Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya
– Fenomena embun es atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
Bahkan, ketebalan embun es berpotensi meningkat seiring turunnya suhu udara pada puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus mendatang.
Embun upas di Dieng diperkirakan masih akan berlangsung
Sudah terjadi sejak minggu lalu
Fenomena embun es atau embun upas yang mulai muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah
Dalam beberapa hari terakhir, embun upas kembali terlihat menyelimuti rerumputan dan tanaman di sejumlah area di Dieng.
Fenomena alam yang menjadi ciri khas musim kemarau di dataran tinggi tersebut menarik perhatian wisatawan yang datang untuk menyaksikan langsung hamparan kristal es yang terbentuk akibat suhu udara ekstrem.
Salah seorang warga setempat, Hasto mengatakan, kemunculan embun upas tahun ini sudah berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Fenomena tersebut mulai terlihat pada Minggu (7/6/2026) pagi meski masih dalam kondisi tipis.
Pada hari berikutnya, Senin (8/6/2026), area yang tertutup embun es semakin luas. Sementara itu, pada Selasa (9/6/2026) pagi, lapisan kristal es terlihat lebih tebal dibandingkan dua hari sebelumnya.
“Sudah tiga hari berturut-turut muncul. Hari Minggu sudah ada walaupun tipis. Hari Senin kemarin lumayan luas dan hari ini lebih tebal lagi,” kata Hasto, Rabu (10/6/2026).
- Menikmati Dinginnya Dieng Lewat Tren Glamping yang Makin Diminati Wisatawan
- Dieng Culture Festival 2026 Digelar 28-30 Agustus, Ada Jazz Atas Awan
Bagaimana embun upas Dieng terbentuk?
Suhu ekstrem jadi faktor utama
Kawasan Candi Arjuno, Dieng menjadi salah satu tempat melihat embun upas atau embun es. Kemunculan embun upas atau embun es Dieng diperkirakan masih berlangsung beberapa pekan ke depan. Kapan puncaknya terjadi?
Menurut Hasto, suhu udara yang sangat rendah menjadi faktor utama terbentuknya embun upas.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, suhu udara pada Senin (8/6/2026) malam mencapai nol derajat celsius dan menjelang pagi sempat turun hingga minus satu derajat Celsius.
Kondisi tersebut menyebabkan uap air yang menempel pada rumput dan tanaman membeku menjadi kristal es.
Fenomena itu biasanya terjadi saat langit cerah dan kelembapan udara rendah pada musim kemarau.
- 8 Pemandian Air Panas di Dieng, Cocok Untuk Hangatkan Badan
- Catat! Ini Nomor Kontak Darurat dan Info Penting Saat ke Dieng Wonosobo
Meski embun es yang muncul saat ini sudah cukup tebal, Hasto menilai fenomena tersebut belum mencapai puncaknya. Ia memperkirakan ketebalan embun upas masih dapat bertambah dalam beberapa minggu ke depan.
“Kalau kemungkinan bisa lebih tebal lagi karena memang sekarang masih awal musim kemarau. Biasanya puncaknya sekitar Juli sampai Agustus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, periode Juli hingga Agustus selama ini dikenal sebagai waktu ketika suhu udara di Dieng berada pada titik terendah.
Pada periode tersebut, peluang munculnya embun upas biasanya lebih besar dan area yang tertutup embun es juga cenderung lebih luas.
Berdampak bagi sektor pertanian
Selain menjadi fenomena alam yang dinantikan wisatawan, embun upas juga memiliki dampak bagi sektor pertanian. Suhu udara yang sangat rendah dapat menyebabkan tanaman pertanian mengalami kerusakan, terutama pada komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan warga di kawasan Dieng.
Namun di sisi lain, kemunculan bun upas menjadi daya tarik wisata musiman yang mampu mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.
Salah satu wisatawan asal Salatiga, Erwin, mengaku sengaja datang ke Dieng setelah mendengar informasi mengenai kemunculan embun es.
Ia bersama rombongannya berangkat pada malam hari agar dapat tiba sebelum waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena tersebut.
“Senang sekali bisa melihat langsung. Ini fenomena yang langka dan tidak setiap saat bisa dilihat,” kata Erwin.
Tag: #fenomena #embun #upas #dieng #muncul #lagi #perkiraan #waktu #puncaknya