Fenomena ''Loveflation'', Anak Muda Tak Ragu Berutang untuk Kencan
Ilustrasi kencan, pasangan berkencan. (PEXELS/KATERINA HOLMES)
10:12
17 Februari 2026

Fenomena ''Loveflation'', Anak Muda Tak Ragu Berutang untuk Kencan

 Tekanan ekonomi global yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya memengaruhi daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok, tetapi juga mengubah dinamika kehidupan sosial, termasuk hubungan romantis.

Fenomena yang dikenal sebagai loveflation, yakni kenaikan biaya kencan akibat inflasi, telah mendorong sebagian individu lajang menggunakan kartu kredit dan layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater untuk membiayai aktivitas kencan.

Tren ini mencerminkan perubahan dalam perilaku finansial, di mana keputusan keuangan semakin dipengaruhi oleh faktor sosial dan emosional.

Baca juga: Sering Bertengkar Soal Uang dengan Pasangan? Ini yang Perlu Dilakukan

Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).SHUTTERSTOCK/PRZEMEK KLOS Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).

Dalam beberapa kasus, penggunaan kredit untuk mendukung kehidupan sosial bahkan telah menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan citra dan meningkatkan peluang dalam hubungan romantis.

Satu dari empat orang rela berutang demi kencan

Dikutip dari Huffington Post, Selasa (17/2/2026), survei loveflation yang dilakukan oleh platform penagihan Invoice Home menemukan, satu dari empat orang di Amerika Serikat (AS) bersedia berutang kartu kredit untuk mendukung aktivitas kencan dengan seseorang yang mereka sukai. 

Temuan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian individu, pengeluaran untuk hubungan romantis dianggap sebagai investasi sosial yang layak, meskipun harus menggunakan utang.

Caleb Silver, editor-in-chief Investopedia mengatakan, keinginan untuk memberikan kesan positif sering kali memengaruhi keputusan finansial seseorang dalam konteks hubungan romantis.

Baca juga: 4 Tips Membicarakan Keuangan dengan Pasangan, Minimalkan Konflik

“Orang ingin menampilkan versi terbaik dari diri mereka saat berkencan, dan terkadang hal itu membutuhkan biaya finansial,” tuturnya.

Ilustrasi kencan pertama. FREEPIK Ilustrasi kencan pertama.

Menurut dia, individu cenderung ingin menampilkan stabilitas finansial dan kesuksesan, bahkan ketika kondisi keuangan mereka sebenarnya tidak sepenuhnya mendukung gaya hidup tersebut.

Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya biaya hidup dan tekanan sosial, yang membuat individu merasa perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk aktivitas sosial, termasuk kencan.

Sementara itu, Shannah Game, perencana keuangan bersertifikat dan penulis buku Unraveling Your Relationship with Money menyebut, kesediaan orang Amerika untuk berutang demi kencan menunjukkan betapa dalamnya kebutuhan akan rasa memiliki membentuk keputusan keuangan.

Baca juga: Catat, Tips Mulai Investasi untuk Pasangan Muda

Berkencan saat ini bisa terasa seperti pertunjukan, dan kartu kredit memudahkan untuk mendukung citra kemudahan finansial bahkan ketika itu tidak nyata, kata Game.

“Meminjam untuk mengesankan seseorang biasanya berasal dari tempat yang sangat manusiawi, tidak ada yang ingin uang menjadi alasan mereka tidak mendapatkan kencan kedua,” katanya.

“Tetapi pengeluaran dapat menciptakan rasa percaya diri dan koneksi sementara. Tantangannya adalah stres finansial cenderung berlangsung jauh lebih lama daripada kegembiraan hubungan baru," imbuh dia.

Ketergantungan generasi muda terhadap kredit

Penggunaan kartu kredit di kalangan generasi muda terus meningkat. Survei yang dilakukan Lending Tree menunjukkan, sekitar 53 persen milenial dan 41 persen Gen Z mengaku semakin bergantung pada kartu kredit dibandingkan sebelumnya.

Baca juga: Ingin Menua Bahagia Bersama Pasangan? Jangan Sepelekan 2 Hal Penting Keuangan Ini

Ketergantungan ini mencerminkan perubahan dalam peran kartu kredit, dari alat pembayaran darurat menjadi instrumen pembiayaan konsumsi sehari-hari, termasuk aktivitas sosial dan gaya hidup.

Selain itu, tekanan ekonomi juga membuat sebagian individu menggunakan kartu kredit untuk mempertahankan gaya hidup tertentu, bahkan ketika kondisi finansial mereka terbatas.

Matt Schulz, kepala analis kredit di LendingTree, mengatakan kondisi keuangan memainkan peran penting dalam hubungan romantis.

Ilustrasi pasangan.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi pasangan.

"Uang adalah salah satu sumber stres terbesar dalam hubungan," ungkap dia.

Baca juga: 4 Tips Kelola Keuangan untuk Pasangan Modern

Menurut Schulz, utang dapat menjadi sumber konflik dalam hubungan, terutama jika tidak dikelola dengan baik atau tidak dikomunikasikan secara terbuka.

Paylater jadi alternatif pembiayaan 

Selain kartu kredit, layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) atau paylater semakin populer sebagai alternatif pembiayaan konsumsi. Layanan ini memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa terlebih dahulu dan membayarnya secara cicilan.

Kemudahan akses dan proses persetujuan yang cepat membuat layanan ini semakin diminati, terutama oleh generasi muda yang memiliki akses terbatas terhadap kredit tradisional.

Namun, kemudahan ini juga membawa risiko finansial, terutama jika pengguna tidak memahami kemampuan finansial mereka.

Baca juga: Simak 4 Tips Mengelola Keuangan untuk Pasangan Baru Menikah

Schulz memperingatkan, penggunaan paylater yang tidak terkendali dapat menyebabkan masalah finansial yang serius.

"Utang bisa menjadi di luar kendali jika Anda tidak berhati-hati," ucapnya.

Menurut dia, akumulasi utang dapat terjadi secara cepat, terutama jika individu menggunakan berbagai sumber kredit secara bersamaan.

Kredit dan persepsi dalam hubungan romantis 

Kondisi keuangan seseorang juga memengaruhi cara individu menilai calon pasangan.

Baca juga: 5 Pertanyaan Keuangan yang Harus Diajukan ke Pasangan Sebelum Menikah

Survei yang dilakukan Quicken menunjukkan, sekitar 78 persen orang Amerika tidak bersedia menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki utang kartu kredit jangka pendek. 

Data ini menunjukkan, stabilitas keuanhan telah menjadi faktor penting dalam hubungan romantis modern.

Ilustrasi pasangan. Konsep love language memang membantu pasangan saling memahami, tetapi jika disalahartikan justru bisa memicu kesalahpahaman dalam hubungan.Freepik/Freepik Ilustrasi pasangan. Konsep love language memang membantu pasangan saling memahami, tetapi jika disalahartikan justru bisa memicu kesalahpahaman dalam hubungan.

Selain itu, utang tidak hanya memengaruhi kondisi finansial individu, tetapi juga persepsi sosial dan peluang dalam hubungan romantis.

Dalam beberapa kasus, individu dengan utang yang signifikan menghadapi stigma atau penilaian negatif dari calon pasangan.

Baca juga: BCA: Banyak Kasus Uang di Rekening Nasabah Raib Ternyata Ulah Pasangan

Fenomena ini mencerminkan bagaimana faktor ekonomi semakin memengaruhi dinamika sosial dan hubungan interpersonal.

Tekanan sosial dan ekspektasi gaya hidup

Media sosial dan budaya populer turut memperkuat ekspektasi gaya hidup tertentu, termasuk dalam dunia kencan.

Banyak individu merasa perlu mempertahankan citra tertentu agar dianggap menarik atau sukses.

Silver mengatakan, persepsi memainkan peran penting dalam keputusan finansial individu.

Baca juga: Penghasilan Pasangan yang Lebih Tinggi dalam Pernikahan Bisa Menimbulkan Masalah?

"Ini tentang persepsi. Orang ingin tampak stabil secara finansial, bahkan jika sebetulnya tidak," terang dia.

Menurutnya, keinginan untuk mempertahankan citra tertentu dapat mendorong individu menggunakan kredit untuk mendukung gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansial mereka.

Fenomena ini mencerminkan perubahan dalam cara individu mengelola keuangan dan hubungan sosial.

Tren payLater di Indonesia meningkat pesat

Fenomena penggunaan kredit digital juga terjadi di Indonesia, di mana layanan paylater mengalami pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: 3 Tips Mengelola Keuangan Keluarga ala Pasangan Mona Ratuliu dan Indra Brasco

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penggunaan layanan Buy Now Pay Later terus meningkat, mencerminkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan konsumsi masyarakat. Namun, OJK juga memperkuat regulasi untuk mengurangi risiko utang berlebihan.

Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).SHUTTERSTOCK/WITSARUT SAKORN Ilustrasi fasilitas pay later, buy now pay later (BNPL).

OJK mencatat, pembiayaan layanan paylater tumbuh mencapai 69,71 persen secara tahunan per Oktober 2025 menjadi Rp 10,85 triliun.

Namun angka pertumbuhan BNPL pada periode ini melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 88,65 persen.

Dalam siaran persnya, OJK menyatakan pengaturan BNPL diperkuat untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan mengantisipasi potensi risiko utang.

Baca juga: Cara Tentukan Instrumen Investasi yang Tepat untuk Pasangan yang Baru Menikah

OJK menyebut, penguatan regulasi dilakukan untuk mengantisipasi potensi terjadinya jebakan hutang (debt trap) bagi pengguna layanan BNPL. 

Selain itu, OJK menetapkan persyaratan bahwa layanan BNPL hanya dapat diberikan kepada nasabah dengan usia minimal 18 tahun atau telah menikah, serta memiliki penghasilan minimal Rp 3 juta per bulan. 

Kebijakan ini bertujuan memastikan pengguna memiliki kemampuan finansial untuk memenuhi kewajiban pembayaran.

Risiko kredit digital bagi generasi muda

Peningkatan penggunaan kredit digital, termasuk paylater, juga meningkatkan risiko kredit bermasalah, terutama di kalangan generasi muda.

Baca juga: Hindari Perceraian Dini, Simak 5 Tips Kelola Keuangan bagi Pasangan Milenial

Kemudahan akses dan proses persetujuan yang cepat membuat kredit digital semakin mudah digunakan, tetapi juga meningkatkan risiko penggunaan yang tidak terkendali.

Para ahli keuangan memperingatkan, penggunaan kredit untuk konsumsi non-esensial dapat meningkatkan risiko finansial, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang.

Utang kartu kredit dan paylater dapat berkembang dengan cepat karena bunga dan biaya tambahan. Selain itu, akumulasi berbagai cicilan dapat menjadi beban finansial yang signifikan.

Transparansi keuangan jadi faktor penting dalam hubungan 

Ilustrasi pasangan.Dok. Unsplash/Tuyen Vo Ilustrasi pasangan.

Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya stabilitas finansial, transparansi keuangan menjadi semakin penting dalam hubungan romantis.

Baca juga: Cek, Penghasilan Tak Kena Pajak untuk Orang Lajang dan Pasangan Cerai

Banyak individu kini mempertimbangkan kondisi keuangan calon pasangan sebagai faktor penting dalam hubungan jangka panjang.

Para ahli hubungan menyatakan bahwa komunikasi terbuka tentang keuangan dapat membantu membangun kepercayaan dan mengurangi konflik.

Namun, utang yang signifikan juga dapat menjadi sumber stres dan ketegangan dalam hubungan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana keputusan finansial individu dapat memengaruhi kehidupan sosial dan emosional mereka.

Baca juga: Buka Bisnis Bareng Pasangan? Simak Tips dari Bos Burgreens and Green Rebel Ini

Kredit digital mengubah perilaku finansial dan sosial

Pertumbuhan layanan kredit digital, termasuk kartu kredit dan paylater, mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat mengelola keuangan.

Kemudahan akses terhadap kredit telah mengubah perilaku konsumsi dan hubungan sosial.

Kredit tidak lagi hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga untuk mendukung gaya hidup dan aktivitas sosial.

Fenomena loveflation menunjukkan bagaimana faktor ekonomi, sosial, dan teknologi saling berinteraksi dalam membentuk perilaku finansial masyarakat modern.

Baca juga: Membagi Biaya Pernikahan dengan Pasangan, Bagaimana Caranya?

Penggunaan kartu kredit dan paylater untuk mendukung kehidupan sosial mencerminkan perubahan dalam prioritas dan nilai generasi muda.

Namun, penggunaan kredit juga meningkatkan pentingnya literasi keuangan dan pengelolaan utang.

Data dan survei menunjukkan, utang telah menjadi faktor penting dalam hubungan romantis modern, memengaruhi persepsi sosial, stabilitas hubungan, dan kondisi finansial individu.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana keputusan finansial individu semakin terkait dengan dinamika sosial dan hubungan interpersonal di era ekonomi digital.

Tag:  #fenomena #loveflation #anak #muda #ragu #berutang #untuk #kencan

KOMENTAR