Jurus Purbaya Jaga APBN: BBM Ditahan, Subsidi Bisa Tembus Rp 100 T
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media, di Wisma Danantara, Rabu (1/4/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)
07:47
3 April 2026

Jurus Purbaya Jaga APBN: BBM Ditahan, Subsidi Bisa Tembus Rp 100 T

- Pemerintah memilih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan global, sembari menyiapkan serangkaian langkah untuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk membuka ruang tambahan subsidi hingga Rp 100 triliun.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, keputusan tidak menaikkan harga BBM tetap diimbangi dengan strategi menjaga keseimbangan fiskal agar tidak membebani keuangan negara.

“Kita lakukan efisiensi di belanja, kemudian optimalisasi penerimaan, dan memastikan program prioritas tetap berjalan,” ujar Purbaya di Kantor Pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Salah satu jurus utama yang disiapkan adalah pengendalian belanja negara, khususnya pada pos-pos yang dinilai kurang produktif.

Pemerintah akan memprioritaskan anggaran untuk program yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan perlindungan sosial.

Selain itu, optimalisasi penerimaan negara juga menjadi fokus. Pemerintah akan memperkuat kinerja perpajakan melalui reformasi administrasi, termasuk pemanfaatan sistem digital seperti Coretax DJP untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Baca juga: BBM Tak Naik, Purbaya Tambah Anggaran Subsidi BBM hingga Rp 100 Triliun

Jaga defisit

Langkah lain yang ditempuh adalah menjaga defisit anggaran tetap terkendali sesuai target yang telah ditetapkan dalam APBN yaitu tak lebih dari 3 persen.

“Ini sudah kami hitung semua. Bahkan dengan rata-rata 100 dollar AS per barrel pun, kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen, sekitar 2,9 persen. Jadi tidak masalah,” kata Purbaya kepada awak media, di Wisma Danantara, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Purbaya Kunci Defisit APBN 2026 di 2,9 Persen Meski Harga Energi Naik

Tambah anggaran hingga Rp 100 T

Di sisi energi, meski harga BBM tidak dinaikkan, pemerintah akan mengelola subsidi secara lebih tepat sasaran agar tidak membebani anggaran secara berlebihan.

Evaluasi berkala terhadap asumsi harga minyak dunia dan nilai tukar juga terus dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko.

Bahkan bendahara negara ini memutuskan untuk menambah anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun.

“Rp 90-100 triliun, itu subsidi, kompensasi lain lagi. Nanti kita hitung lagi, angka pastinya saya lupa,” kata Purbaya kepada awak media, di Wisma Danantara, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Purbaya: Kalau Kepepet, Pemerintah Punya SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN

Namun, ia menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan akan dihitung kembali. Selain itu, tambahan anggaran tersebut baru mencakup komponen subsidi, belum termasuk kompensasi.

Bahkan, menurut dia, pemerintah masih mampu menjaga harga BBM domestik tetap stabil meski harga minyak global berada di kisaran tinggi.

Ia menjelaskan, dengan asumsi harga minyak dunia rata-rata mencapai 100 dollar AS per barel sepanjang tahun, kondisi fiskal Indonesia masih relatif aman. Apalagi, harga minyak saat ini masih berada di bawah asumsi tersebut.

Baca juga: Harga BBM Tak Naik, Purbaya: Pertamina Tanggung Sementara

Pakai SAL Rp 420 Triliun untuk Jaga APBN

Dalam menghadapi gejolak konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir.

Pemerintah, kata dia, masih memiliki bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai Rp 420 triliun.

Meski demikian, ia menegaskan penggunaan SAL hanya akan dilakukan dalam kondisi yang sangat mendesak.

“Terpakai kalau kepepet banget,” kata Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Sejauh ini, pemerintah belum menggunakan SAL untuk menutup tambahan kebutuhan anggaran, termasuk untuk menjaga stabilitas harga energi seperti bahan bakar minyak (BBM).

Tag:  #jurus #purbaya #jaga #apbn #ditahan #subsidi #bisa #tembus

KOMENTAR