IHSG Anjlok Terseret Isu MSCI, Bos BEI Beberkan Strategi Redam Pasar
IHSG ditutup melemah 7,35 persen ke level Rp 8.320,56 pada perdagangan Rabu 928/1/2026).(Bursa Efek Indonesia (BEI))
17:40
28 Januari 2026

IHSG Anjlok Terseret Isu MSCI, Bos BEI Beberkan Strategi Redam Pasar

- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyiapkan langkah strategis untuk merespons kekhawatiran pasar menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (28/1/2026).

IHSG ditutup melemah 7,35 persen atau turun 659,673 poin ke level 8.320,55.

Bahkan, pada sesi kedua perdagangan, IHSG sempat anjlok hingga 8,00 persen sehingga BEI mengaktifkan mekanisme trading halt atau penghentian sementara perdagangan.

Setelah dibuka kembali pada pukul 14.13 WIB, pergerakan pasar belum menunjukkan pemulihan. IHSG justru melanjutkan pelemahan dan bertahan di zona merah hingga penutupan.

Tekanan di pasar saham ini tidak terlepas dari sentimen seputar kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. Sentimen tersebut memicu aksi jual panik investor dan memperdalam koreksi IHSG.

Baca juga: Efek Pengumuman MSCI ke Kinerja IHSG, Berdampak Panjang?

Di tengah gejolak tersebut, BEI memastikan tidak tinggal diam dan tengah menyiapkan siasat untuk meredam kekhawatiran pasar.

Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan fokus utama otoritas bursa adalah memastikan seluruh kebutuhan data yang diminta MSCI dapat dipenuhi, agar investor tidak bereaksi berlebihan.

“Nah ini tadi hasil kami diskusi juga kita sedang mempersiapkan, kita sedang melihat bagaimana kita bisa memenuhi apa yang di require (kebutuhan), apa yang dibutuhkan oleh MSCI. Sehingga tadi kita tidak harapkan bahwa investor-investor kita yang ada sekarang panik,” ujar Iman saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta.

Ia memastikan komitmen BEI untuk meningkatkan transparansi data free float emiten, sebagaimana dipersyaratkan MSCI, bukan semata-mata untuk memenuhi permintaan pengelola indeks global tersebut.

Lebih dari itu, perbaikan transparansi dinilai sebagai fondasi penting bagi penguatan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

“Jadi kita bicara ini adalah transparansi data yang baik juga buat industri pasar modal kita. Jadi kita bicara bukan karena ini permintaan MSCI kita akan penuh, tidak. Tapi kami melihat ini ada positifnya,” paparnya.

Baca juga: IHSG Anjlok Imbas Isu MSCI, Bos BEI Sebut Pasar Dilanda Panic Selling

Sebagaimana diketahui, MSCI telah memutuskan untuk menangguhkan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.

Keputusan ini diambil menyusul kekhawatiran terhadap tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.

Penangguhan tersebut akan berlaku hingga otoritas pasar dinilai mampu mengatasi isu struktur kepemilikan yang dianggap terlalu terkonsentrasi.

Kebijakan MSCI tersebut menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya, serta membekukan peningkatan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.

Keputusan itu didasarkan pada masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi proses pembentukan harga saham.

MSCI juga mengingatkan bahwa jika hingga Mei 2026 Indonesia belum menunjukkan kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.

Peninjauan ulang tersebut berpotensi berdampak besar, mulai dari penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Meski demikian, Iman menilai dampak jangka pendek dari keputusan MSCI relatif terbatas.

Pada periode Februari hingga Mei 2026, tidak akan ada perubahan konstituen indeks, sehingga jumlah emiten Indonesia di MSCI tetap dan market share Indonesia dipastikan bertahan di kisaran 1,5 persen.

Kondisi tersebut, menurutnya, memberi ruang waktu bagi pasar dan regulator untuk melakukan penyesuaian tanpa tekanan perubahan bobot indeks secara langsung.

“Dari mulai Februari sampai dengan Mei tidak ada pergerakan, artinya jumlah emiten kita akan tetap. Market share kita yang saat ini 1,5 persen di MSCI akan stay di 1,5 persen. Itu adalah bagaimana kami membaca ya pengumuman MSCI,” jelasnya.

Namun demikian, tantangan terbesar justru berada pada periode selanjutnya.

Iman menyebut pekerjaan rumah utama muncul menjelang pertengahan tahun, ketika MSCI kembali mengevaluasi apakah transparansi data yang diminta telah terpenuhi. Oleh karena itu, diskusi dengan MSCI terus dilakukan secara berkelanjutan.

Upaya pemenuhan data tersebut, lanjut Iman, terutama berkaitan dengan informasi kepemilikan saham yang tidak sepenuhnya berada di bursa, melainkan dikelola oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Untuk itu, BEI bekerja sama dengan KSEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan data yang tersedia dapat diselaraskan dengan metodologi MSCI.

Di tengah tekanan yang membuat IHSG terperosok, BEI berharap langkah perbaikan dan koordinasi tersebut mampu meredam gejolak pasar sekaligus mengembalikan kepercayaan investor.

Lebih jauh, otoritas pasar modal memandang isu MSCI bukan sekadar risiko jangka pendek, melainkan momentum untuk memperkuat transparansi dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.

Tag:  #ihsg #anjlok #terseret #msci #beberkan #strategi #redam #pasar

KOMENTAR