Prospek Saham 2026: Sejumlah Emiten Bisa Naik Lebih dari 40 Persen
Ilustrasi pasar saham.(PIXABAY/PETE LINFORTH)
22:12
12 Januari 2026

Prospek Saham 2026: Sejumlah Emiten Bisa Naik Lebih dari 40 Persen

Di tengah pergerakan pasar saham yang masih diwarnai volatilitas, sejumlah saham dinilai masih menyimpan peluang penguatan yang menarik.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memetakan sederet emiten lintas sektor yang berpotensi mencatatkan kenaikan harga dua digit, bahkan sebagian di atas 40 persen.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyebut sejumlah saham pilihan yang dinilai memiliki potensi kenaikan harga (upside) berdasarkan kombinasi analisis teknikal dan fundamental.

Saham-saham itu terdiri dari berbagai sektor seperti pertambangan, energi, perbankan, otomotif, telekomunikasi, hingga barang konsumsi, dengan target harga yang mencerminkan potensi kenaikan.

"Itu pilihan (saham) dari saya, berlaku juga untuk 2026," ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/1/2026).

Salah satu saham dengan potensi kenaikan terbesar adalah PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.550, atau potensi upside sekitar 43,26 persen.

Jelang penutupan perdagangan Senin sore ini saham ADRO naik 50 poin atau sekitar 2,38 persen ke level Rp 2.150.

Secara teknikal, lanjut Nafan, ADRO berada dalam fase accumulating. Dari sisi fundamental, ADRO dinilai konsisten mengumumkan program buyback saham hingga Rp 4 miliar, meski realisasinya historis berada di kisaran 10-30 persen dari target.

Buyback ini kerap menjadi katalis positif jangka pendek.

"ADRO secara konsisten mengusulkan program buyback saham besar hingga Rp 4 miliar, meskipun realisasinya biasanya 10-30 persen dari target. Ekspektasi pasar terhadap buyback ini sering menjadi katalis positif jangka pendek bagi harga saham," paparnya.

Selain itu, ADRO tengah mengembangkan proyek hilirisasi dan diversifikasi energi, termasuk pembangunan smelter aluminium berkapasitas 500.000 ton, serta proyek energi terbarukan seperti baterai dan solar farm. Dari sisi valuasi, ADRO diperdagangkan dengan PER sekitar 8,3 kali dan dividend yield sekitar 8,77 persen, sehingga dinilai relatif undervalued.

Saham PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dinilai berada dalam tren uptrend dengan target harga Rp 1.410 atau potensi upside 21,03 persen.

ASSA menjaga momentum positif di segmen penyewaan kendaraan melalui penguatan armada rental untuk korporasi dan logistik.

Bahkan, perseroan membidik pertumbuhan segmen rental sebesar 5-10 persen hingga akhir tahun.

Dari sisi pendanaan, ASSA memperoleh fasilitas kredit Rp 500 juta dari QNB Indonesia untuk pembelian armada baru, sementara bisnis penyewaaan dan autopool tetap stabil karena ditopang pelanggan business to business (B2B) dengan kontrak tahunan yang menjaga tarif dan utilitas.

Jelang penutupan perdagangan hari ini, saham ASSA bergerak melemah atau berada di level Rp 1.205, turun 35 poin atau 2,82 persen.

Untuk sektor otomotif, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) diproyeksikan menuju target harga Rp 3.230 atau upside 20,07 persen.

Kinerja keuangan AUTO dinilai relatif stabil di tengah siklus industri otomotif nasional yang masih dalam fase pemulihan.

Hingga September 2025, pendapatan AUTO tumbuh sekitar 4,5 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 14,8 miliar.

Sementara laba bersih meningkat sekitar 2,62 persen menjadi Rp 1,56 miliar.

Profitabilitas AUTO dinilai lebih baik dibandingkan rata-rata industri, dengan valuasi yang masih tergolong murah.

Adapun harga saham AUTO berada di level 2.720, turun 10 poin atau 0,37 persen, jelang penutupan perdagangan hari ini.

Di sektor perbankan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memiliki target harga Rp 9.625 atau potensi upside 12,90 persen.

BBCA dinilai tetap solid sebagai saham blue chip dengan kinerja keuangan kuat.

Hingga kuartal III-2025, laba bersih BBCA tercatat sekitar Rp 43,4 miliar atau tumbuh 5-6 persen secara tahunan.

Likuiditas dan dana murah (CASA) yang kuat menjaga margin bunga, sementara strategi diversifikasi pendapatan dan investasi teknologi menopang prospek jangka panjang.

Harga saham BBCA berada di level Rp 8.025, turun 100 poin atau 1,23 persen jelang penutupan Senin sore ini.

Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga ditargetkan ke level Rp 4.710 atau upside 11,08 persen.

Kredit BBNI tumbuh sekitar 10,5 persen secara tahunan menjadi Rp 812,2 miliar, dengan portofolio yang terdiversifikasi.

Likuiditas dinilai sehat dan valuasi PBV sekitar 0,9 kali masih relatif menarik dibandingkan bank besar lainnya.

Harga saham BBNI berada di level Rp 4.210, naik 30 poin atau 0,72 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diproyeksikan memiliki target harga Rp 4.540 atau potensi upside 21,07 persen.

Skala usaha besar, fokus pada segmen UMKM, serta jaringan distribusi luas menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga, serta dividend yield sekitar 5,76 persen menjadikan saham ini menarik bagi investor pencari imbal hasil.

Harga saham BBRI berada di level Rp 3.690, naik 10 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Untuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), target harga ditetapkan di Rp 6.200 dengan potensi upside 38,70 persen.

Kinerja keuangan dan likuiditas BMRI dinilai solid, rasio kredit bermasalah terjaga, dan dukungan program pemerintah di sektor infrastruktur, hilirisasi, serta energi baru terbarukan membuka peluang ekspansi pembiayaan.

Harga saham BMRI berada di level Rp 4.790, naik 30 poin atau 0,63 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di sektor tambang dan energi, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) memiliki target harga Rp 1.305 atau upside 15,49 persen, didukung tren harga emas global dan momentum gold cycle. Masuknya BRMS ke indeks MSCI Global Standard meningkatkan visibilitas dan potensi aliran dana asing.

Hingga akhir sesi, harga saham BRMS berada di level Rp 1.260, naik 30 poin atau 2,44 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi salah satu dengan upside terbesar, yakni 43,30 persen menuju target harga Rp 3.210.

Pendapatan CUAN hingga kuartal III-2025 tumbuh signifikan, didorong integrasi aset hasil akuisisi dan diversifikasi bisnis pertambangan.

Hingga penutupan harga saham CUAN berada di level Rp 1.915, turun 95 poin atau 4,73 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Adapun PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) ditargetkan ke Rp 1.690 atau upside 16,96 persen, seiring perbaikan kinerja produksi migas dan prospek ekspansi proyek energi.

Hingga sesi terakhir, saham ENRG ditutup di level Rp 1.615, turun 45 poin atau 2,71 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada sektor emas ritel, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memiliki target harga Rp 2.480 atau upside 45,03 persen.

Pendapatan dan laba bersih HRTA tumbuh signifikan, didukung penjualan emas batangan dan diversifikasi kanal distribusi.

Hingga sesi terakhir perdagangan, HRTA ditutup di level Rp 2.770, melonjak 390 poin atau 16,39 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Adapun target harga saham sudah terealisasi.

Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan menuju Rp 5.050 atau upside 30,15 persen, ditopang posisi strategis di industri nikel, diversifikasi penjualan bijih, serta keterlibatan dalam proyek HPAL.

Harga saham INCO ditutup di level Rp 6.400, naik 100 poin atau 1,59 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Artinya harga saham naik melebih proyeksi sebelumnya.

Sementara PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) memiliki target harga Rp 4.740 atau potensi upside 30,22 persen, didukung pertumbuhan laba yang solid dan masuknya investor strategis.

IMPC ditutup di level Rp 3.640, menguat 90 poin atau 2,54 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di sektor telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) ditargetkan ke Rp 2.870 atau upside 18,11 persen, dengan katalis dari kolaborasi global, pengembangan AI-RAN, serta dividend yield yang dinilai sangat menarik.

Hingga sesi terakhir, ISAT ditutup di level Rp 2.170, naik 10 poin atau 0,46 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) masuk daftar dengan target harga Rp 2.980 atau upside 14,18 persen, seiring perbaikan margin, efisiensi biaya, dan sentimen positif sektor unggas.

Saham JPFA berakhir di level 2.600, naik 10 poin atau 0,39 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Untuk sektor gas, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ditargetkan ke Rp 1.965 atau upside 12,93 persen, ditopang posisi dominan di infrastruktur gas nasional dan dividend yield mendekati dua digit.

Saham PGAS ditutup di level Rp 1.965, turun 10 poin atau 0,51 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di sektor jasa pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO) memiliki target harga Rp 11.950 atau upside 12,21 persen, dengan katalis dari lonjakan harga saham, rencana akuisisi, dan ekspansi bisnis regional.

Adapun saham PTRO ditutup di level Rp 11.275, anjlok 775 poin atau 6,43 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) ditargetkan menuju Rp 13.350 atau upside 16,59 persen, seiring peningkatan produksi Blok Cepu dan perbaikan kinerja laba.

Saham RATU mengalami tekanan jual sangat kuat pada penutupan perdagangan hari ini.

RATU ditutup di level Rp 9.025, anjlok 1.175 poin atau 11,52 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #prospek #saham #2026 #sejumlah #emiten #bisa #naik #lebih #dari #persen

KOMENTAR