Biaya Hidup Naik, Ini Strategi Berhemat agar Keuangan Tetap Terkendali
Ilustrasi mengatur keuangan. (Unsplash)
19:04
8 Januari 2026

Biaya Hidup Naik, Ini Strategi Berhemat agar Keuangan Tetap Terkendali

Kenaikan biaya hidup kerap terasa “lebih cepat” daripada angka inflasi yang dipublikasikan.

Pada Desember 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 2,92 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 109,92.

Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/mtm) 0,64 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 2,92 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan mengapa angka inflasi tahunan dan inflasi tahun kalender “bertemu” di akhir tahun.

“Pada akhir tahun, inflasi year on year dan inflasi tahun kalender atau year to date akan sama karena yang dibandingkan adalah dua titik yang sama, yakni IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024,” ujarnya.

Bank Indonesia (BI) menggambarkan sumber tekanan harga yang tidak selalu merata di kantong rumah tangga.

BI menyebut inflasi harga yang diatur pemerintah atau administered prices (AP) mencapai 1,58 persen (yoy), sementara inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food (VF) 5,48 persen (yoy), dengan salah satu pendorongnya bawang merah akibat gangguan cuaca dan kenaikan harga benih.

BI juga menyatakan keyakinannya inflasi 2025 dan 2026 tetap terjaga dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Di titik inilah strategi berhemat biasanya bukan sekadar “mengurangi belanja”, melainkan menyusun ulang prioritas, mengunci kebocoran kecil yang rutin, dan membuat sistem agar pengeluaran tidak kembali liar ketika harga naik.

Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.SHUTTERSTOCK/DRAGON IMAGES Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.

Berikut beberapa cara berhemat di tengah kenaikan biaya hidup.

1. Mulai dari angka: audit arus kas dan “kebocoran” kecil

Banyak orang merasa sudah berhemat, tetapi tidak tahu pos mana yang paling menyedot uang. Langkah paling sederhana adalah meninjau arus kas bulanan.

Inflasi membuat nilai uang berkurang, sehingga pengeluaran kecil yang dibiarkan bisa berdampak besar, dan pencatatan pemasukan–pengeluaran membantu memilah mana kebutuhan utama dan mana yang bisa ditekan.

Praktiknya:

  • Ambil mutasi rekening dan e-wallet satu sampai tiga bulan terakhir.
  • Kelompokkan pengeluaran menjadi: pangan, transportasi, tagihan rumah, cicilan atau utang, kesehatan, pendidikan, hiburan, langganan, dan lain-lain.
  • Tandai transaksi berulang yang “tidak terasa”, misalnya biaya admin layanan digital, langganan, ongkir, biaya kecil harian.

Dari sini, target berhemat biasanya paling efektif jika menyasar 3 pos terbesar dulu, bukan mengirit semua pos sekaligus.

2. Perbarui anggaran: definisikan ulang “penting” dan “bisa ditunda”

Setelah mengecek harga kebutuhan harian, susun kembali anggaran dan lihat pengeluaran terbesar. Strategi ini membantu mengontrol pengeluaran tanpa merasa tertekan.

Agar anggaran tidak hanya jadi wacana, beberapa orang memakai kerangka sederhana yang mudah dipantau mingguan:

  • Batas harian atau mingguan untuk pengeluaran variabel, semisal makan di luar, kopi, belanja impulsif.
  • Amplop digital (rekening terpisah) untuk pos besar, seperti pangan, transport, dana sekolah, dan tabungan.
  • “Aturan tunggu” 24 sampai 72 jam untuk pembelian non-esensial, seperti baju, gawai, barang rumah tangga.

Ilustrasi belanja di supermarket.PEXELS/ Marianne Tang Ilustrasi belanja di supermarket.

Di periode harga naik, anggaran biasanya perlu dievaluasi lebih sering, bukan setahun sekali, karena pola belanja bisa berubah hanya karena harga pangan atau ongkos transportasi bergeser.

3. Gunakan metode 50/30/20, lalu sesuaikan dengan realitas

Metode populer 50/30/20 bisa dijadikan sebagai titik awal. Aturan ini membagi pendapatan setelah pajak, yakni 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan.

Perencana keuangan Jordan Hanson menilai metode ini berguna untuk “aturan main” sederhana.

"Siapa pun yang baru mulai membuat anggaran dan mencari aturan atau panduan sederhana dan umum dapat memperoleh manfaat dari penggunaan aturan 50/30/20," jelas Hanson, dikutip dari Fortune.

Namun, kerangka ini sering perlu disesuaikan jika:

  • Porsi cicilan atau sewa sudah tinggi
  • Ada tanggungan keluarga
  • Biaya pendidikan atau transport melonjak.

Intinya, metode 50/30/20 bukan angka sakral. Metode ini berfungsi sebagai alat diagnosis, bagian mana yang “kebanyakan”.

4. Pangan: hemat tanpa mengorbankan kecukupan

Karena komponen pangan sering paling cepat terasa tingginya, strategi berhemat di dapur cenderung paling berdampak. Beberapa pola yang kerap direkomendasikan antara lain sebagai berikut.

Ilustrasi belanja, belanja di supermarket. PIXABAY/TUNG LAM Ilustrasi belanja, belanja di supermarket.

  • Rencanakan menu 3 sampai 7 hari sebelum belanja, agar belanja tidak membeludak karena lapar dan impuls.
  • Belanja dengan daftar belanjaan dan tetapkan batas nominal sebelum masuk toko atau pasar.
  • Prioritaskan bahan serbaguna (telur, tahu/tempe, sayur musiman) yang fleksibel jadi banyak menu.
  • Terapkan prinsip “habiskan dulu” untuk stok di kulkas sebelum belanja berikutnya.

Jika kenaikan harga terasa pada komoditas tertentu, penyesuaian paling realistis biasanya bukan “stop total”, melainkan mengganti frekuensi, porsi, atau memilih substitusi, misal protein hewani tidak setiap hari.

5. Transportasi dan mobilitas: cari penghematan yang tidak mengganggu produktivitas

Pengeluaran transport sering “bocor” lewat kebiasaan kecil: memilih rute mahal, parkir, tol, bensin, atau pesan-antar.

Pengurangan ketergantungan BBM sebagai langkah penting. Beralih ke transportasi umum atau layanan berbasis aplikasi dapat mengurangi pengeluaran, dan untuk jarak pendek berjalan atau bersepeda dapat menghemat biaya sekaligus memberi manfaat kesehatan.

Jika Anda bekerja hybrid, beberapa rumah tangga juga mengunci penghematan lewat:

  • Menjadwalkan hari ke kantor agar sekali jalan bisa merangkap beberapa urusan
  • Membatasi penggunaan kendaraan pribadi untuk rute tertentu saja
  • Menilai ulang kebutuhan “paket” (parkir langganan, tol langganan) jika frekuensi perjalanan menurun.

6. Tagihan rumah: tembak pos tetap dengan negosiasi dan perubahan kebiasaan

Pos tetap (fixed expenses) adalah “pengungkit” penting, sekali turun, dampaknya terasa tiap bulan. Pos yang sering bisa dioptimalkan antara lain sebagai berikut.

  • Langganan internet atau TV atau streaming: evaluasi paket, hapus duplikasi, pertimbangkan paket keluarga bila memang dipakai bersama.
  • Listrik dan air: ubah kebiasaan kecil (jam penggunaan alat berdaya besar, perawatan alat, disiplin mematikan).
  • Telepon seluler: cek pola pemakaian data, kadang paket lebih kecil sudah cukup.

Ilustrasi TV yang dipasang di dinding rumahGetty Images Ilustrasi TV yang dipasang di dinding rumah

Banyak orang hanya fokus mengirit belanja harian, padahal penurunan pos tetap Rp 50.000 sampai Rp 200.000 per bulan bisa setara penghematan “kopi harian” tanpa harus menahan diri setiap hari.

7. “Low-spend month” atau “no-spend rules” untuk mengunci disiplin

Model tantangan belanja (no-spend atau low-spend) sering dipakai sebagai “reset” kebiasaan, terutama setelah periode pengeluaran besar. 

Beberapa contoh aturan praktis seperti berikut ini.

  • Membatasi jajan kopi atau makan di luar
  • Membatalkan langganan bulanan atau tahunan yang tidak perlu
  • Menetapkan kategori yang “stop” sementara, misal baju, buku, atau aksesori.

Kuncinya bukan sekadar menahan belanja, melainkan memindahkan uang yang “selamat” ke pos yang jelas, yakni dana darurat, cicilan, atau tabungan tujuan.

8. Literasi belanja dan tujuan jangka pendek

Tekanan harga memengaruhi perilaku belanja, termasuk pada generasi muda. Tentang perubahan kebiasaan belanja Gen Z, penasihat keuangan Sarah Hamlen menekankan kebutuhan membangun kepercayaan diri finansial.

Dalam praktik rumah tangga, langkah yang sering dipakai adalah membuat target kecil, misalnya:

  • Menetapkan nominal tabungan otomatis mingguan
  • Menutup satu utang konsumtif
  • Mengurangi 1 sampai 2 langganan
  • Menahan pembelian impulsif selama 30 hari.

Target kecil yang tercapai biasanya memudahkan disiplin pada target berikutnya—terutama saat harga kebutuhan naik.

Tag:  #biaya #hidup #naik #strategi #berhemat #agar #keuangan #tetap #terkendali

KOMENTAR