Rupiah Terlemah Saat IHSG ''To The Moon'', Anomali di RI Ternyata Juga Dialami Jepang, India, Korsel
– Penguatan pasar saham di tengah pelemahan nilai tukar bukan hanya terjadi di Indonesia. Pola serupa juga dialami Jepang, Korea Selatan, dan India, seiring tekanan global yang membuat mata uang berperan sebagai peredam guncangan.
Sejak Selasa (13/1/2026), nilai tukar rupiah bergerak mendekati level Rp 17.000 per dollar AS. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus level 9.100 pada perdagangan Kamis (15/1/2026).
Co-Head of Japan, Asia North and Australia and Asia South, Investment Banking Coverage Citi, Kaustubh Kulkarni, menilai kondisi tersebut mencerminkan peran nilai tukar sebagai shock absorber di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
“Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Ini mencerminkan bagaimana perekonomian dan bank sentral di negara-negara tersebut merespons tekanan global, termasuk tekanan tarif,” ujar Kaustubh dalam acara "Asia South Investment Banking Outlook 2026", Kamis.
Nilai Tukar Jadi Peredam Tekanan Global
Ilustrasi mata uang yen Jepang jatuh ke level terendah dalam 38 tahun, Jepang ganti Wamenkeu untuk Urusan Internasional.
Menurut Kaustubh, pelemahan mata uang saat ini menjadi instrumen utama dalam menyerap tekanan eksternal, mengingat terbatasnya alternatif kebijakan lain untuk meredam dampak guncangan global yang berkelanjutan.
Fenomena tersebut, kata dia, menjelaskan mengapa pelemahan nilai tukar justru berjalan beriringan dengan penguatan pasar saham di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia.
Saham Ditopang Faktor Domestik dan Laba Emiten
Di sisi lain, kinerja pasar saham menguat karena ditopang faktor domestik, mulai dari konsumsi yang kuat, likuiditas yang besar, hingga partisipasi investor ritel yang solid.
“Kondisi ini mendorong aliran likuiditas ke pasar saham dan menopang valuasi,” kata Kaustubh.
Selain itu, penguatan pasar saham juga didukung oleh kinerja positif perusahaan-perusahaan terbuka yang membukukan pertumbuhan laba sepanjang 2025. Optimisme investor terhadap keberlanjutan kinerja tersebut pada tahun ini turut memperkuat sentimen pasar.
“Jika melihat Korea, Jepang, India, dan Indonesia, pertumbuhan laba yang dicatatkan perusahaan dan indeks pada tahun ini dan yang diharapkan ke depan tergolong sangat baik,” ungkapnya.
Dengan latar tersebut, Kaustubh meyakini aktivitas penggalangan dana di pasar modal, khususnya melalui penerbitan saham, akan tetap solid di berbagai negara Asia.
“Karena itu, fenomena pasar saham yang kuat di tengah mata uang yang melemah justru memberikan keyakinan mengapa aktivitas penggalangan modal ekuitas di berbagai pasar tersebut akan tetap solid,” tuturnya.
Tag: #rupiah #terlemah #saat #ihsg #moon #anomali #ternyata #juga #dialami #jepang #india #korsel