Bitcoin Diprediksi Tembus 125.000 Dollar AS Dipicu Trump Tekan The Fed
Harga Bitcoin naik ke level Rp 1,54 miliar, namun pasar tetap waspada akibat ketegangan antara AS dan Venezuela.()
21:04
15 Januari 2026

Bitcoin Diprediksi Tembus 125.000 Dollar AS Dipicu Trump Tekan The Fed

- Prospek harga Bitcoin (BTC) pada 2026 dinilai semakin menjanjikan. Aset kripto terbesar di dunia itu diperkirakan kembali berpeluang mencetak rekor tertinggi (all-time high/ATH) di level 125.000 dollar AS.

Penguatan harga BTC dinilai sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, menguatnya tekanan politik Presiden AS Donald Trump terhadap The Federal Reserve (The Fed), serta derasnya akumulasi investor institusi global.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Kamis (15/1/2026), pukul 16.50 WIB, harga BTC berada di posisi 97.007 dollar AS, menguat sekitar 2,13 persen secara harian.

Pendiri sekaligus CEO Triv, Gabriel Rey, mengatakan proyeksi harga Bitcoin dan aset kripto lainnya erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter AS. Menurutnya, jika The Fed mulai menurunkan suku bunga, meskipun secara bertahap, Bitcoin berpotensi kembali menyentuh ATH di kisaran 125.000 dollar AS.

Kendati ia menekankan prediksi tersebut bukan saran atau rekomendasi untuk berinvestasi bagi investor.

“Kalau dari prediksi kami ketika suku bunga ini diturunkan paling minim, Bitcoin itu akan kembali menyentuh ATH-nya di 125.000 dollar AS. But disclaimer on not financial advice,” ujar Gabriel saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis sore.

Ketua The Fed hadapi tekanan politik

Gubernur dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.WIKIMEDIA COMMONS/FEDERAL RESERVE Gubernur dan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.Ia menilai, dinamika kebijakan di AS kini menjadi fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan AS, Ketua The Fed Jerome Powell menghadapi tekanan politik yang sangat kuat, bahkan dipanggil oleh Jaksa Federal terkait proses penyelidikan perkara.

Dikutip dari BBC, Senin (12/1/2026), Departemen Kehakiman AS (DoJ) telah mengirimkan surat panggilan dan mengancam akan mengajukan dakwaan pidana terhadap lembaga tersebut, termasuk Powell.

Situasi itu terjadi di tengah meningkatnya pengaruh Presiden Donald Trump, yang secara terbuka mendorong penurunan suku bunga ke level 1 persen, yang berpeluang mengubah persepsi pasar.

Gabriel mencatat pasar kini melihat arah suku bunga Amerika Serikat bukan lagi sebagai sebuah kemungkinan, melainkan agenda yang tinggal menunggu momentum. Dalam jangka menengah, level suku bunga 1 persen tidak diperdebatkan dari sisi “akan terjadi atau tidak”, tetapi “kapan akan terjadi?”.

Suku bunga AS turun, Bitcoin naik

Dorongan kuat datang dari Trump yang menginginkan biaya pinjaman ditekan serendah mungkin untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan pasar keuangan.

Ketika suku bunga akhirnya turun ke level tersebut, efek berantainya dinilai hampir selalu sama dan berulang dalam sejarah pasar global. Biaya uang yang murah akan memicu lonjakan likuiditas, mendorong dana keluar dari instrumen aman menuju aset berisiko yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Dalam situasi seperti ini, Bitcoin menjadi salah satu penerima manfaat utama, seiring dengan menguatnya pasar saham AS, termasuk indeks S&P 500. Karena itu, penurunan suku bunga dipandang sebagai “bahan bakar” yang secara alami dapat mengangkat harga aset finansial, sekaligus memperkuat optimisme investor di pasar kripto global.

“Jadi istilahnya apa? Kita melihat bahwa dalam jangka menengah suku bunga 1 persen itu bukan pertanyaan iya atau tidak, tapi kapan terjadinya. Karena Trump mau suku bunga ini turun menjadi 1 persen. Dan ketika kita melihat suku bunga ini turun menjadi 1 persen otomatis apa yang terjadi? Ini sudah hukum alam di mana-mana, Bitcoin pasti naik, SP500 saham Amerika pasti naik,” paparnya.

Pergantian pimpinan The Fed

Faktor lain yang dinilai krusial adalah rencana pergantian pimpinan The Fed. Powell diperkirakan akan digantikan sekitar Mei atau Juni 2026. Kandidat terkuat penggantinya disebut memiliki kedekatan dengan Trump. Gabriel menyebut dengan kombinasi tekanan politik dan pergantian kepemimpinan ini, peluang penurunan suku bunga menjadi semakin besar.

“Jadi saya merasa ketika suku bunga ini diturunkan otomatis harga itu akan naik. Ini tinggal masalah kapan saja akan terjadi penurunan suku bunga. Dan saya rasa dalam jangka menengah ini sangat possible terjadi di 2026,” bebernya.

Dari sisi fundamental, dukungan terhadap Bitcoin juga semakin kuat. Arus dana investor institusi global terus menunjukkan tren akumulasi. Total aset kelolaan (assets under management/AUM) dari manajer investasi besar seperti BlackRock dan Fidelity dilaporkan terus meningkat.

Gabriel menyebut, meskipun harga Bitcoin sempat mengalami koreksi, para pemain besar justru memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah kepemilikan. Bahkan, jumlah Bitcoin yang dikumpulkan oleh para pemegang besar (whales) kini telah menembus lebih dari 600.000 BTC dan masih terus bertambah.

Faktor Eric Trump

Sentimen pasar juga menguat setelah Eric Trump, putra Donald Trump, secara terbuka mengumumkan pembelian Bitcoin. Menurut Gabriel, langkah tersebut memperkuat keyakinan bahwa kebijakan pemerintahan Trump ke depan akan berpihak pada pertumbuhan aset kripto.

“Dan yang paling menarik adalah anaknya Trump, yaitu Eric Trump, melakukan pembelian Bitcoin dan diumumkan secara terang-terangan. Dan kita ngomonglah sejelek-jeleknya bapak, gak mungkin bapak bikin rugi anaknya. Jadi itulah policy-policy yang dilakukan oleh Trump pasti akan mendukung pertumbuhan harga bitcoin,” pungkas Gabriel.

Lebih jauh, dukungan institusional juga datang dari tingkat negara bagian. Texas tercatat menjadi negara bagian pertama di AS yang membeli Bitcoin. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat meningkatnya adopsi Bitcoin di level pemerintahan, sekaligus mempertegas legitimasi kripto sebagai aset alternatif.

Dengan berbagai katalis tersebut, Gabriel menilai pasar kripto berpotensi memasuki fase baru. Ia bahkan meyakini siklus empat tahunan yang selama ini dikenal di pasar Bitcoin mulai bergeser.

Di pasar domestik, lanjut Gabriel, karakter investor kripto di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan berbeda. Gabriel mengungkapkan, saat ini pasar domestik lebih didominasi oleh trader altcoin. Di platform Triv, volume perdagangan altcoin tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Bitcoin.

“Kalau saat ini di Indonesia lebih didominasi oleh trader altcoin. Jujur, karena seperti di Triv sekarang dominasi volume trading altcoin jauh lebih tinggi daripada Bitcoin. Jadi orang lebih suka berspekulasi, mencari peluang lain mana yang bisa mendapatkan return lebih tinggi,” katanya.

Ihwal strategi dan manajemen risiko, Gabriel menyarankan investor tetap menempatkan Bitcoin sebagai aset utama atau anchor. Ia merekomendasikan porsi Bitcoin sekitar 70-80 persen dalam portofolio, sementara sisanya dapat dialokasikan ke altcoin dengan risiko dan volatilitas lebih tinggi.

Ia memandang, kondisi pasar kripto yang saat ini bergerak sideways mencerminkan ketatnya likuiditas global atau liquidity crunch, akibat The Fed yang belum menurunkan suku bunga. Oleh karena itu, strategi bertahan dinilai lebih relevan hingga muncul sinyal pelonggaran moneter.

“Karena biasanya ketika ada berita penurunan suku bunga itu liquidity mulai banjir ke market, bisa juga mulai banjir ke sektor altcoin biasanya kalau pada siklus sebelumnya,” lanjutnya.

Tag:  #bitcoin #diprediksi #tembus #125000 #dollar #dipicu #trump #tekan

KOMENTAR