



Sajak: Ketika Kampung Lebih Berisik daripada Kota
Ketika Kampung Lebih Berisik daripada Kota
Kampung mengusirmu dengan lidahnya yang
senantiasa diasah oleh api. Kau pun menghambur
ke pelukan kota kecil nan fakir. Berkerabat knalpot,
klakson, asap, debu, yang ternyata lebih ramah
ketimbang udara dan kicauan di bubungan rumahmu.
Di ruang ruko, kau tidur beratap bayang-bayang
uang sewa yang tak lagi mampu kau bayar. Kau
kerap dibangunkan mimpi buruk untuk segera
melihat kenyataan bahwa mimpi buruk itu tidak
hanya diputar di alam bawah sadar. Anjir memang.
Kau memutuskan pindah ke kota lain yang jauh
lebih kecil dan fakir. Tanpa uang sewa. Tanpa
sejawat dan tetangga. Tanpa suara apa pun kecuali
lirih napasmu sendiri. Tanpa satu pun penerang
selain pendar sepi yang menempa jiwanya sendiri.
Sumenep, 2024
---
Upaya Menyembuhkan Diri di Pengasingan
Hidup di kota hanyalah pelarian dari degap harap
yang toksik. Aku berupaya menyembuhkan nyeri
sendi-sendi setelah sekian lama dipaksa berlari
kencang seperti sapi karapan yang pantatnya
selalu merah basah karena tiada henti dicacah.
Masih lekat bunyi sambar cemeti. Jalan tandus
dan sudut-sudut cakrawala mengembuskan uap
balsam. Dari jauh, badai memiuh. Di kiri-kanan
sorak-sorai bermakna ganda. Berbusa. Berbisa.
Aku bersandar pada punggung kota, pada lusuh
dan rapuhnya kata-kata. Terkadang aku pergi ke
kafe hanya untuk menjenguk wajah kuyu ibu di
dasar gelas es taro. Lorong kampung menggigil
di ingatan. Waktu membeku, mengeras, semakin
keras, berguguran membentuk kerikil-kerikil tajam,
menungguku pulang dengan kedua kaki telanjang.
Sumenep, 2024
---
Terkadang Pintu Rumah Adalah Bibir Jurang
Masih ada sekelumit alasan untuk pulang walau
bau halaman cuma bisa membebat sesayat rindu.
Selebihnya beranda melandai menyerupai tebing
angker yang menggoyahkan kakimu antara terus
melangkah atau harus balik arah. Pintu menganga,
membatasi terang dan gelap, memisah segar dan
pengap. Begitu menginjak garis ambang, angin
meraba tengkukmu. Lalu terdengar salak anjing
membentur tembok-tembok. Kau tak hirau. Kau
masuk seperti terjun bebas ke jeluk ngarai. Kau
ambruk. Binatang itu menyeringai. Di hadapannya,
kau karib sekaligus asing. Cinta telah dikomersialkan.
Sumenep, 2024
---
DAVIATUL UMAM, menulis puisi dan prosa. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini bergiat di Komunitas Damar Korong. Kini bermukim di tanah kelahirannya, Sumenep, Madura.
Tag: #sajak #ketika #kampung #lebih #berisik #daripada #kota