Bos Migas Dunia Wanti-wanti Krisis Energi Global akibat Perang Iran
– Para CEO perusahaan minyak dan gas terbesar dunia memperingatkan dampak perang Iran terhadap pasokan energi global jauh lebih besar dari yang tercermin di pasar saat ini.
Gangguan ini dinilai berpotensi menahan harga tetap tinggi dan memicu krisis pasokan bahan bakar lintas kawasan.
Peringatan tersebut disampaikan dalam konferensi energi tahunan CERAWeek yang digelar S&P Global di Houston, Amerika Serikat (AS), Kamis (25/3/2026) lalu.
Para eksekutif menyebut, pasar belum sepenuhnya menangkap skala gangguan pasokan minyak dan gas akibat konflik tersebut.
Dikutip dari CNBC, Minggu (29/3/2026), CEO ConocoPhillips Ryan Lance mengatakan, dunia tidak bisa kehilangan 8–10 juta barel minyak per hari serta sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) tanpa konsekuensi besar terhadap perekonomian global.
Baca juga: Kampus AS di Teluk Terancam Dibombardir Iran, Balasan atas Serangan Amerika-Israel
Menurut CEO Kuwait Petroleum Corporation Sheikh Nawaf Al-Sabah, Iran secara efektif melakukan blokade ekonomi terhadap produsen minyak Timur Tengah dengan menutup Selat Hormuz, jalur vital ekspor energi dari kawasan Teluk ke pasar global.
Ia menilai, dampak konflik tidak hanya terbatas di kawasan, tetapi menjalar ke seluruh rantai pasok global dan berpotensi menimbulkan efek domino bagi ekonomi dunia.
Analis independen Paul Sankey menyebut guncangan ini sebagai yang terburuk sejak embargo minyak Arab pada 1973.
Ia menilai situasi saat ini sangat serius karena untuk pertama kalinya Selat Hormuz benar-benar tertutup dan berada dalam kendali Iran.
Kapal kargo Mayuree Naree dari Thailand yang diserang di Selat Hormuz Iran, terbakar pada 11 Maret 2026. Selat Hormuz ditutup imbas dari perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Aset Energi Terancam, Industri Minta Perlindungan
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Energi Chris Wright menilai gangguan ini bersifat jangka pendek.
Namun, pelaku industri menilai risikonya jauh lebih besar, terutama karena aset energi kini rentan terhadap serangan.
ConocoPhillips bahkan meminta perlindungan militer AS untuk asetnya di Qatar, menyusul serangan drone yang memaksa penutupan fasilitas LNG terbesar dunia di negara tersebut.
Perusahaan juga telah mengevakuasi sebagian staf non-esensial dalam beberapa pekan terakhir.
Harga Minyak Diprediksi Tetap Tinggi
Di sisi harga, pasar minyak menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang pekan. Harga minyak sempat turun saat muncul harapan negosiasi damai, namun kembali naik ketika tensi meningkat.
Pada akhir pekan, harga minyak mentah AS tercatat naik 49 persen menjadi 99,64 dollar AS per barel sejak serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Baca juga: 8 Negara yang Kapalnya Sudah Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Mana Saja?
Sementara itu, harga Brent melonjak lebih dari 55 persen menjadi 112,57 dollar AS per barel, level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
CEO Shell Wael Sawan menekankan bahwa yang paling penting bukan sekadar harga, melainkan aliran fisik energi yang dibutuhkan konsumen.
Senada, CEO Chevron Mike Wirth menilai pasokan riil jauh lebih ketat dibandingkan yang tercermin di pasar berjangka.
Menurut Al-Sabah, negara-negara Teluk membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk memulihkan produksi secara penuh setelah penutupan Selat Hormuz memaksa penghentian sejumlah sumur minyak.
CEO ConocoPhillips memperkirakan batas bawah harga minyak akan naik, sehingga kecil kemungkinan harga kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat.
Ilustrasi Selat Hormuz.
Krisis BBM Meluas
Di sisi lain, perusahaan LNG Cheniere Energy berupaya memenuhi lonjakan permintaan dari Asia. Namun, kapasitas produksi sudah berada di level maksimum, sementara distribusi ke Asia memerlukan waktu hingga 28 hari dari Teluk AS.
Gangguan terbesar justru terjadi pada bahan bakar. CEO Shell menyebut pasokan bahan bakar jet sudah terdampak, diikuti diesel dan bensin. Krisis ini memicu gelombang kekurangan pasokan di Asia dan diperkirakan menjalar ke Eropa pada April.
Baca juga: Susul Malaysia, 20 Kapal Pakistan Kini Diizinkan Iran Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana Caranya?
CEO TotalEnergies Patrick Pouyanné mengungkapkan harga bahan bakar jet melonjak hingga 200 dollar AS per barel dan diesel naik 160 dollar AS per barel. China bahkan melarang ekspor produk minyak, sementara Thailand mulai melakukan pembatasan distribusi bensin.
Ia menilai krisis ini mulai langsung dirasakan oleh konsumen dan sangat bergantung pada durasi konflik.
Risiko Eskalasi dan Dampak Ekonomi Global
Dari sisi geopolitik, pakar Iran dari Johns Hopkins University Vali Nasr menilai risiko eskalasi konflik masih tinggi.
Iran disebut menginginkan kesepakatan besar yang mencakup kendali atas Selat Hormuz, kompensasi ekonomi, dan jaminan keamanan.
Mantan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menilai konflik saat ini berada dalam kondisi buntu dan berpotensi meningkat. Ia juga meragukan kemampuan AS melindungi jalur pelayaran energi di kawasan secara penuh.
Sankey memperingatkan dampak ekonomi yang lebih luas, di mana negara-negara Teluk seperti Irak, Qatar, Uni Emirat Arab, dan kemungkinan Arab Saudi berisiko mengalami penurunan produk domestik bruto hingga 30 persen.
Tag: #migas #dunia #wanti #wanti #krisis #energi #global #akibat #perang #iran