Goldman Sachs Turunkan Rekomendasi Saham RI, IHSG Tertekan
IHSG hari ini. Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif.()
10:36
29 Januari 2026

Goldman Sachs Turunkan Rekomendasi Saham RI, IHSG Tertekan

– Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif.

Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight.

Analis Goldman menilai peringatan MSCI akan menjadi sentimen negatif yang membebani kinerja pasar saham Indonesia ke depan.

“Kami memperkirakan aksi jual pasif masih akan berlanjut dan perkembangan ini menjadi hambatan bagi pergerakan pasar,” tulis Goldman Sachs dalam risetnya, dikutip dari Reuters, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei

Peringatan MSCI dan Tekanan Pasar

Sehari sebelumnya, MSCI membekukan pembaruan sejumlah saham Indonesia dalam produk indeksnya guna meredam risiko yang disebut sebagai investability risk.

MSCI juga memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier apabila persoalan tersebut tidak segera diselesaikan.

Sentimen negatif tersebut langsung memukul pasar saham domestik. IHSG ambruk 7,35 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026), mencatat penurunan harian terdalam sejak April 2025.

Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia dapat mencapai 2,2 miliar dollar AS hingga 7,8 miliar dollar AS setelah penilaian MSCI tersebut.

Tekanan jual asing juga telah terjadi sejak tahun lalu. Sepanjang 2025, investor asing mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia sebesar Rp 13,96 triliun, menjadi arus keluar terbesar sejak 2020.

Baca juga: MSCI Bikin IHSG Anjlok, Rosan: Harus Segera Ditindaklanjuti, Ini Masalah Transparansi dan Akuntabilitas

Sejalan dengan itu, Goldman Sachs menilai tekanan jual pasif oleh investor global masih akan berlanjut. Penilaian tersebut sejalan dengan pandangan MSCI yang melihat pasar saham Indonesia menghadapi persoalan struktural, khususnya terkait kepemilikan saham dan tingkat free float.

“Kami memperkirakan akan ada lanjutan passive selling dan menilai perkembangan ini akan menjadi overhang yang menahan kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, dikutip dari Business Times, Kamis (29/1/2026).

IHSG Anjlok dan Trading Halt

Tekanan jual tersebut berlanjut pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan saham atau trading halt setelah IHSG anjlok tajam hingga menyentuh ambang batas penurunan harian sebesar 8 persen.

Sejak awal perdagangan, IHSG merosot 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66. Berdasarkan data BEI, IHSG dibuka di posisi 8.027,83, namun aksi jual langsung mendominasi pasar dan menyeret indeks menembus level psikologis 8.000.

Pelemahan berlanjut hingga menyentuh level terendah harian di 7.654,66, sementara posisi tertinggi IHSG hari itu hanya tercatat di level 8.049,10 sebelum kembali tertekan.

Baca juga: Bos BEI Bantah Tolak Free Float MSCI: Kami Justru Membantu...

Volatilitas ekstrem tersebut mendorong otoritas bursa menerapkan mekanisme trading halt sesuai ketentuan guna meredam kepanikan pasar.

Tekanan di pasar saham berlangsung luas dan merata. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 694 saham melemah, 34 saham menguat, dan 230 saham stagnan.

Di tengah penurunan tajam indeks, aktivitas perdagangan justru meningkat. Volume transaksi tercatat mencapai 13,08 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 10,99 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 863.333 kali.

Derasnya tekanan jual turut menggerus kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menjadi Rp 13.846,41 triliun.

Dialog BEI dan MSCI soal Free Float

Di tengah tekanan pasar yang berlanjut, otoritas bursa berupaya merespons kekhawatiran investor melalui dialog dengan MSCI.

PT Bursa Efek Indonesia menargetkan pembahasan terkait metodologi perhitungan free float saham di Indonesia dapat diselesaikan sebelum Mei 2026.

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan proses dialog dengan MSCI masih berlangsung intens dan bersifat dinamis. Menurut dia, sejak awal BEI belum sepenuhnya mengetahui detail ekspektasi MSCI sehingga diskusi terus berkembang.

Baca juga: Efek Pengumuman MSCI ke Kinerja IHSG, Berdampak Panjang?

“Kan saya bilang di awal, kita sebenarnya di awal tidak tahu apa yang real yang dia (MSCI) inginkan, itu mungkin diskusinya,” ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Iman menegaskan BEI tidak berada pada posisi menciptakan atau memodifikasi data kepemilikan saham secara sepihak.

Otoritas bursa, kata dia, membandingkan praktik transparansi data di berbagai bursa global untuk menentukan pendekatan yang paling relevan diterapkan di Indonesia.

“Jadi seperti yang dibilang tadi, kita coba lihat di bursa lain mana yang paling pas transparansinya. Kan kita enggak bikin data sendiri,” jelasnya.

Diskusi tersebut juga melibatkan keterbatasan kewenangan dan kerangka regulasi BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Kita juga punya keterbatasan. Yang kita bisa, kita coba sampaikan apakah memenuhi ekspektasi mereka,” kata Iman.

Perbaikan Free Float Dinilai Belum Penuhi Ekspektasi

BEI mengakui upaya perbaikan data free float saham emiten domestik dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi MSCI. Meski demikian, perbaikan tersebut disebut telah dan terus dilakukan secara bertahap bersama regulator terkait.

“Kita melakukan sesuatu terkait perubahan free float. Jadi sudah kita lakukan perbaikan yang terkait dengan free float yang sudah ada,” tegas Iman.

Baca juga: IHSG Anjlok Imbas Isu MSCI, Bos BEI Sebut Pasar Dilanda Panic Selling

Ia menambahkan, MSCI tidak secara rinci menyebutkan format atau kriteria data yang diminta. Di sisi lain, praktik penyampaian data kepemilikan saham di berbagai bursa global juga berbeda-beda.

“Kita enggak bisa ngasih sesuatu yang di luar ketentuan hukum dan aturan di Indonesia,” ujar Iman.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei

Tag:  #goldman #sachs #turunkan #rekomendasi #saham #ihsg #tertekan

KOMENTAR