Semalam di The Gunawarman, Menikmati Jeda di Jakarta Selatan
Buka sejak 2017 lalu, The Gunawarman menjadi tujuan favorit bagi warga Jakarta untuk staycation saat akhir pekan atau libur panjang. Hotel ini memiliki beberapa tipe kamar, seperti The Mansard ala bangsawan Britania Raya, The White Room yang serba putih, serta The Wood Deluxe dengan dominasi elemen kayu. (Dok. The Gunawarman)
16:14
25 Maret 2026

Semalam di The Gunawarman, Menikmati Jeda di Jakarta Selatan

– Jalan Gunawarman di Jakarta Selatan punya ruang tenang untuk menepi, baik sendiri ataupun bersama orang terdekat. Terletak di jantung Gunawarman, Selong, Kebayoran Baru, The Gunawarman bisa jadi pilihan untuk retreat sejenak dari rutinitas.

Berbeda dengan hotel lain, The Gunawarman mengusung gaya arsitektur khas Eropa klasik. Sejauh mata memandang, pengunjung dimanjakan oleh detail arsitektur yang menawan. Di hotel butik ini, setiap tamu dapat merasakan suasana yang berbeda.

Hampir setiap sudut hotel menghadirkan nuansa bangunan tua Eropa yang hangat sekaligus fotogenik.

Pada momen libur Lebaran, Kompas.com berkesempatan menginap semalam menyambut Idul Fitri, jauh dari sanak dan saudara.

Hotel ini memiliki beberapa tipe kamar, seperti The Mansard ala bangsawan Britania Raya, The White Room yang serba putih, serta The Wood Deluxe dengan dominasi elemen kayu.

Baca juga: Serunya Berburu Telur Emas di Padma Hotels Saat Paskah 2026

Adapun kamar yang menjadi primadona adalah The White Room, dengan satu sisi dinding berupa kaca besar dari lantai hingga langit-langit.

Namun kali ini, Kompas.com memilih rehat di The Mansard Room yang berada di lantai paling atas. Kamar ini menawarkan konsep ruang yang berbeda.

Sebelum manyelisik area kamar lebih jauh, pengalaman dimulai dari bagaimana hotel ini menyambut para tamunya.

Dinding dengan dominasi warna coklat dan material kayu semakin kuat dengan kehadiran lukisan-lukisan klasik. Sentuhan ini menjadikan area lounge dan restoran di The Gunawarman makin menawan.KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Dinding dengan dominasi warna coklat dan material kayu semakin kuat dengan kehadiran lukisan-lukisan klasik. Sentuhan ini menjadikan area lounge dan restoran di The Gunawarman makin menawan.

Begitu pintu utama dibuka, suasana langsung terasa berubah. Pencahayaan temaram dengan dominasi warna hangat menciptakan kesan tenang sejak awal.

Area resepsionis yang minimalis tertata rapi di dekat elevator, menyatu dengan lounge berisi sofa beludru berwarna ungu dan biru tua.

Baca juga: Tempat Staycation Unik, 5 Hotel Bergaya Jepang di Jakarta

Menariknya, proses check-in berlangsung tanpa formalitas yang kaku. Tamu dipersilakan duduk, menyerahkan identitas, lalu menunggu sejenak. Tak lama setelah menikmati minuman penyambut berupa jeruk mandarin segar, key card pun diberikan.

Saat Kompas.com berada di sana, ritmenya tidak terasa terburu-buru, tetapi tetap efisien. Sambil menunggu, perhati tertuju pada detail ruang, mulai dari meja marmer, kursi rotan, hingga lampu gantung yang menggantung rendah dari plafon tinggi.

Dinding dengan dominasi warna coklat dan material kayu semakin kuat dengan kehadiran lukisan-lukisan klasik.

Perjalanan menuju kamar menghadirkan suasana yang konsisten. Koridor dibuat tidak terlalu terang, dengan pencahayaan lembut yang membuat langkah terasa lebih pelan.

Warna dinding terracotta di The Mansard Room memberi kesan hangat sejak awal. Dipadukan dengan furnitur kayu gelap dan aksen biru tua, ruangan terasa tenang tanpa banyak elemen tambahan. Tempat tidur menjadi pusat perhatian, lengkap dengan headboard klasik dan bantal dekoratif bernuansa emas yang tetap terasa proporsional. 
KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Warna dinding terracotta di The Mansard Room memberi kesan hangat sejak awal. Dipadukan dengan furnitur kayu gelap dan aksen biru tua, ruangan terasa tenang tanpa banyak elemen tambahan. Tempat tidur menjadi pusat perhatian, lengkap dengan headboard klasik dan bantal dekoratif bernuansa emas yang tetap terasa proporsional.

The Mansard Room, ruang intim bergaya klasik 

Begitu pintu kamar dibuka, The Mansard Room langsung menunjukkan karakternya. Hal pertama yang terasa adalah bentuk ruang dengan atap miring di salah satu sisi membuat kamar ini berbeda dari kamar hotel pada umumnya.

Baca juga: 5 Pilihan Staycation di Jakarta dengan Vibes Bali, Cocok buat Liburan Singkat

Area dekat jendela terasa lebih rendah, menciptakan suasana yang lebih intim.

Warna dinding terracotta memberi kesan hangat sejak awal. Dipadukan dengan furnitur kayu gelap dan aksen biru tua, ruangan terasa tenang tanpa banyak elemen tambahan.

Tempat tidur menjadi pusat perhatian, lengkap dengan headboard klasik dan bantal dekoratif bernuansa emas yang tetap terasa proporsional.

Di seberang tempat tidur, terdapat meja kecil dengan lampu dan telepon bergaya klasik. Penataannya sederhana tetapi fungsional tanpa kesan berlebihan.

Salah satu sudut menarik berada di dekat jendela. Terdapat kursi rotan dan meja bundar kecil yang menghadap keluar. Jendela dengan shutters berwarna hijau toska membiarkan cahaya masuk dari sela-sela.

Duduk sejenak di sana cukup untuk menikmati suasana sambil menyeruput teh chamomile hangat.

Baca juga: Mau Staycation di Hotel, Pakar Sarankan Hindari Kamar Lantai Dasar

Burlington porcelain sink and pedestal di kamar mandi The Gunawarman menghadirkan nuansa Eropa yang sederhana, hangat, dan berkarakter memberi kesan elegan yang klasik.Dok. The Gunawarman Burlington porcelain sink and pedestal di kamar mandi The Gunawarman menghadirkan nuansa Eropa yang sederhana, hangat, dan berkarakter memberi kesan elegan yang klasik.

Sentuhan lawas nan classy

Beralih ke kamar mandi, pendekatannya masih serupa. Sederhana, tetapi berkarakter.

Area dinding dipenuhi ubin kecil berpola grid dengan aksen emas pada keran dan bingkai cermin. Area shower dipisahkan dengan kaca transparan, sedangkan wastafel berdiri sendiri di bagian depan.

Salah satu elemen yang mencuri perhatian adalah penggunaan Burlington porcelain sink and pedestal, yang menghadirkan sentuhan klasik khas Eropa. Desainnya sederhana tapi berkarakter, menyatu dengan konsep ruang yang hangat dan intim seperti pada area kamar.

Tak hanya itu, detail lain yang menarik adalah model flush klasik dengan tuas tarik di bagian atas, sentuhan lawas yang kini jarang ditemukan di hotel modern. Detail kecil ini memperkuat karakter ruang secara keseluruhan.

Pengalaman menginap terasa lengkap saat mencoba sarapan di Sofia at The Gunawarman. Dengan konsep à la carte, pilihan menu memang tidak banyak, tetapi disajikan dengan kualitas yang terjaga.

Setiap pengunjung dapat memesan satu menu utama, dua porsi minuman baik kopi ataupun jus, serta free flow air mineral.

Sarapan di Sofia at The Gunawarman. Pilihan menunya ringkas dengan konsep à la carte, namun setiap hidangan disajikan dengan kualitas yang tetap terjaga.KOMPAS.com/Yakob Arfin T Sasongko Sarapan di Sofia at The Gunawarman. Pilihan menunya ringkas dengan konsep à la carte, namun setiap hidangan disajikan dengan kualitas yang tetap terjaga.

Salah satu menu andalan adalah American Breakfast. Sederhana, tapi terasa nikmat, terlebih saat disantap di ruang dengan furnitur klasik dan suasana yang tidak terlalu padat.

Cahaya mentari yang masuk lembut lewat jendela kaca bening membuat waktu makan terasa lebih santai.

Baca juga: Staycation View Laut, Gunung dan Kota Manado, Harga Mulai Rp 500.000

Suasananya tenang, memberi ruang untuk menikmati hidangan tanpa tergesa. Bukan sekadar sarapan, tetapi juga momen untuk berlama-lama menikmati jeda.

Secara keseluruhan, The Gunawarman tidak sekadar mengandalkan kemewahan yang mencolok. Pengalamannya justru hadir melalui detail, mulai dari cara menyambut tamu, penataan kamar, hingga konsistensi suasana ruang.

Di tengah Jakarta yang padat, The Gunawarman menawarkan cara sederhana untuk menepi sejenak, melalui ruang yang hangat, tenang, dan cukup untuk dinikmati perlahan. Justru di sanalah letak pengalaman menginap yang sesungguhnya.

Tag:  #semalam #gunawarman #menikmati #jeda #jakarta #selatan

KOMENTAR