Sama-sama Kolesterol, Apa Bedanya LDL dan HDL?
Ilustrasi Pemeriksaan Kolesterol(Pexels)
21:20
10 Juni 2026

Sama-sama Kolesterol, Apa Bedanya LDL dan HDL?

Kadar kolesterol yang tinggi identik dengan berbagai risiko penyakit seperti serangan jantung dan stroke. Namun, tidak semua kolesterol buruk bagi kesehatan, ada yang namanya kolesterol jahat dan baik. Bagaimana kolesterol bisa dikatakan “jahat” dan “baik”? Simak selengkapnya berikut ini.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Febtusia Puspitasari, Sp.JP, FIHA, FAsCC, menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya tetap membutuhkan lemak dan kolesterol untuk menjalankan berbagai fungsi penting.

Lemak dibutuhkan antara lain untuk membantu proses tubuh, menjaga suhu, serta mendukung berbagai fungsi sel. Hal ini menjadi masalah ketika kadarnya berlebihan dan mulai menumpuk di pembuluh darah.

Baca juga: 5 Mitos dan Fakta soal Angin Duduk yang Harus Diketahui, Bukan Masuk Angin

“Kalau kita katakan kolesterol jahat, itu adalah LDL dan trigliserida. Kenapa dikatakan jahat, karena dia senang menempel di dinding pembuluh darah yang rusak ini tadi,” papar dr. Febtusia dalam sesi edukasi media yang digelar oleh Daewoong Pharmaceutical Indonesia dan PERKI di Noble House, Jakarta pada Selasa (09/06).

Jika Low-Density Lipoprotein (LDL) adalah kolesterol jahat, sebaliknya High-Density Lipoprotein (HDL) adalah kolesterol baik karena memiliki fungsi yang berbeda.

HDL membantu membawa kolesterol keluar dari pembuluh darah untuk kemudian diproses dan dibuang oleh hati sehingga tidak menumpuk di dinding arteri.

“Kalau HDL dikatakan kolesterol baik, karena dia ngajak-ngajak (tidak menempel) dan keluar nanti dimetabolisme sama hati kita,” jelas dr. Febtusia.

Karena perannya tersebut, kadar HDL yang lebih tinggi umumnya lebih menguntungkan bagi kesehatan pembuluh darah dan jantung.

Baca juga: Tengkuk Pegal Usai Makan Santan, Benarkah karena Kolesterol Melonjak?

Bagaimana kolesterol jahat menyebabkan penyumbatan?

Ilustrasi Cek Kesehatan JantungPexels Ilustrasi Cek Kesehatan Jantung

Pembuluh darah seperti selang air. Saat masih baru, bagian dalam selang bersih dan aliran air mengalir lancar. Namun seiring berjalannya waktu, kotoran dapat menempel dan membuat saluran menyempit.

Kondisi serupa dapat terjadi pada pembuluh darah manusia. Ketika dinding pembuluh darah mengalami kerusakan akibat hipertensi, diabetes, merokok, atau faktor risiko lain, LDL lebih mudah menempel dan membentuk plak.

Baca juga: Tips Memilih Menu Sarapan Demi Menjaga Kadar Kolesterol

“Tekanan darah yang bisa dikompensasi tubuh dengan baik itu adalah 130/80. Jadi, kalau lebih tinggi dari itu dinding pembuluh darahnya mulai erosi. Begitu dindingnya erosi, itu yang kita sebut sebagai endothelial dysfunction, disfungsi dari sel-sel yang membentuk dinding pembuluh darah itu. Maka, mulailah di situ kolesterol jahat (menempel),” papar dr. Febtusia.

Penumpukan tersebut berlangsung perlahan. Dari waktu ke waktu, plak semakin besar sampai mempersempit aliran darah yang membawa oksigen ke berbagai organ, termasuk jantung.

Melalui materi edukasi bersama dr. Febtusia, LDL dijelaskan sebagai kolesterol yang menumpuk di dinding arteri, membentuk plak aterosklerosis, serta dapat menyebabkan penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah.

Oleh karena itu, semakin tinggi kadar LDL, semakin besar pula risikonya terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah.

Baca juga: Kadar Kolesterol Terlalu Tinggi atau Rendah Tingkatkan Risiko Demensia

Menjaga keseimbangan kolesterol sedini mungkin

Ilustrasi Cek Kesehatan JantungPexels Ilustrasi Cek Kesehatan Jantung

Menurut dr. Febtusia, masyarakat sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka kolesterol total ketika menjalani pemeriksaan kesehatan. Sebab, kolesterol total merupakan gabungan dari berbagai komponen, termasuk LDL, HDL, dan trigliserida.

“Sering orang bilang, kolesterolnya berapa? Jangan lihat (angka) itu. Karena kolesterol total itu adalah penggabungan antara yang jahat sama yang baik,” kata dr. Febtusia.

“Nah yang harus kita lihat justru nilai dari LDL sama trigliserida itu berapa, dan nilai HDL itu berapa. Karena HDL ini harus as high as you can,” lanjutnya.

Baca juga: 6 Camilan Buah Sehat untuk Penderita Kolesterol Tinggi

Dia menambahkan, tingginya kadar kolesterol tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi awal berbagai masalah kardiovaskular. Risiko tersebut semakin meningkat pada orang yang merokok, mengalami obesitas, hipertensi, diabetes, atau kurang bergerak.

Untuk menekan risiko tersebut, perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok, menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan mengontrol berat badan perlu dilakukan.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala atau medical check up (MCU) juga penting dilakukan agar kadar LDL dan HDL dapat dipantau sejak dini.

Baca juga: Sarapan Jadi Kunci Diet Tinggi Serat, Ini Cara Ahli Gizi Menurunkan Kolesterol

Tag:  #sama #sama #kolesterol #bedanya

KOMENTAR