Emas dan Reruntuhan Kepercayaan Global
Harga emas hari ini. (sahabat.pegadaian.co.id)
11:48
5 Januari 2026

Emas dan Reruntuhan Kepercayaan Global

KETIKA grafik harga emas menembus level psikologis USD 3.458 per troy ounce pada kuartal ketiga 2025, sebagaimana dicatat Gregory Shearer dalam J.P. Morgan Global Commodities Outlook 2025, dunia tidak sedang merayakan kemakmuran. Lonjakan ini adalah denyut jantung yang tak beraturan dari sebuah peradaban yang sedang mengalami serangan kecemasan kolektif.

Emas tidak lagi sekadar logam mulia. Ia telah bertransformasi menjadi totem kecemasan, simbol tempat manusia menggantungkan sisa-sisa kewarasan ketika “Tuhan-Tuhan” lama bernama Dolar dan institusi multilateral mulai kehilangan legitimasi. Fenomena ini bukan anomali pasar biasa, melainkan gejala klinis dari gangguan psikopolitik global.

Dalam lima tahun terakhir, kita menyaksikan pergeseran tektonik dari trust-based society menuju fear-based survivalism. Emas, dengan sifat fisiknya yang tak terbantahkan, menjadi “Yang Nyata”—meminjam istilah Jacques Lacan—di tengah dunia yang semakin dipenuhi simulakra dan janji kosong.

Kenaikan harga emas adalah jeritan diam dari miliaran manusia yang menyadari bahwa kontrak sosial global telah dilanggar sepihak. Puncak pengkhianatan global ini terjadi pada 2 April 2025, hari yang secara ironis disebut “Liberation Day” oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kebijakan tarif universal 10% dan tarif resiprokal hingga 50% yang diumumkan hari itu, menurut Center for Strategic and International Studies Report 2025, menurunkan PDB AS sebesar 0,8% dan menaikkan harga domestik 7,1%. Namun dampak psikologisnya jauh lebih mematikan: ia menghancurkan ilusi bahwa ada “orang dewasa” yang menjaga stabilitas dunia.

Dalam perspektif psikologi hegemoni, tindakan ini menciptakan state of exception permanen. Ketidakpastian bukan lagi risiko yang bisa dihitung, melainkan atmosfer yang kita hirup. Fluktuasi harga emas pasca-“Liberation Day” mencerminkan hilangnya otoritas simbolik seperti WTO. Ketika hukum rimba kembali berlaku, emas menjadi satu-satunya bahasa universal yang tidak bisa dibungkam oleh sanksi atau dimanipulasi oleh percetakan uang fiat.

Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa, dalam pidatonya Oktober 2025 sebagaimana tercatat dalam ECB Annual Address 2025, mengakui bahwa dominasi dolar sedang terkikis dan emas kini menjadi “tujuan akhir dari safe-haven.”

Pengakuan ini memvalidasi kecemasan publik: kita tidak lagi membeli emas untuk mencari untung (return on investment), tetapi semata-mata agar aset tidak musnah (return of investment).

Nihilisme finansial generasi muda

Fenomena emas tidak hanya terjadi di pasar global, tetapi juga di kamar-kamar tidur anak muda kita. Generasi Z dan Milenial merespons kekacauan ini dengan apa yang disebut sebagai Nihilisme Finansial. Mereka merasa sistem ekonomi neoliberal telah gagal total memberikan janji mobilitas sosial.

Indonesia Millennial and Gen Z Report 2025 dari IDN Research Institute menunjukkan paradoks menyentuh hati: di satu sisi anak muda terjebak dalam spekulasi aset digital yang volatil, namun di sisi lain, 66% dari mereka memilih emas sebagai jangkar hidup. Ini bukan sekadar keputusan investasi, melainkan mekanisme pertahanan diri terhadap Burnout Society, konsep dari filsuf Byung-Chul Han yang relevan membaca situasi 2025.

Generasi muda mengalami kelelahan kronis akibat tuntutan produktivitas di tengah inflasi yang mencekik. Menabung uang fiat di bank dianggap sia-sia karena nilainya terus tergerus. Membeli emas digital atau fisik adalah bentuk pemberontakan diam-diam. Mereka menolak berpartisipasi dalam “kebohongan” uang kertas yang dicetak tanpa henti oleh generasi boomer yang berkuasa.

Di tingkat negara, nihilisme serupa termanifestasi dalam peluncuran “The Unit” oleh blok BRICS pada 31 Oktober 2025. Mata uang berbasis 40% emas ini, sebagaimana dilaporkan Evrimagaci Global Finance Review 2025, adalah upaya Global South melepaskan diri dari hegemoni psikologis Barat. Negara-negara berkembang tidak lagi mau menjadi korban kebijakan moneter Washington.

Emas di sini berfungsi sebagai alat pemberdayaan psikopolitik, sebuah pernyataan bahwa nilai harus berbasis pada realitas fisik, bukan intimidasi militer atau sanksi ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bahwa emas bukan hanya instrumen finansial, tetapi juga simbol perlawanan generasi dan negara terhadap nihilisme sistemik. Ia menjadi jangkar psikologis di tengah badai ketidakpastian.

Jalan pulang melalui kedaulatan emas

Pertanyaannya: bagaimana kita merespons situasi yang tampak tanpa harapan ini? Solusinya tidak bisa parsial. Kita membutuhkan reformasi sistemik yang berakar pada empati terhadap penderitaan rakyat. Pertama, di level domestik, inisiatif “Bullion Bank” yang diluncurkan Pemerintah Indonesia pada Februari 2025, sebagaimana dicatat OJK Financial Innovation Report 2025, harus diperluas secara radikal.

Emas tidak boleh hanya menjadi aset mati yang ditimbun karena ketakutan. Ia harus didemokratisasi. Bank Syariah Indonesia dan Pegadaian perlu menciptakan instrumen yang memungkinkan rakyat kecil “menyekolahkan” emas mereka untuk modal produktif tanpa kehilangan kepemilikan. Ini akan mengubah psikologi survival menjadi psikologi growth, memberikan rasa aman sekaligus harapan.

Kedua, di panggung global, Indonesia harus memimpin narasi “Jubilee 2025” atau penghapusan utang, sebagaimana disuarakan aliansi masyarakat sipil global dalam Debt Justice Global Appeal 2025. Instabilitas multilateral terjadi karena ketimpangan ekstrem. Memaksa negara miskin membayar utang berbunga tinggi dalam dolar yang dimanipulasi saat harga komoditas dipermainkan adalah bentuk perbudakan modern.

Penghapusan utang bukan tindakan amal, melainkan langkah korektif rasional untuk mencegah keruntuhan total sistem keuangan yang bisa memicu perang global.

Ketiga, kita perlu melakukan Re-edukasi Nilai. Masyarakat harus diajak kembali memahami uang sebagai alat tukar nilai, bukan tujuan akhir. Literasi keuangan harus memasukkan aspek psikologis: bagaimana mengelola kecemasan di tengah krisis tanpa jatuh pada perilaku spekulatif yang merusak diri sendiri.

Pada akhirnya, kilau emas yang menyilaukan mata kita hari ini adalah peringatan. Jika kita tidak segera memperbaiki retakan dalam hubungan antarmanusia dan antarnegara, emas akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa di tengah puing-puing peradaban. Kita harus memilih: terus menyembah ketakutan yang disimbolkan emas, atau mulai membangun kembali kepercayaan yang memanusiakan kita semua.

Tag:  #emas #reruntuhan #kepercayaan #global

KOMENTAR