OECD: Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, Inflasi 2026 Diprediksi Naik
Ilustrasi inflasi. (SHUTTERSTOCK/LIGHTSPRING)
17:44
30 Maret 2026

OECD: Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, Inflasi 2026 Diprediksi Naik

- Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperingatkan tekanan terhadap ekonomi global mulai meningkat. Sumber tekanan berasal dari konflik yang memanas di Timur Tengah.

Laporan OECD Economic Outlook Interim Report edisi Maret 2026 bertajuk Testing Resilience menyoroti gangguan distribusi energi global. Risiko utama muncul dari potensi terganggunya jalur pengiriman di Selat Hormuz.

“Lonjakan harga energi dan gangguan pasokan komoditas akan meningkatkan biaya bisnis dan mendorong inflasi konsumen, dengan konsekuensi negatif terhadap pertumbuhan,” tulis OECD dalam laporan tersebut, dikutip Senin (30/3/2026).

Baca juga: Masuk Tinjauan Teknis, Proses RI Jadi Anggota OECD Makin Dekat?

OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat ke 2,9 persen pada 2026. Angka ini sedikit naik ke 3,0 persen pada 2027.

Perlambatan terjadi meski ekonomi global sebelumnya cukup kuat. Investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta kondisi fiskal dan keuangan sempat menopang pertumbuhan.

Kenaikan harga energi menjadi faktor utama tekanan. Biaya produksi meningkat dan daya beli melemah.

Dampaknya meluas ke permintaan global. Aktivitas ekonomi ikut tertekan.

Dari sisi harga, inflasi negara G20 diproyeksikan mencapai 4,0 persen pada 2026. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Inflasi diperkirakan turun ke 2,7 persen pada 2027. Tekanan harga masih didorong lonjakan energi yang merambat ke pangan dan biaya produksi.

OECD juga mencatat ekspektasi inflasi jangka menengah mulai meningkat di sejumlah negara besar. Kondisi ini mencerminkan tekanan harga belum mereda.

Baca juga: OECD Sebut Eropa “Jealous” Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Rata-rata 4,7 Persen

Arah ekonomi global sangat bergantung pada perkembangan konflik. Gangguan pasokan energi yang berkepanjangan akan memperbesar dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan.

Volatilitas pasar keuangan ikut meningkat. Tekanan terlihat lebih kuat di kawasan Asia, meski kondisi global masih relatif longgar.

OECD menilai bank sentral perlu menjaga stabilitas inflasi. Kebijakan moneter di berbagai negara mulai berbeda arah.

Sejumlah negara mempertahankan suku bunga tinggi. Negara lain mulai mempertimbangkan pelonggaran.

Dari sisi fiskal, pemerintah diminta memberi bantuan yang tepat sasaran. Kebijakan harus menjaga daya beli tanpa memperburuk kondisi keuangan negara.

OECD juga melihat potensi dari investasi kecerdasan buatan. Sektor ini dinilai dapat mendorong produktivitas dalam jangka menengah.

Pelonggaran hambatan perdagangan juga dinilai membantu pertumbuhan. OECD mengingatkan risiko kebijakan proteksionis.

Pembatasan ekspor berpotensi memperburuk krisis pasokan global. Kebijakan semacam ini dapat memperdalam tekanan ekonomi.

Ketahanan ekonomi global dinilai akan diuji sepanjang 2026. Tekanan datang dari kombinasi geopolitik, inflasi, dan perlambatan pertumbuhan.

Tag:  #oecd #konflik #timur #tengah #tekan #ekonomi #global #inflasi #2026 #diprediksi #naik

KOMENTAR