Trump Cabut Ancaman Tarif, Emas Jauh dari Rekor, Bursa Global Rebound
– Harga emas dunia melemah, sementara pasar saham global menguat pada Kamis (22/1/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik ancaman tarif dan menegaskan tidak akan merebut Greenland dengan kekuatan militer.
“Saya tidak akan melakukan itu,” kata Trump, dikutip dari Reuters.
“Sekarang semua orang berkata, ‘oh, bagus’. Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekuatan. Saya tidak perlu menggunakan kekuatan, saya tidak ingin menggunakan kekuatan, dan saya tidak akan menggunakan kekuatan,” lanjut Trump.
Saham Menguat, Emas Menjauh dari Rekor
Pernyataan tersebut mendorong sentimen positif di pasar keuangan global. Indeks Wall Street bergerak fluktuatif, namun akhirnya ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 1,16 persen, mencatatkan kenaikan harian terbesar dalam dua bulan terakhir.
Kontrak berjangka saham Eropa menguat 1,3 persen pada perdagangan pagi di Asia. Indeks saham Australia dan Jepang masing-masing naik sekitar 1 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menembus level 5.000 untuk pertama kalinya.
Seiring penguatan aset berisiko, dolar AS turut menguat dan menekan euro ke bawah level 1,17 dollar AS, tepatnya di 1,1676 dollar AS. Di sisi lain, harga emas turun sekitar 100 dollar AS per ons ke level 4.790 dollar AS, dari rekor tertinggi 4.887 dollar AS per ons.
Sentimen Pasar dan Sikap Investor
Direktur institutional sales Argonaut, Damian Rooney, menilai reaksi pasar mencerminkan pola yang sudah dikenal pelaku pasar.
“Fenomena TACO, sebagaimana mereka menyebutnya, memang nyata,” kata Rooney, merujuk pada akronim Wall Street “Trump Always Chickens Out”.
Meski demikian, investor dinilai belum sepenuhnya meninggalkan aset lindung nilai. Rooney mengatakan reli emas dalam satu setengah tahun terakhir belum sepenuhnya berakhir.
“Suasana di sini sangat positif karena dalam satu setengah tahun terakhir menjadi pendukung emas merupakan pengalaman yang menyenangkan,” kata Rooney.
“Namun, dalam berinvestasi emas, kita tidak pernah membuang semuanya sekaligus, karena (Trump) kerap melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak terduga, terlepas dari apakah ia akan benar-benar merealisasikannya atau tidak,” sambung dia.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa yang sebelumnya dikaitkan dengan upayanya untuk mengambil alih Greenland.
Isu Greenland dan NATO
Sebelumnya, Trump menyampaikan bahwa setelah bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, negara-negara sekutu di kawasan Arktik Barat dapat merancang kesepakatan baru terkait Greenland.
Kesepakatan tersebut dinilai dapat memenuhi keinginannya terkait sistem pertahanan rudal serta akses terhadap mineral kritis. Namun, hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut.
Rutte mengatakan kepada Fox News bahwa isu apakah Greenland akan tetap menjadi bagian dari Denmark tidak dibahas dalam pertemuannya dengan Trump.
Analis Pepperstone, Chris Weston, menilai pasar telah mengurangi risiko ekstrem konflik antara AS dan mitra NATO-nya. Pasar dinilai telah mengesampingkan potensi konfrontasi langsung, meski sebelumnya sebagian pelaku pasar sempat melakukan lindung nilai terhadap risiko tersebut.
Obligasi, Yen, dan Data Ekonomi
Seiring meredanya ketegangan, indeks volatilitas VIX—yang dikenal sebagai pengukur ketakutan Wall Street—turun tajam mendekati level normal. Obligasi pemerintah AS kembali diminati setelah sebelumnya tertekan sepanjang pekan.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 4,24 persen pada perdagangan di Tokyo, setelah sebelumnya turun empat basis poin di New York. Obligasi pemerintah Jepang dibuka stabil setelah mengalami pekan yang bergejolak akibat janji belanja pemilu.
Bank of Japan memulai rapat kebijakan dua hari. Suku bunga diperkirakan tetap, meski pelaku pasar mengantisipasi nada kebijakan yang lebih hawkish sebagai sinyal kenaikan suku bunga ke depan.
Nilai tukar yen relatif stabil di level 158,24 per dollar AS, meski masih tertekan terhadap mata uang lainnya.
Dollar Australia menguat ke level tertinggi dalam 18 bulan di 107,04 yen dan menyentuh level tertinggi 15 bulan di 0,6786 dollar AS, setelah data menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan serta penurunan tajam tingkat pengangguran.
Menanti Data AS dan Laporan Keuangan
Pada Kamis waktu setempat, pasar menanti rilis data inti personal consumption expenditures (PCE) AS. Pelaku pasar telah memperhitungkan kemungkinan dua kali penurunan suku bunga AS sepanjang tahun ini.
Selain itu, sejumlah perusahaan besar dijadwalkan merilis laporan keuangan, termasuk Intel, General Electric, Freeport McMoRan, dan Procter & Gamble.
Tag: #trump #cabut #ancaman #tarif #emas #jauh #dari #rekor #bursa #global #rebound