan indikator yang mengukur perubahan bulanan harga komoditas pangan global, mengalami kenaikan untuk bulan kedua berturut-turut.

Baca juga: Mentan Amran Minta Importir Punya Empati untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan

Daftar harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional berdasarkan data PIHPS.Kompas.com/Priska Birahy Daftar harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional berdasarkan data PIHPS.

Indeks ini mencerminkan pergerakan harga lima kelompok komoditas utama, yakni serealia, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula.

Pada Maret 2026, indeks harga pangan global tercatat mencapai 128,5 poin, naik 2,4 persen dibandingkan Februari. Kenaikan ini terjadi di hampir seluruh kelompok komoditas, meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda.

FAO menegaskan, kenaikan tersebut tidak hanya mencerminkan kondisi fundamental pasar, tetapi juga dampak langsung dari lonjakan biaya energi yang dipicu konflik geopolitik.

Kenaikan harga sejak konflik dimulai relatif kecil, terutama didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi dan diimbangi oleh pasokan sereal global yang melimpah,” kata Kepala Ekonom FAO Maximo Torero.

Baca juga: Harga Pangan Dunia Naik Imbas Perang Timur Tengah

Namun demikian, ia juga memperingatkan bahwa tekanan biaya input dapat meningkat jika konflik berlangsung lebih lama.

Kenaikan harga dipimpin minyak nabati dan gula

Ilustrasi gula pasir. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO Ilustrasi gula pasir. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.

Kenaikan harga pangan global pada Maret 2026 terutama didorong oleh lonjakan harga minyak nabati dan gula, yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.

FAO mencatat, indeks harga minyak nabati naik 5,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya, melanjutkan tren kenaikan selama tiga bulan berturut-turut. 

Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.

Baca juga: Lonjakan Harga Pangan di Magetan Berlanjut hingga Hari Keempat Lebaran

Dikutip dari Nation Thailand, harga minyak sawit bahkan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kondisi ini tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah yang mendorong permintaan terhadap bahan baku biofuel.

Sementara itu, harga gula mencatat kenaikan paling tajam, yakni sebesar 7,2 persen secara bulanan.

FAO menyebut kenaikan ini terkait dengan ekspektasi bahwa Brasil akan lebih banyak mengalokasikan tebu untuk produksi etanol, seiring meningkatnya harga energi global.

Kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah, menjadi faktor kunci yang menghubungkan pasar energi dan pangan.

Baca juga: Bapanas Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Lebaran, Stok Dipastikan Cukup

Dalam kondisi harga minyak tinggi, penggunaan komoditas pertanian untuk energi alternatif meningkat, sehingga mengurangi pasokan untuk konsumsi pangan.

Harga serealia dan daging ikut naik, berbeda dengan beras

Selain minyak nabati dan gula, harga sereal juga mengalami kenaikan. Indeks harga sereal FAO naik 1,5 persen pada Maret 2026 dibandingkan Februari 2026. Kenaikan ini didorong oleh naiknya harga gandum global sebesar 4,3 persen.

FAO menjelaskan, kenaikan harga gandum dipicu oleh memburuknya kondisi tanaman di Amerika Serikat (AS) akibat kekeringan, serta ekspektasi penurunan luas tanam di Australia karena biaya pupuk yang meningkat.

Ilustrasi beras.  PIXABAY/MOHD SYAHIDEEN OSMAN Ilustrasi beras.

Di sisi lain, harga beras justru mengalami penurunan sekitar 3 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh tekanan musim panen, melemahnya permintaan impor, serta pergerakan nilai tukar terhadap dollar AS.

Baca juga: Ketergantungan Pasokan dari Luar Picu Kenaikan Harga Pangan di Kaltim Jelang Lebaran

Untuk komoditas daging, indeks harga meningkat sekitar 1 persen secara bulanan. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga daging babi di Uni Eropa serta meningkatnya harga daging sapi di beberapa negara produsen utama.

Adapun harga produk susu juga mengalami kenaikan moderat, sekitar 1,2 persen, didorong oleh permintaan global dan pasokan yang terbatas di beberapa wilayah produsen.

Peran konflik di Timur Tengah dalam lonjakan harga pangan

FAO menekankan, faktor utama di balik kenaikan harga pangan global adalah meningkatnya biaya energi yang berkaitan erat dengan konflik di Timur Tengah.

Konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang kemudian berdampak pada biaya produksi dan distribusi pangan. Selain itu, gangguan pada jalur perdagangan utama, seperti Selat Hormuz, turut memperburuk situasi.

Baca juga: Efek Berantai Rupiah Dekati Rp 17.000, Potensi Naiknya Bunga Kredit hingga Harga Pangan

Menurut UN Trade and Development (UNCTAD), kenaikan harga energi berdampak langsung pada berbagai komponen biaya dalam sistem pangan, mulai dari pupuk, transportasi, hingga pengolahan.

Dikutip dari Reuters, laporan lain juga menunjukkan bahwa gangguan pasokan pupuk akibat konflik berpotensi meningkatkan harga pangan dalam jangka lebih panjang.

Tekanan biaya ini dapat memaksa petani untuk mengurangi penggunaan input seperti pupuk atau bahkan menurunkan luas tanam. Kondisi tersebut berisiko mempengaruhi produksi pangan di masa mendatang.

FAO memperingatkan bahwa jika konflik berlangsung lebih dari 40 hari, dampaknya terhadap sektor pertanian dapat semakin signifikan.

Harga pangan meningkat menjelang Lebaran di Pasar Senen, pembeli sepiRachel Farahdiba R Harga pangan meningkat menjelang Lebaran di Pasar Senen, pembeli sepi

Baca juga: Amran Sebut Harga Pangan Stabil: Stok Tinggi, Permintaan Tinggi

“Para petani harus memilih: bertani dengan cara yang sama tetapi dengan input yang lebih sedikit, menanam lebih sedikit, atau beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk,” ujar Torero.

Kenaikan masih moderat, ditahan pasokan global

Meski harga pangan global meningkat, FAO menilai kenaikan saat ini masih relatif moderat. Salah satu faktor penahan adalah ketersediaan pasokan sereal global yang cukup besar.

Reuters mewartakan, produksi serealia global bahkan diperkirakan mencapai rekor baru, yang membantu meredam tekanan harga di pasar internasional.

Selain itu, meskipun indeks harga pangan meningkat secara bulanan, levelnya masih berada di bawah puncak yang terjadi pada 2022 saat konflik Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga global.

Baca juga: Indef: Inflasi Tahunan Februari 2026 4,76 Persen, Harga Pangan Jelang Ramadan Jadi Pemicu

Data FAO menunjukkan bahwa indeks harga pangan Maret 2026 masih sekitar 20 persen di bawah level tertinggi pada Maret 2022.

Namun demikian, tekanan dari sisi energi dan logistik tetap menjadi risiko utama yang dapat mengubah arah harga dalam waktu singkat.

Risiko berlanjut jika konflik berkepanjangan

Kondisi saat ini mencerminkan keterkaitan erat antara pasar energi dan pangan global. Kenaikan harga energi tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga mempengaruhi pola permintaan terhadap komoditas pertanian.

Sejumlah lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, telah memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memperburuk inflasi pangan dan meningkatkan risiko ketahanan pangan global.

Baca juga: Awasi Tengkulak, Banyuwangi Pastikan Harga Pangan Tetap Terkendali

Gangguan pada pasokan energi dan pupuk, serta meningkatnya biaya logistik, berpotensi menciptakan tekanan harga yang lebih luas, terutama bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor pangan.

Di sisi lain, dinamika geopolitik juga mempengaruhi ekspektasi pasar. Ketidakpastian terkait durasi konflik dan stabilitas pasokan energi membuat pelaku pasar cenderung mengantisipasi kenaikan harga lebih lanjut.

FAO sendiri menekankan bahwa perkembangan dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi penentu penting bagi arah harga pangan global sepanjang tahun ini.

Tag:  #konflik #timur #tengah #dorong #harga #pangan #dunia #naik

KOMENTAR