Pengangguran Gen Z Terdidik Tinggi, CSIS Sebut Pendidikan Belum Jawab Kebutuhan Industri
Pencari kerja antre memasuki aula saat Job Fair Kudus 2025 di Gedung Hraha Mustika, Desa Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bursa kerja yang menghadirkan 20 perusahaan dengan total 1.401 lowongan pekerjaan bagi penyandang disibilitas, lulusan perguruan tinggi dan SMA sebagai upaya penyerapan tenaga kerja serta menekan angka pengangguran. (ANTARA FOTO/Nirza)
13:08
8 Januari 2026

Pengangguran Gen Z Terdidik Tinggi, CSIS Sebut Pendidikan Belum Jawab Kebutuhan Industri

Center for Strategic and International Studies (CSIS) berpandangan bahwa tingginya pengangguran di kalangan usia muda dan berpendidikan bukan semata-mata dipicu oleh aturan ketenagakerjaan.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan menyebut persoalan ini lebih disebabkan oleh belum selarasnya sistem pendidikan dengan kebutuhan dan permintaan dunia usaha yang ada di dalam negeri.

"Seharusnya membenahi tidak hanya di sektor-sektor itu saja tapi juga sektor dari sektor pendidikannya bagaimana membuka program-program yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja," ujar Deni dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Deni menjelaskan bahwa ada semacam ketidakcocokan (mismatch) antara keterampilan yang dibutuhkan industri dengan kompetensi yang diajarkan oleh lembaga pendidikan.

Ia mencontohkan misalnya di universitas maupun sekolah kejuruan berfokus pada peningkatan jumlah peserta didik tanpa mempertimbangkan prospek kerja lulusan tersebut.

Hal inilah yang membuat lulusan tidak bisa diserap pasar kerja, dan cenderung berjalan sendiri tanpa integrasi dengan kebutuhan sektor riil.

Tak hanya faktor ketidakcocokkan, namun Deni juga menyoroti adanya struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bias pada sektor pada modal.

Sehingga pola pertumbuhan tersebut dinilai tidak mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sementara struktur tenaga kerja nasional didominasi lulusan pendidikan menengah.

Sementara di sisi lain, struktur tenaga kerja kita itu banyak kan SMP, SMA, STM,” ujarnya.

Menurut data CSIS, tingkat pengangguran terbesar masih berasal dari lulusan SMA dan SMK.

Namun, pengangguran di kalangan lulusan diploma hingga pascasarjana juga mulai banyak meski jumlahnya relatif lebih kecil.

Meski secara persentase tidak dominan, Deni menilai pengangguran di kalangan terdidik bisa memicu gejolak sosial.

Meskipun begitu, CSIS mencatat, pengangguran usia muda dan terdidik terus meningkat di tengah memburuknya kualitas lapangan kerja.

Meski tingkat pengangguran terbuka relatif rendah, sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal.

Selain itu, pemutusan hubungan kerja (PHK) juga terus bertambah.

Sepanjang 2025, sekitar 80 ribu pekerja tercatat terkena PHK, dengan konsentrasi terbesar di Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah.

Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 4,85 persen per Agustus 2025. Angka ini setara dengan 7,46 juta orang.

Dengan tingkat pengangguran mencapai 4,85 persen, artinya sekitar lima orang penganggur dari 100 orang angkatan kerja.

BPS mencatat, untuk angkatan kerja per Agustus 2025 mencapai 154 juta orang.

"Angkatan kerja yang tidak terserap menjadi pengangguran sebesar 7,46 juta orang atau menurun sekitar 4.000 orang dibandingkan bulan Agustus 2024," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Tag:  #pengangguran #terdidik #tinggi #csis #sebut #pendidikan #belum #jawab #kebutuhan #industri

KOMENTAR