Wall Street Melemah Saat Perang Iran Memanas, Harga Minyak Kembali Melonjak
- Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) kompak melemah pada perdagangan Selasa (24/3/2026), seiring kembali naiknya harga minyak mentah dan berlanjutnya konflik Iran yang kini memasuki pekan keempat.
Mengutip CNBC pada Rabu (25/3/2026), indeks S&P 500 turun 0,37 persen dan ditutup di level 6.556,37, setelah sempat menguat tajam pada sesi sebelumnya. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 84,41 poin atau 0,18 persen ke posisi 46.124,06, dan Nasdaq Composite melemah 0,84 persen ke 21.761,89.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa mengatakan bahwa negaranya saat ini sedang “dalam proses negosiasi” dengan Iran. Ia juga yakin pihak Iran memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Usai Iran Bantah Pembicaraan dengan AS
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump mengatakan dalam unggahan di Truth Social pada Senin bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif terkait penyelesaian penuh konflik di Timur Tengah.
Unggahan itu sempat mendorong indeks saham utama menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan hari sebelumnya. Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa tidak ada pembicaraan langsung antara kedua negara.
Ketidakpastian semakin meningkat karena Israel dan Iran dilaporkan masih saling melancarkan serangan, meskipun ada pernyataan mengenai peluang negosiasi.
Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) disebut tengah mempertimbangkan pengerahan sekitar 3.000 tentara ke kawasan Timur Tengah, meski belum ada keputusan resmi terkait pengiriman pasukan ke Iran.
Dari sisi komoditas, harga minyak kembali melanjutkan kenaikan. Minyak mentah Brent naik 4,55 persen menjadi 104,49 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,79 persen ke level 92,35 dollar AS per barrel.
Baca juga: Gejolak Global Dorong Bitcoin (BTC) Ungguli Emas dan Saham
Kenaikan harga energi itu turut mendorong sektor energi menjadi yang berkinerja terbaik di S&P 500 dengan penguatan sekitar 2 persen. Secara bulanan, sektor ini bahkan telah mencatat kenaikan lebih dari 9 persen dan menjadi satu-satunya sektor yang masih berada di zona positif.
Kepala strategi ekuitas di U.S. Bank Asset Management, Terry Sandven, mengatakan pasar saat ini bergerak dalam ketidakpastian tinggi. Menurutnya, selama belum ada kejelasan terkait konflik Iran, pergerakan pasar cenderung akan sideways dengan volatilitas yang tinggi.
“Apa yang kita lihat saat ini adalah tingkat ketidakpastian yang tinggi terkait Iran, sehingga saya menilai pasar akan bergerak sideways dengan fluktuasi yang cukup besar hingga ada kejelasan lebih lanjut,” ujar Terry Sandven.
Ia juga mengingatkan, apabila S&P 500 turun di bawah level 6.500, maka potensi pelemahan lanjutan masih terbuka.
“Jika S&P 500 ditutup di bawah level 6.500, maka kemungkinan akan terjadi pelemahan lanjutan,” paparnya.
Meski demikian, terdapat sinyal positif dari upaya diplomasi, di mana Pakistan menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara AS dan Iran.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengancam akan menyerang fasilitas listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Sebagai respons, Iran menyatakan siap menargetkan infrastruktur AS sebagai bentuk balasan.
Tag: #wall #street #melemah #saat #perang #iran #memanas #harga #minyak #kembali #melonjak