



Sajak: Mahacinta
Mahacinta
Cita-cita ialah niat
Niat ialah doa
Doa ialah kenyataan yang
Dirancang melalui langit dan bumi
Semua dan segala
Benda dan tanbenda
Menjadi alamat Tuhan
Niatan pun tak luput dari frekuensi
Yang sambung-menyambung
Menjadi bagian niatan Tuhan
Maka niatkanlah yang baik-baik
Niatkanlah yang indah-indah
Engkau dan aku menjadi
Niatan-Nya untuk saling mengenali
Seperti sebuah cermin besar yang
Semesta cinta kita ada di dalamnya
Cinta bercinta ialah hasrat
Hasrat ialah titah alam
Titah alam ialah firman yang
Dirancang untuk menahbiskan
Wahai! betapa berkuasanya
Cinta akan diri
Agar tidak sendiri
Dalam keabadian abadi
Semarang, 3 Februari 2024
----
Fana
Kau aku sebuah taman indah ketika datang
Kepergian ialah kehilangan yang tidak tenang
Bila suatu hari pergi: Kita
Akan membacanya sebagai kisah berulang
Kali lain kau aku membacanya
Terpisah halaman oleh fajar menjelang
Jogjakarta, 10 Oktober 2022
---
Yang Abadi ialah Doa
Sekuat apa cipta
Bangunan
Ia punya usia
Selagi di dalam
Ruang dan waktu
Ia hanya menunggu
Kapan saatnya
Menjadi
Tiada
Pulang kembali
Ke haribaan
Pengharapan
Sekalipun doa-doa kau aku
Sedekah recehan
Tetapi cukup lumayan
Sebagai alasan kunci sogokan
Memasuki gapura
Keabadian
Jogjakarta, 10 Oktober 2022
---
ABDUL WACHID B.S., Lahir di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Mengajar di Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri, Purwokerto.
Tag: #sajak #mahacinta