Investasi Hilirisasi Melonjak 13,2 Persen pada Kuartal IV 2025, Nikel jadi Primadona
Total realisasi investasi kuartal IV 2025 di bidang hilirisasi mencapai Rp 152,7 triliun. (istimewa)
07:00
16 Januari 2026

Investasi Hilirisasi Melonjak 13,2 Persen pada Kuartal IV 2025, Nikel jadi Primadona

 

- Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa total realisasi investasi kuartal IV 2025 di bidang hilirisasi mencapai Rp 152,7 triliun. Angka tersebut tercatat meningkat 13,2 persen dibandingkan dengan tahun 2024.

Rosan menyampaikan bahwa tren investasi hilirisasi ini tercatat meningkat dari sebelumnya hanya berkontribusi sebesar 28 persen terhadap total investasi pada Kuartal IV-2024. Sedangkan, pada Kurtal IV-2025 kontribusinya sudah mencapai 30 persen.

"Karena kita lihat trennya ini kelihatan semakin meningkat. Kalau dulu saya masih ingat realisasi investasi dari hilirisasi itu 28 persen, sudah di level kemarin 30 persen. Jadi memang ini terus meningkat," kata Rosan dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).

Lebih lanjut, Rosan menyampaikan bahwa dari total realisasi itu paling banyak berasal dari sektor mineral mencapai Rp 81,6 triliun. Penyumbang terbesar komoditas dari sektor ini, yaitu Nikel yang mencapai Rp 49,2 triliun.

Selanjutnya, disusul oleh Bauksit Rp 9,9 triliun, Besi Baja Rp 8,2 triliun, Timah Rp 6,3 Triliun, Tembaga Rp 4,6 triliun, dan lainnya termasuk Pasir Silika, Emas, Batu Bara, Perak, Kobalt, Mangan, Batubara, dan Aspal Buton mencapai Rp 3,4 triliun.

Tak hanya sektor mineral, Rosan juga mencatat bahwa realisasi investasi di bidang hilirisasi juga tercatat untuk sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp 41,1 triliun. Kemudian, sektor minyak dan gas bumi mencapai Rp 27,4 triliun, serta perikanan dan kelautan sebesar Rp 2,6 triliun.

"Menariknya lagi, kalau kemarin lebih banyak sektor mineral. Tapi kalau lihat sekarang di sektor perkebunan, kelautan juga sudah mulai ada. Yang dulu mungkin kelautan, perikanan masih hampir tidak ada gitu ya, nah sekarang sudah masuk," beber Rosan.

"Ada ikan tuna, cakalang, tongkol. Jadi ini juga sudah mulai berjalan. Jadi ini kita dorong memang untuk tidak hanya terkonsentrasi di sektor mineral, tapi juga bisa meluas ke sektor-sektor lainnya. Terutama ke sektor-sektor perkebunan yang menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak," tambahnya.

Di lihat dari asal investornya, paling banyak penanam modal berasal dari asing mencapai Rp 123 triliun. Sedangkan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat hanya Rp 29,7 triliun.

Ada lima negara yang tercatat paling tinggi kucuran investasinya di tanah air untuk sektor hilirisasi. Diantaranya meliputi Singapura mencapai USD 2 miliar, Hongkong dan RRT sebanyak USD 1,7 miliar, Malaysia sebesar USD 1,5 miliar, Tiongkok Rp USD 1,5 miliar, dan Jepang USD 0,3 miliar.

Selanjutnya, jika dilihat dari lokasi favorit investor dalam menanamkan modal di bidang hilirisasi terletak di Jawa Barat dengan nilai investasi mencapai Rp 27,7 triliun.

Kemudian, disusul oleh Maluku Utara mencapai Rp 26,6 triliun, Sulawesi Tengah sebesar Rp 25,8 triliun, Banten sebanyak Rp 17,5 triliun, dan Jawa Timur sebanyak Rp 8,5 triliun.

Kendati begitu, secara keseluruhan, realisasi investasi di bidang hilirisasi masih tercatat paling banyak di wilayah Luar Jawa mencapai Rp 92,5 triliun. Sedangkan di Jawa realisasinya tercatat sebesar Rp 60,2 triliun.

"Karena kalau kita lihat, memang ini perbandingan cukup jauh 80,5 persen dari PMA-nya atau Rp 123 triliun. Karena memang hilirisasi masih di mineral itu, kan membutuhkan teknologi-teknologi yang terus baru, terus update. Jadi memang ini menyebabkan PMA-nya jadi lebih tinggi," tukasnya.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #investasi #hilirisasi #melonjak #persen #pada #kuartal #2025 #nikel #jadi #primadona

KOMENTAR