Mendagri Ungkap Kendala Pemulihan Bencana di Pegunungan dan Dataran Rendah Aceh
– Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan tantangan utama perbaikan infrastruktur pascabencana di Sumatera, dengan fokus pada Aceh.
Karakter wilayah pegunungan dan dataran rendah memunculkan persoalan berbeda dalam pemulihan. Dari 22 kabupaten dan kota di Aceh, 18 daerah terdampak bencana.
Wilayah pegunungan menghadapi longsor. Akses jalan dan jembatan terputus. Sejumlah daerah sempat terisolasi dan mengalami kekurangan logistik.
“Kalau yang di gunung ini masalah utamanya adalah longsoran yang mengakibatkan jalan dan jembatan putus, sehingga daerah menjadi terkunci,” ujar Tito di Halim Perdana Kusuma, Rabu (14/1/2026).
Upaya pemulihan di kawasan pegunungan mulai menunjukkan hasil. Normalisasi jalan berlangsung.
Jembatan darurat dibangun dengan dukungan lintas instansi. Akses ke wilayah terdampak kembali terbuka. Sebagian jalur masih bersifat sementara. Kondisi logistik dinilai mencukupi.
Wilayah dataran rendah menghadapi tantangan berbeda. Lumpur menumpuk dalam jumlah besar. Jalan, permukiman, dan fasilitas umum tertutup. Sekolah, puskesmas, rumah sakit, hingga kantor pemerintahan ikut terdampak.
“Sungai-sungai penuh dengan lumpur. Yang tadinya kedalaman empat meter, sekarang bisa dilalui dengan berjalan kaki,” jelas Tito.
Hasil pendataan menunjukkan penanganan terfokus di tujuh kabupaten. Daerah tersebut meliputi Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Tengah, Takengon, serta Bener Meriah. Daerah lain tetap mendapat perhatian.
Pembersihan lumpur di dataran rendah dinilai paling mendesak. Kondisi ini berdampak langsung pada pengungsi. Banyak warga belum dapat kembali ke rumah. Lumpur menutup permukiman.
“Semakin lama mereka berada di tempat pengungsian, kondisi kesehatannya tidak baik,” ujarnya.
Percepatan pemulihan memerlukan tambahan personel. Alat berat efektif di jalan utama dan area terbuka. Gang sempit dan rumah warga membutuhkan tenaga manusia.
“Oleh karena itu, kita perlu menambah pasukan ke sana untuk membantu pembersihan lumpur secara menyeluruh,” pungkas Tito.
Banjir dan longsor terjadi pada akhir 2025 di Sumatera Utara, Sumatra Barat, dan Aceh. Banjir surut lambat. Lumpur mengendap lama di rumah warga hingga mengeras.
Tag: #mendagri #ungkap #kendala #pemulihan #bencana #pegunungan #dataran #rendah #aceh