7 Pengeluaran Kelas Menengah yang Sebaiknya Tidak Dibeli Lagi
Perubahan kondisi ekonomi membuat kelas menengah perlu meninjau ulang kebiasaan belanja. Sejumlah pengeluaran yang dulu dianggap wajar kini berpotensi menggerus keuangan.(Dok. Freepik/drobotdean)
14:56
16 Januari 2026

7 Pengeluaran Kelas Menengah yang Sebaiknya Tidak Dibeli Lagi

- Kondisi ekonomi yang berubah membuat kelas menengah perlu meninjau ulang kebiasaan belanjanya. Sejumlah pembelian yang sebelumnya dianggap aman kini justru bisa menjadi perusak kekayaan secara perlahan.

Kesenjangan antara keputusan yang terasa “masuk akal” dan keputusan yang benar-benar membangun kekayaan semakin lebar. Dalam kondisi harga barang mahal dan biaya hidup meningkat, pilihan finansial lama perlu dievaluasi ulang.

Dikutip dari New Trader U, Jumat (16/1/2026), berikut tujuh kategori pembelian yang bisa menjadi jebakan finansial bagi rumah tangga kelas menengah.

1. Ponsel Flagship yang Terlalu Sering Diganti

Bagi sebagian besar pengguna, perbedaan kinerja ponsel berusia tiga tahun dengan ponsel flagship terbaru nyaris tidak terasa. Namun, produsen tetap mendorong pergantian perangkat dengan harga tinggi melalui pembaruan fitur yang terbatas.

Jika ponsel mahal diganti setiap dua tahun, biaya tahunannya jauh lebih besar dibandingkan ponsel kelas menengah yang digunakan lebih lama. Selisih pengeluaran tersebut, jika dialihkan untuk tujuan produktif, dapat memberi dampak keuangan yang signifikan.

Dalam banyak kasus, penggantian baterai dengan biaya relatif kecil sudah cukup untuk memperpanjang masa pakai ponsel. Kualitas kamera dan kecepatan perangkat generasi sebelumnya juga masih memadai untuk kebutuhan harian.

2. Mobil Baru dengan Harga Tinggi

Membeli mobil baru kini menjadi salah satu pengeluaran paling mahal bagi kelas menengah. Harga kendaraan yang tinggi, ditambah bunga kredit yang besar, membuat beban finansial meningkat sejak awal pembelian.

Nilai kendaraan yang langsung turun setelah keluar dari dealer berpotensi menghapus ruang menabung dalam waktu singkat.

Sebaliknya, mobil bekas berusia beberapa tahun umumnya memiliki fungsi transportasi yang sama dengan harga jauh lebih rendah. Selain harga beli, biaya asuransi dan administrasi juga cenderung lebih ringan.

Tidak sedikit orang dengan kondisi keuangan mapan memilih menggunakan kendaraan lama yang sudah lunas, sementara kelas menengah justru tertekan oleh cicilan jangka panjang.

3. Langganan Digital yang Menumpuk

Layanan streaming, aplikasi berlangganan, hingga fitur premium kerap menjadi pengeluaran rutin yang luput dari perhatian. Nilainya kecil per bulan, tetapi jumlahnya bisa menumpuk.

Masalahnya bukan satu layanan, melainkan akumulasi berbagai langganan yang diaktifkan saat masa gratis dan tidak pernah dihentikan. Pola ini menciptakan kebocoran anggaran secara bertahap.

Strategi yang lebih terukur adalah menggunakan satu layanan dalam satu waktu. Setelah selesai digunakan, langganan dapat dihentikan dan diganti dengan layanan lain sesuai kebutuhan.

4. Fast Fashion dan Barang Murah Berkualitas Rendah

Harga murah sering kali menipu. Pakaian atau barang rumah tangga berbiaya rendah yang cepat rusak justru lebih mahal dalam jangka panjang karena harus sering diganti.

Pola ini tidak hanya terjadi pada pakaian, tetapi juga peralatan dapur, furnitur, dan elektronik. Setiap kerusakan memicu pengeluaran baru, menyita waktu, dan menambah limbah.

Sebaliknya, barang berkualitas lebih baik cenderung bertahan lama dan memberikan biaya pemakaian yang lebih efisien dalam jangka panjang.

5. Makanan Praktis yang Mahal

Produk makanan siap pakai, porsi kecil, atau yang sudah diproses menawarkan kepraktisan, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan bahan mentah.

Dalam kondisi harga pangan yang terus naik, kebiasaan ini menjadi sumber kebocoran anggaran rumah tangga. Alasan penghematan waktu sering kali tidak sebanding dengan selisih biaya yang harus dibayar.

Dengan sistem persiapan sederhana dan perencanaan yang realistis, belanja bahan makanan dalam jumlah lebih besar dapat menekan pengeluaran secara signifikan.

6. Garansi Tambahan

Garansi tambahan kerap ditawarkan saat membeli barang elektronik atau peralatan rumah tangga. Namun, biaya perlindungan ini sering kali mendekati harga perbaikan itu sendiri.

Sebagian besar barang berfungsi normal tanpa perlindungan tambahan. Ketakutan terhadap risiko kerusakan mendorong konsumen membayar biaya ekstra untuk kemungkinan yang kecil.

Pendekatan alternatif adalah menyisihkan dana khusus untuk perbaikan, sehingga pengeluaran tetap terkendali.

7. Beli Rumah Terlalu Besar

Membeli rumah dengan ukuran maksimal sesuai kemampuan finansial berisiko membuat keluarga kekurangan ruang gerak keuangan. Biaya perawatan, utilitas, dan pajak dapat menyedot pendapatan bulanan.

Kondisi ini menciptakan situasi “house-poor”, yakni aset besar tetapi minim likuiditas untuk menabung atau berinvestasi.

Hunian yang lebih efisien memungkinkan pengeluaran bulanan lebih terkendali dan membuka ruang untuk membangun ketahanan finansial.

Kebiasaan belanja kelas menengah yang dulu dianggap wajar kini perlu ditinjau ulang. Sejumlah pengeluaran justru berpotensi menghambat upaya membangun stabilitas keuangan.

Memahami biaya kepemilikan dan menyesuaikan keputusan belanja dengan kondisi saat ini menjadi langkah awal menjaga kesehatan finansial jangka panjang.

Tag:  #pengeluaran #kelas #menengah #yang #sebaiknya #tidak #dibeli #lagi

KOMENTAR