Koreksi Saham BBCA Dinilai Sementara, Analis Rekomendasi Serok di Level 7.000
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), salah satu saham blue chip sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI), akan membagikan dividen jumbo lebih dari Rp 30 triliun kepada para pemegang saham pada tahun 2025. Saham BCA menguat pada 21 Oktober 2025 setelah aksi beli investor asing mencapai Rp 2,17 triliun.(DOK. BCA)
16:24
28 Januari 2026

Koreksi Saham BBCA Dinilai Sementara, Analis Rekomendasi Serok di Level 7.000

– Harga saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA terus tertekan beberapa hari terakhir. Pada sesi kedua perdagangan Bursa Efek Indonesia Rabu (28/1/2026), saham BBCA sempat menyentuh level terendah di Rp 6.950 per saham.

Tekanan terjadi saat Bursa Efek Indonesia memberlakukan trading halt pada sesi II. Langkah itu diambil setelah Indeks Harga Saham Gabungan turun 8 persen. Pelemahan indeks menyeret saham-saham berkapitalisasi besar. BBCA ikut terdampak.

Analis pasar saham Hans Kwee menilai penurunan harga saham BBCA berkaitan dengan keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Lembaga tersebut memutuskan melakukan penyesuaian terhadap perhitungan free float saham Indonesia.

BCA paling tinggi di bobot MSCI. Jadi karena MSCI ada rencana potensi perubahan perhitungan free float, makanya ada penurunan atau koreksi,” kata Hans saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Baca juga: Kinerja BCA 2025 Positif, Simak Rekomendasi Saham BBCA dari Analis

Hans menyebut koreksi saham BBCA tidak terjadi satu hari. Tekanan sudah berlangsung sejak awal Januari 2026.

“Sudah berapa hari ini ya sebenarnya ya, jadi enggak cuma sehari ya turunnya (harga saham BBCA). Kemarin terkoreksi karena orang khawatir perubahan perhitungan free floatnya,” ujar Hans.

Sebagai emiten bluechip dengan fundamental kuat, BBCA dinilai cepat merespons sentimen negatif. Posisi BBCA sebagai saham dengan bobot besar di indeks MSCI membuat dampaknya terasa lebih dalam.

“Makanya BBCA sudah terkoreksi turun dari saat itu. Nah, karena kalau ada perubahan BCA yang paling tertukul dalam perhitungannya,” lanjut dia.

Hans menilai tekanan tersebut muncul sebagai respons pasar terhadap kebijakan interim freeze MSCI. MSCI memberi tenggat waktu hingga Mei 2026 untuk melihat perbaikan.

“Ini sebenarnya interim freeze yang dilakukan MSCI. Mereka memberikan waktu sampai Mei 2026. Kalau tidak ada perubahan, MSCI bisa mengubah bobot Indonesia, dan itu yang membuat pasar bereaksi,” ujarnya.

Baca juga: Saham BBCA Turun, Ini Kata Presiden Direktur BCA

Menurut Hans, sentimen MSCI menjadi faktor utama penekan saham BBCA. Dari sisi domestik, ia menilai tidak ada sentimen negatif besar.

“BCA kinerjanya masih bagus. Memang ada perlambatan dan pencadangan, tapi itu tidak negatif sekali. Jadi tekanan ini lebih karena faktor MSCI,” kata dia.

Selama ini, saham BBCA kerap menjadi barometer pasar. Tekanan pada BBCA sering memicu reaksi lanjutan pada saham lain. Hans meminta investor tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan.

“Kita masih cukup yakin BCA bagus secara fundamental. Dampak MSCI ini mungkin akan mereda dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Ia menambahkan tekanan lebih berat berpotensi dialami saham-saham yang sebelumnya naik karena ekspektasi masuk indeks MSCI.

“Yang mungkin lebih tertekan itu saham-saham yang sempat naik karena ekspektasi masuk MSCI. Tapi ke depan tekanan ini semoga hanya sementara,” kata Hans.

Terkait kondisi pasar, Hans menilai koreksi kali ini dipicu kepanikan. Risiko struktural juga muncul jika terjadi arus keluar dana asing.

“Ini panik pasar, agak struktural juga, karena ada potensi dana keluar kalau MSCI mengubah bobot Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, Hans memperkirakan tekanan bersifat jangka pendek.

“Paling 1–2 hari, antara hari ini sampai besok. Setelah itu pasar harusnya kembali melihat fundamental,” kata dia.

Untuk strategi investasi, Hans merekomendasikan akumulasi saham BBCA di kisaran 7.000 hingga 7.100.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai fundamental BBCA tetap solid. Kinerja kuartal III-2025 mencatat laba bersih Rp 14,4 triliun. Hingga September 2025, laba bersih tumbuh sekitar 5 hingga 6 persen secara tahunan.

“Likuidasi dan deposit juga kuat. Dana murah (CASA) serta net interest margin (NIM) tetap kokoh, mendasari stailitas pendapatan bunga bank,” ujar Nafan.

Tahun 2026, BBCA dinilai memiliki tiga sumber utama pertumbuhan. Fokus mencakup ekspansi CASA nonritel, peningkatan pendapatan berbasis komisi melalui cross selling, serta investasi teknologi untuk efisiensi biaya dan layanan.

“Dividen dan buyback saham juga menarik. Dengan permodalan yang kuat (CAR) dan profitabilitas stabil, BBCA dapat meningkatkan diiden pay out ratio,” lanjutnya.

Nafan menilai BBCA tetap menarik sebagai investasi jangka panjang.

“Posisi BBCA sebagai bluechip tetap menarik bagi investor yang mencari kombinasi stabilitas dan imbal hasil dividen,” tegasnya.

Pada penutupan perdagangan sore ini, saham BBCA berakhir di level 7.050. Posisi tersebut turun 6,3 persen. Saham perbankan lain ikut melemah. Saham BBRI turun 6,02 persen, sedangkan BMRI terkoreksi 5,2 persen.

Tag:  #koreksi #saham #bbca #dinilai #sementara #analis #rekomendasi #serok #level #7000

KOMENTAR