Apa Itu IndONIA? Suku Bunga Acuan Pasar Uang Pengganti JIBOR
Ilustrasi Bank Indonesia(SHUTTERSTOCK/HARISMOYO)
14:12
8 Januari 2026

Apa Itu IndONIA? Suku Bunga Acuan Pasar Uang Pengganti JIBOR

- Bank Indonesia (BI) resmi menggunakan Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) sebagai suku bunga acuan di pasar keuangan mulai 2026.

Hal ini menyusul penghentian publikasi Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) mulai 1 Januari 2026.

Mengutip Whitepaper Penggunaan IndONIA yang dipublikasikan BI, suku bunga acuan di pasar keuangan merepresentasikan nilai uang serta biaya peminjaman melalui berbagai instrumen keuangan.

Referensi suku bunga atau benchmark rate digunakan untuk membandingkan harga atau suku bunga suatu produk keuangan seperti pinjaman, surat berharga, dan derivatif terhadap benchmark atau terhadap produk keuangan lainnya.

Selain itu benchmark rate juga dapat dijadikan indikator pengambilan keputusan dalam investasi, pinjaman, dan biaya serta alat untuk melakukan valuasi aset atau kewajiban pelaku ekonomi.

Dengan demikian, keberadaan suku bunga acuan yang kredibel menjadi elemen penting dalam sistem keuangan.

Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Arief Rachman mengatakan, selama ini benchmark rate di pasar uang Indonesia masih didominasi oleh kuotasi yang bersumber dari panel perbankan, yakni JIBOR.

Namun, sejalan dengan agenda global benchmark reform, Indonesia memerlukan referensi suku bunga rupiah yang lebih kuat, andal, dan memiliki kredibilitas tinggi dengan basis transaksi riil untuk memperdalam pasar keuangan.

Oleh karenanya, BI mengganti publikasi JIBOR dengan IndONIA mulai 2026.

"Yang kita lakukan di Indonesia ini, ketika kita menghentikan JIBOR dan memperkenalkan IndONIA, ini merupakan bagian dari global benchmark reform di dunia," ujar Arief saat Taklimat Media di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Apa Itu IndONIA?

Mengutip Peraturan BI Nomor 20/7/PBI Tahun 2018, IndONIA adalah indeks suku bunga atas transaksi pinjam-meminjamkan rupiah tanpa agunan yang dilakukan antarbank untuk jangka waktu overnight di Indonesia.

Suku bunga IndONIA ditetapkan oleh BI berdasarkan rata-rata suku bunga pinjam-meminjam antarbank pada seluruh bank konvensional di Indonesia.

BI juga berkewajiban melakukan publikasi IndONIA setiap akhir hari transaksi pada halaman depan website BI agar pelaku pasar lebih mudah menemukan publikasi IndONIA.

Bagaimana Suku Bunga IndONIA Terbentuk?

Arief menjelaskan, berbeda dengan JIBOR yang dihitung berdasarkan rata-rata harga penawaran, IndONIA dihitung dari rata-rata transaksi aktual yang sudah terjadi di pasar.

BI akan mengumpulkan harga transaksi pasar uang antarbank (PUAB) overnight yang telah terjadi dari seluruh bank konvensional yang saat ini berjumlah 91 bank.

Lalu BI akan menghitung rata-rata tertimbang by volume transaksi tersebut untuk menghasilkan IndONIA.

Metode tersebut berbeda dengan perhitungan suku bunga JIBOR yang hanya ditetapkan dari harga kuotasi penawaran PUAB dari 17 bank kontributor.

Pada JIBOR, BI menetapkan 17 bank kontributor untuk menyampaikan kuotasi suku bunga penawaran ke BI setiap hari kerja.

Selanjutnya, BI akan menghitung dengan metode rata-rata sederhana untuk menghasilkan JIBOR.

Dengan kata lain, suku bunga IndONIA tidak bisa dimanipulasi atau direkayasa karena hanya transaksi yang benar-benar terjadi di pasar yang masuk dalam perhitungan.

Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan BI mengganti JIBOR dengan IndONIA karena IndONIA dinilai lebih transparan dan mencerminkan kondisi aktual pasar keuangan dibandingkan JIBOR. "Kenapa IndONIA pakai harga yang terjadi? Karena itu lebih mencerminkan kondisi di pasar. Jadi IndONIA lebih memenuhi syarat sebagai suku bunga yang bisa menjadi acuan," ucapnya.

Proses Transisi JIBOR ke IndONIA Guna memastikan proses transisi dari JIBOR ke IndONIA mulus, BI telah mempublikasikan IndONIA secara paralel dengan JIBOR sejak 1 Agustus 2018.

Hal ini dilakukan agar pelaku pasar keuangan mulai terbiasa mengacu pada IndONIA.

Selain itu, BI juga telah mengumumkan penghentian publikasi JIBOR sejak 27 September 2024, disertai dengan Panduan Transisi Pengakhiran JIBOR yang disusun oleh National Working Group on Benchmark Reform.

Menurut Arief, saat ini pelaku pasar keuangan sudah mulai mengalihkan referensi suku bunga dari JIBOR menjadi IndONIA.

Hal ini terlihat dari nilai kontrak keuangan yang jatuh tempo sebelum 31 Desember 2025.

Jumlah kontrak keuangan yang mengacu pada JIBOR telah turun 67,7 persen dari sebesar Rp 140.370.000.000.000 pada September 2024 menjadi Rp 45.280.000.000.000 pada September 2025.

Sementara nilai kontrak yang memiliki fallback rate (telah dinegosiasikan dengan rate yang baru pada saat JIBOR dihapuskan) yang jatuh tempo setelah 31 Desember 2025, meningkat 35,9 persen dari Rp 164.480.000.000.000 pada September 2024 menjadi Rp 223.760.000.000.000 pada September 2025.

"Di September angkanya udah turun signifikan, karena memang udah mau berakhir. Ini mengindikasikan bahwa memang pelaku masyarakat sudah melakukan persiapan. Jadi mungkin angkanya di akhir Desember itu sudah hampir mendekati sudah tidak lagi yang masih menggunakan JIBOR," tuturnya.

Tag:  #indonia #suku #bunga #acuan #pasar #uang #pengganti #jibor

KOMENTAR