



Novel Triangle of Destiny Gugah Empati Perjuangan Insan Palestina
–Banyak cara untuk mengungkapkan rasa keprihatinan terhadap nasib rakyat Palestina. Novel karya Okin Lazuardi berjudul Triangle of Destiny itu mengangkat keprihatinan tragedi Palestina. Launching novel fiksi itu digelar di Masjid Al Wasathiyah Telkom Landmark Tower, Surabaya.
Pria kelahiran Surabaya, 23 Januari 1996, itu memilih masjid sebagai tempat peluncuran novel untuk disaksikan para jemaah sholat Ashar. Meski belum pernah menginjakkan kaki di tanah yang menjadi tempat peperangan tersebut, penulis bernama asli Mochamad Sholichin Lazuardi itu percaya diri membuat novel berlatar belakang tragedi di Palestina yang berlangsung hingga saat ini.
”Saya perlu waktu tiga bulan untuk merampungkan Triangle of Destiny. Novel ini merupakan pengembangan dari cerita pendek terbaik di platform berjudul asli Senyum Perpisahan Anthea diterbitkan Defamedia Klaten,” kata Okin Lazuardi.
Penulisan novel itu berdasar riset dan wawancara terhadap warga Palestina yang keluarganya terdampak di Gaza. Yakni Syekh Ahmed Abu Ajwa yang sekaligus ikut hadir di launching novel tersebut.
Syekh Ahmed diceritakan Okin sebagai sosok yang menceritakan kejadian sebenarnya di Palestina sekaligus inspirator dalam menulis novel tersebut.
”Proses pembuatan novel ini terinspirasi dari Syekh Ahmed yang saat ini sedang menyelesaikan studi di FK Unair. Dia bercerita suka duka dengan keluarga menjadi korban perang,” kata Okin.
Dari cerita yang digambarkan Syekh Ahmed, Okin menulis dalam balutan kalimat sederhana dan mudah dicerna dari sisi kemanusiaan. Cerita dari narasumber tersebut dipadukan dengan data riset di dunia maya sehingga menjadi Triangle of Destiny. Saya menggali ide, memetakan nama-nama tokoh mencari dan riset lewat internet juga,” kata Okin Lazuardi.
Okin yang merupakan pensiunan PT Telkom Regional V Jatim Bali Nusra, mengaku memberanikan diri membuat novel tersebut hingga menjadi karya yang siap dipasarkan.
”Novel ini masih terbitan indie, harapannya bisa dilirik penerbit yang lebat besar. Teman-teman mendukung, bahkan ada yang bilang bagus buat film. Ya, saya amini saja,” ucap Okin Lazuardi.
Dia menjelaskan, novel tersebut menceritakan tiga tokoh fiksi bernama Ahmed, Abadard, dan Anthea, dikorelasikan dengan kejadian asli di Palestina. Perjalanan Anthea, gadis Israel menemui kekasihnya di Gaza yang tidak mudah, bahkan di tengah konfrontasi perang antara kelompok Yaubil dan tentara Israel tiada henti.
Dalam perjalanannya, Anthea sempat ditangkap dan ditawan pasukan Zionis. Dia hampir dibunuh Abadard, pemuda Palestina yang keras dan fanatik saat di Terowongan Gaza.
”Anthea berhasil selamat karena ada campur tangan Ahmed yang mengenal baik kekasihnya Yabil yang merupakan sahabat kecil Ahmed sesama Al Hafidz,” jelas Okin Lazuardi.
Namun, Anthea, Ahmed, Abadard dan teman-teman seperjuangan Palestina mengalami tragedi besar saat melangsungkan pesta pernikahan. Sebuah rudal Spike NLOS diluncurkan Zionis, memporak porandakan bangunan dan seisi gedung tempat pesta berlangsung.
”Jadi, cinta mana yang akan menang dalam takdir yang sangat tidak terduga itu, apakah tetap menjadi tujuan dalam kisah ini atau tidak, itulah yang akan ditampilkan dalam novel yang saya buat,” tutur Okin Lazuardi.
Dia menambahkan, novel itu ditulis untuk mengenang dan empati pada warga Gaza. Mereka mengumandangkan azan yang menyayat hati di tengah konfrontasi perang yang tiada henti.
Novel karya Okin Lazuardi berjudul Triangle of Destiny itu mengangkat keprihatinan tragedi Palestina. Launching novel fiksi itu digelar di Masjid Al Wasathiyah Telkom Landmark Tower, Surabaya.
Tag: #novel #triangle #destiny #gugah #empati #perjuangan #insan #palestina