Nada Kompak Purbaya, Rosan hingga Airlangga soal Ekonomi RI di Tengah Tekanan Global
- Sejumlah menteri ekonomi kompak menyampaikan optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional, meski di saat yang sama mengakui adanya tekanan global yang mulai menahan laju investasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid, namun dinamika geopolitik membuat dunia usaha lebih berhati-hati.
Pertama datang dari, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, indikator utama ekonomi Indonesia masih berada dalam batas aman, mulai dari rasio utang hingga defisit anggaran.
“Kalau kita lihat dari rasio utang PDB, kita aman. Kita lihat dari defisit ke PDB, kita aman. Pertumbuhan, kita aman. Bahkan kita tertinggi kan di G20. tumbuhnya 5,11 persen tahun lalu,” ujar Purbaya di Kementerian Keuangan pada Jumat (6/3/2026).
Baca juga: ADB: Guncangan Energi dan Perdagangan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia
Ia bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 dapat mencapai 5,5 hingga 6 persen.
Di tengah kekhawatiran konflik Iran yang berpotensi mendorong harga minyak dunia, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario. Dalam simulasi terburuk, harga minyak diperkirakan bisa menyentuh 92 dolar AS per barel.
Namun, pemerintah belum melihat urgensi untuk mengubah asumsi APBN 2026 karena lonjakan harga dinilai bersifat sementara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, usai menghadiri forum “Indonesia–Korea Partnership for Resilient Growth” di Seoul, Rabu (1/4/2026).Di sisi lain, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengakui adanya perlambatan laju investasi pada awal tahun ini.
Realisasi investasi pada kuartal I 2026 diperkirakan mencapai Rp 497 triliun atau tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 15,6 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Meski melambat, Rosan menegaskan minat investor terhadap Indonesia tetap terjaga, didukung stabilitas politik dan kebijakan luar negeri yang terbuka.
"Memang walaupun di tengah tantangan meningkatnya geopolitik maupun ekonomi akhir-akhir ini, tetapi justru kita melihat bahwa ini kesempatan juga selalu terbuka karena Indonesia adalah negara yang diterima oleh semua negara," ujar Rosan dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Pemerintah, lanjutnya, terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan dan peningkatan kepastian regulasi.
Minat Investor ke RI Masih Kuat
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (13/4/2026).Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai perlambatan investasi tidak lepas dari kondisi global yang belum stabil akibat konflik geopolitik.
Menurut dia, situasi tersebut membuat investor global cenderung menahan ekspansi dan melakukan evaluasi terhadap rencana bisnis.
"Tentu dalam situasi perang kan bukan situasi yang normal. Semua masih melakukan evaluasi," ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/4/2026).
Airlangga memastikan minat investor terhadap Indonesia masih cukup kuat. Hal itu terlihat dari respons positif dalam berbagai kunjungan kerja pemerintah ke luar negeri.
"Bagi pemerintah, dalam kunjungan ke Inggris, Korea, dan Jepang, respons dari investornya positif. Jadi kita lihat (perkembangannya)," katanya.
Baca juga: Menguji Optimisme Purbaya soal Ekonomi Indonesia
Meski dibayangi sentimen global, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tetap memiliki daya pikat tinggi di mata pemodal internasional.
Optimisme ini merujuk pada respons positif para investor saat kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Inggris, Korea Selatan, dan Jepang beberapa waktu lalu.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah melihat ekonomi domestik masih memiliki daya tahan, meski tekanan eksternal diperkirakan tetap membayangi kinerja investasi dalam jangka pendek.
Baca juga: Ekonomi Indonesia Tahan Banting atau Sekadar Bertahan?
Tag: #nada #kompak #purbaya #rosan #hingga #airlangga #soal #ekonomi #tengah #tekanan #global