Dekarbonisasi Jadi Syarat Mutlak Industri Manufaktur RI Tembus Pasar Ekspor
- SUN Energy pimpin dekarbonisasi industri 2026 lewat integrasi PLTS dan teknologi baterai BESS.
- Kapasitas PLTS industri capai 240 MW; fokus pada efisiensi emisi untuk penuhi standar CBAM Eropa.
- Inovasi CBESS pertama di sektor tambang dukung pasokan energi bersih yang stabil dan terintegrasi.
Memasuki awal tahun 2026, operasional rendah karbon bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku industri di Indonesia, melainkan prasyarat mutlak untuk menembus pasar global.
Implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa tahun ini memaksa sektor manufaktur nasional mempercepat dekarbonisasi agar tetap kompetitif.
Menjawab tantangan tersebut, SUN Energy mempertegas arah bisnisnya dengan menawarkan solusi keberlanjutan terintegrasi. Tidak hanya fokus pada pemasangan panel surya, perusahaan kini mengandalkan integrasi antara pembangkitan, penyimpanan energi melalui Battery Energy Storage System (BESS), serta sistem manajemen digital untuk memastikan efisiensi emisi yang sistematis.
Data PLN mencatat pertumbuhan pesat PLTS Atap yang kini mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas 772,9 MW. Di tengah tren ini, SUN Energy mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pengembang terbesar dengan kapasitas terpasang di Indonesia mencapai 240 MW.
Pertumbuhan signifikan tercatat pada sektor dengan intensitas energi tinggi, seperti semen, FMCG, kertas, elektronik, hingga otomotif yang terkonsentrasi di pusat manufaktur Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Secara global, SUN Energy bahkan telah mengoperasikan proyek sebesar 420 MW di empat negara, yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon hingga 506 juta kg CO.
Salah satu tonggak penting SUN Energy adalah keberhasilan implementasi Containerized Battery Energy Storage System (CBESS) di sektor pertambangan pada 2025. Proyek ini merupakan yang pertama di Indonesia, memungkinkan optimalisasi energi bersih untuk operasional industri dengan karakteristik beban tinggi dan fluktuatif.
“Fokus kami pada 2026 tidak hanya pada proyek surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi (BESS). Integrasi antara pembangkitan dan penyimpanan menjadi pondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi,” ujar Emmanuel Jefferson Kuesar, CEO SUN Energy.
Ke depan, SUN Energy memperluas kolaborasi dengan kawasan industri strategis seperti KIIC, GIIC, dan Jababeka, melayani lebih dari 20 tenant dengan total kapasitas melampaui 20 MW.
“Kami membuka kerja sama yang lebih erat dengan kawasan industri untuk membangun sistem energi terintegrasi, termasuk integrasi dengan elektrifikasi armada kendaraan operasional dan infrastruktur kendaraan listrik. Pendekatan ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi secara menyeluruh, dari sumber energi, penyimpanan, hingga mobilitas, sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.” katanya.
Memasuki 2026, SUN Energy akan melanjutkan penguatan peran di sektor industri sekaligus memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP) guna mendukung pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kontribusi terhadap bauran energi nasional serta memperluas jangkauan solusi energi surya.
Sejalan dengan perluasan segmen tersebut, SUN Energy juga memperkuat ekosistem bisnis melalui integrasi SUN Mobility sebagai solusi elektrifikasi transportasi dan infrastruktur kendaraan listrik, serta SUN Terra yang berfokus pada pengelolaan dan optimalisasi sistem energi surya.
Tag: #dekarbonisasi #jadi #syarat #mutlak #industri #manufaktur #tembus #pasar #ekspor