Operasi 24 Jam di Banyak Negara, Kaldu Sari Nabati Perbarui Sistem ERP
Bagi perusahaan consumer goods dengan portofolio produk besar dan wilayah operasi lintas negara, akurasi perencanaan serta keandalan sistem menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi operasional.
Studi yang dilakukan oleh McKinsey mencatat, penerapan advanced analytics dan machine learning dalam perencanaan permintaan dapat menurunkan kesalahan peramalan hingga sekitar 30 hingga 50 persen.
Penurunan kesalahan tersebut berimplikasi langsung pada pengendalian persediaan, pengurangan biaya logistik, serta kelancaran pasokan dan distribusi.
Ilustrasi bisnis.
Dalam konteks kebutuhan tersebut, PT Kaldu Sari Nabati Indonesia (KSN) memulai program transformasi enterprise resource planning (ERP) melalui skema RISE with SAP yang dijalankan di atas infrastruktur cloud Amazon Web Services (AWS).
Program ini diawali dengan Kick-Off Ceremony yang melibatkan KSN, SAP, AWS, serta TMS Consulting sebagai mitra implementasi.
KSN merupakan bagian dari Nabati Group yang mengelola 10 unit bisnis di berbagai sektor, mulai dari Fast Moving Consumer Goods (FMCG), Quick Service Restaurant, e-commerce, logistik, hiburan digital, hingga properti.
Dengan operasional yang berlangsung di lebih dari lima negara dan aktivitas bisnis yang berjalan 24 jam, perusahaan dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas sistem sekaligus menekan inefisiensi operasional.
Saat ini, KSN telah menggunakan SAP S/4HANA untuk mendukung operasional lintas negara. Namun, meningkatnya kompleksitas bisnis mendorong perusahaan melakukan modernisasi sistem guna meningkatkan performa, menjaga kepatuhan terhadap standar SAP, serta mengelola biaya secara lebih terukur.
Sistem ERP yang berjalan non-stop dinilai memiliki risiko tersendiri jika tidak ditopang oleh infrastruktur dan tata kelola yang memadai, terutama terkait downtime, integrasi data, dan keberlanjutan operasional.
Vice President of Global IT PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, Beny Y Widyatmoko, menyebutkan transformasi ERP ini berangkat dari kebutuhan memperkuat fondasi sistem agar mampu mendukung efisiensi dan stabilitas operasional.
Ilustrasi bisnis
“Kebutuhan bisnis yang berjalan lintas negara dan 24 jam menuntut sistem yang lebih siap. Inisiatif ini bukan hanya soal upgrade teknis, tetapi bagaimana sistem dapat menopang performa operasional, kepatuhan, dan efisiensi biaya secara berkelanjutan,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (24/1/2026).
Menurut Beny, penguatan sistem juga berkaitan dengan kesiapan perusahaan dalam mengelola dan memanfaatkan data.
“Dengan kolaborasi bersama SAP, AWS, dan TMS Consulting, kami membangun fondasi digital yang diharapkan mampu mendukung pengembangan kapabilitas berbasis data dan teknologi cerdas ke depan,” kata dia.
Dari sisi penyedia solusi, President and Managing Director SAP Southeast Asia, Liher Urbizu, menilai transformasi sistem sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan operasional perusahaan.
“Melalui adopsi RISE with SAP di atas platform AWS, Nabati memperkuat ketahanan operasional sekaligus membangun fondasi sistem yang mendukung operasi lintas wilayah dan pertumbuhan jangka panjang,” tutur dia.
Risiko dalam proses migrasi sistem menjadi perhatian tersendiri. Managing Partner TMS Consulting, Widiyo Dwihartanto, menekankan pentingnya tata kelola proyek agar transformasi ERP tidak menimbulkan gangguan operasional.
“Transformasi ERP merupakan langkah strategis yang memiliki risiko jika tidak dikelola dengan baik. Fokus kami adalah memastikan setiap fase dijalankan secara terukur, dengan tata kelola yang kuat dan kolaborasi antar-stakeholder,” papar dia.
Widiyo menambahkan, perhatian tidak hanya diberikan pada fase awal migrasi.
“Keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh go-live, tetapi juga oleh keberlanjutan sistem dan tercapainya nilai bisnis dalam jangka panjang,” katanya.
Dari sisi infrastruktur, AWS berperan sebagai penyedia platform cloud yang mendukung kebutuhan skalabilitas dan keandalan sistem ERP.
ASEAN ERP on AWS Principal Specialist Amazon Web Services, Anthonius Henricus, mengatakan bahwa infrastruktur cloud menjadi faktor penting dalam mengelola risiko sistem lintas negara.
“Infrastruktur cloud yang aman dan fleksibel memungkinkan perusahaan menekan risiko downtime sekaligus menjaga keandalan sistem ERP yang mendukung operasi berskala regional,” ujarnya.
Tag: #operasi #banyak #negara #kaldu #sari #nabati #perbarui #sistem