Langkah Strategis Hilirisasi, Indonesia Incar Tambang Rare Earth Gabon
- Indonesia tengah menggodok agenda hilirisasi di sektor mineral kritis dengan mengincar pengelolaan daya niobium dan logam tanah jarang (rare earth) di Republik Gabon.
Hal ini menjadi langkah strategi besar untuk mengamankan pasokan bahan baku kendaraan listrik dan energi terbarukan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral bernilai tinggi.
Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang hilirisasi mineral, PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas telah menyepakati kerja sama dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), perusahaan asal Kanada, untuk mengelola sumber daya niobium dan logam tanah jarang di Republik Gabon.
Baca juga: 20 Proyek Hilirisasi Digulirkan, Rosan: Nilai Investasi Capai 26 Miliar Dolar AS
Kemitraan tersebut difasilitasi oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Kerja sama ini digadang-gadang bakal memperkuat integrasi hulu-hilir, membangun rantai pasok rare earth, mengembangkan sumber daya, pemrosesan, dan manufaktur lanjutan.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan inisiatif tersebut merupakan bagian dari agenda hilirisasi pemerintah, sekaligus upaya penguatan rantai pasok mineral kritis, pengembangan kapabilitas, manufaktur lanjutan melalui potensi pembiayaan, dan partisipasi investasi strategis.
"Fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global,” ujar Rosan dalam keterangan pers, Selasa (17/2/2026).
“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan," paparnya.
Melalui MoU ini, kedua pihak akan mengevaluasi keterkaitan hulu-hilir, termasuk peluang menjadikan Indonesia sebagai platform pemrosesan, manufaktur, dan integrasi industri berbasis rare earth.
Kerja sama tersebut diproyeksikan mampu membangun ketahanan rantai pasok mineral kritis seperti niobium (Nb), neodymium (Nd), dan praseodymium (Pr).
Mineral-mineral ini merupakan bahan utama dalam produksi magnet permanen berkinerja tinggi, termasuk unsur tanah jarang berat seperti dysprosium dan terbium yang meningkatkan performa magnet pada suhu tinggi.
Material tersebut menjadi komponen vital dalam kendaraan listrik (electric vehicle/EV), pengembangan energi terbarukan seperti turbin angin dan infrastruktur jaringan listrik, hingga aplikasi kedirgantaraan dan pertahanan tingkat lanjut.
Baca juga: Perminas Dibentuk atas Arahan Presiden, Fokus Mineral Kritis
Kolaborasi Perminas dan Danantara
Presiden Direktur Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menyebut kolaborasi yang digodok ini membuka jalur terstruktur untuk menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai tambah di sektor hilir.
“Perminas berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir. MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang," ungkap Gilarsi.
Sebagai tindak lanjut, MoU akan membentuk Joint Working Group yang bertugas menjalankan program kerja sama.
Agenda kerja meliputi pertukaran informasi, lokakarya teknis, hingga asesmen komersial terkoordinasi.
Para pihak juga akan mengembangkan jalur pengolahan rare earth dari tahap pemisahan dan pemurnian, produksi logam dan paduan, hingga manufaktur magnet permanen, dengan target menciptakan rantai pasok terintegrasi dari tambang hingga produk akhir.
Selain jalur teknis, kedua pihak akan memulai negosiasi cepat terkait potensi pembiayaan dan investasi strategis, termasuk kemungkinan partisipasi ekuitas dan/atau utang oleh Perminas dan/atau Danantara Indonesia di tambang Maboumine serta entitas proyek terkait.
Proses ini akan didukung percepatan uji tuntas dan tetap tunduk pada persetujuan internal serta regulasi yang berlaku.
President New Energy Metals Holdings Ltd, Abduljabbar Alsayegh, menyatakan pihaknya optimistis kolaborasi dapat memperkuat dan mendiversifikasi rantai pasok rare earth global yang semakin krusial di tengah transisi energi dunia.
"Kami antusias bergabung dengan Perminas untuk memulai kolaborasi yang memperkuat dan mendiversifikasi rantai pasok rare earth global yang kritis," kata Abduljabbar Alsayegh.
Untuk diketahui, Perminas berada langsung di bawah Danantara.
CEO Danantara, Rosa Roeslani dalam penandatanganan kesepakatan kerja sama PT Perminas dengan New Energy Metalas Holdings Ltd (NEM) pada Senin (16/2/2026).Entitas ini berdiri terpisah dari Holding BUMN pertambangan Mining Industry Indonesia atau MIND ID.
Berbeda dari MIND ID, Perminas diarahkan mengelola mineral tanah jarang atau rare earth.
Komoditas tersebut masuk kategori mineral kritis dan memiliki nilai strategis tinggi.
Nama Perminas sebelumnya mencuat setelah disebut akan mengambil alih pengelolaan tambang emas Martabe di Sumatera Utara.
Tambang tersebut dikelola PT Agincourt Resources, anak usaha PT United Tractors Tbk.
Rencana pengambilalihan berkaitan dengan pencabutan izin usaha pertambangan Agincourt.
Perusahaan tersebut masuk daftar entitas yang dinilai berkontribusi terhadap bencana banjir dan longsor di Sumatera pada akhir tahun lalu.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, sebelumnya menyebut pembentukan Perminas berasal dari arahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengatakan Presiden meminta pendirian entitas khusus untuk mengelola mineral strategis nasional.
Arahan tersebut kemudian ditindaklanjuti Danantara Indonesia sebagai badan pengelola BUMN dengan membentuk Perminas.
“(Pembentukan Perminas) justru itu (arahan) dari Bapak Presiden, untuk supaya kita diharapkan bisa mengelola mineral-mineral kita, terutama mineral-mineral yang strategis. Itu maka dimintalah Danantara membentuk satu entitas,” ungkap Prasetyo saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: Danantara: Tambang Emas Martabe Milik Agincourt Bakal Diambilalih BUMN Perminas
Tag: #langkah #strategis #hilirisasi #indonesia #incar #tambang #rare #earth #gabon