Eropa Ogah Bergantung pada Teknologi AS dan China
Gambar ilustrasi hubungan China-AS.(GEISLER-FOTOPRESS/DWI ANORAGANINGRUM via DW INDONESIA)
08:04
7 Juni 2026

Eropa Ogah Bergantung pada Teknologi AS dan China

- Persaingan teknologi antara dua negara adidaya, Amerika Serikat (AS) dan China, secara tidak langsung memengaruhi negara lain.

Sebab, banyak negara masih bergantung pada teknologi, infrastruktur digital, hingga rantai pasok yang dikuasai perusahaan-perusahaan dari kedua negara tersebut. Ketergantungan inilah yang kini mulai dikhawatirkan Uni Eropa.

Komisi Eropa bahkan secara terbuka memperingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap teknologi asing dapat membuat kawasan tersebut rentan terhadap tekanan politik maupun ekonomi dari negara lain.

Kekhawatiran itu menjadi salah satu alasan Uni Eropa meluncurkan paket kebijakan baru bertajuk "tech sovereignty" atau kedaulatan teknologi pada Rabu lalu.

Baca juga: China Punya Robot Polantas, 3 Hari Tilang 12.000 Pelanggaran

Melalui paket ini, Eropa ingin memperkuat industri teknologi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi asal AS dan China.

Komisi Eropa mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen produk digital penting, layanan, infrastruktur, dan kekayaan intelektual yang digunakan di kawasan tersebut masih disediakan perusahaan di luar Uni Eropa.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menilai kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan terus berlanjut.

"Kita tidak bisa bergantung pada pihak lain untuk teknologi yang menjaga rumah sakit tetap beroperasi, jaringan energi tetap stabil, dan layanan kita tetap aman," kata Leyen.

Bagi Eropa, isu ini bukan sekadar persoalan bisnis atau ekonomi, melainkan juga menyangkut keamanan dan ketahanan strategis kawasan.

Uni Eropa mengaku belajar dari sejumlah peristiwa dalam beberapa tahun terakhir, termasuk krisis pasokan chip dan logam tanah jarang (rare earth) yang melibatkan China.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran terkait dominasi perusahaan teknologi AS dalam sektor cloud computing dan layanan digital.

Dalam dokumen yang menyertai paket kebijakan tersebut, Uni Eropa memperingatkan adanya risiko intervensi asing, penggunaan rantai pasok sebagai alat tekanan politik, hingga potensi gangguan besar pada sektor-sektor strategis seperti pertahanan dan kedirgantaraan.

Dokumen itu menyebut dunia saat ini tengah memasuki periode rivalitas strategis yang semakin intens dan kondisi geopolitik yang semakin terfragmentasi.

Karena itu, Uni Eropa menilai kedaulatan teknologi menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan strategis sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap campur tangan pihak asing.

Baca juga: Populasi Meningkat, Robot Humanoid di China Wajib Punya KTP

Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa, Henna Virkkunen, mengatakan Eropa ingin berada dalam posisi yang memungkinkan kawasan tersebut mengambil keputusan sendiri tanpa terlalu bergantung pada satu perusahaan atau satu negara.

"Eropa ingin menentukan pilihannya sendiri, menghindari ketergantungan berisiko pada satu pemasok dominan, satu perusahaan, atau satu negara ketiga, karena kita hidup di dunia di mana geopolitik dan teknologi berjalan beriringan," ujar Virkkunen.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Uni Eropa menyiapkan sejumlah langkah besar.

Di sektor cloud computing dan kecerdasan buatan (AI), Eropa berencana memberikan dukungan lebih besar kepada perusahaan-perusahaan di Benua Biru.

Uni Eropa juga menargetkan peningkatan kapasitas pusat data (data center) hingga tiga kali lipat dalam lima sampai tujuh tahun mendatang.

Sebagai pendukung target tersebut, Uni Eropa tengah menyiapkan aturan baru terkait cloud computing dan AI yang diharapkan dapat mempercepat pembangunan pusat data baru di kawasan tersebut.

Ingin perkuat industri semikonduktor domestik

Menurut Komisi Eropa, saat ini Uni Eropa hanya memproduksi sekitar 10 persen semikonduktor global dan masih sangat bergantung pada AS serta Asia Timur untuk memperoleh chip, baik chip konvensional maupun chip canggih yang digunakan untuk AI.

Karena itu, Uni Eropa berencana memperkenalkan aturan baru untuk meningkatkan permintaan terhadap chip buatan Eropa.

Komisi juga mendorong pembangunan fasilitas manufaktur semikonduktor canggih pertama di kawasan tersebut, dengan produksi percontohan ditargetkan dimulai pada 2033.

Pusat data dan fasilitas cloud baru yang dibangun nantinya diharapkan menjadi pasar bagi chip-chip buatan Eropa.

Selain itu, sektor publik juga akan didorong untuk lebih banyak menggunakan perangkat lunak sumber terbuka (open-source) agar tidak terlalu bergantung pada vendor tertentu.

Langkah-langkah tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Baca juga: Trump Teken Aturan Baru, AS Bisa Akses Model AI Sebelum Rilis ke Publik

Selama ini Trump kerap mengkritik regulasi dan denda yang dijatuhkan Uni Eropa kepada perusahaan teknologi AS.

Karena itu, paket kedaulatan teknologi ini disebut menjadi bahan diskusi panjang di internal Komisi Uni Eropa agar tidak dianggap sebagai bentuk proteksionisme.

Meski demikian, Virkkunen menegaskan bahwa Uni Eropa tidak berniat menutup pasar bagi perusahaan asing.

"Kami tidak menutup pintu bagi siapa pun," kata Virkkunen.

Namun, untuk sektor yang dianggap sangat penting, seperti keamanan dan pertahanan, Uni Eropa menilai layanan tersebut sebaiknya disediakan oleh perusahaan-perusahaan Eropa sendiri.

Nantinya, badan-badan publik akan diminta melakukan penilaian risiko kedaulatan teknologi. Dalam sektor tertentu, aturan yang diterapkan bahkan dapat mencakup kewajiban menyimpan data di wilayah Eropa.

Kekhawatiran terhadap keamanan data juga menjadi salah satu pendorong utama kebijakan ini.

Bukan cuma itu, Eropa juga menyoroti keberadaan Cloud Act AS yang memungkinkan pemerintah AS meminta akses terhadap data yang dikelola perusahaan asal AS, meskipun data tersebut disimpan di luar wilayah Amerika.

Sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing, Parlemen Eropa juga mengumumkan bahwa mesin pencari asal Perancis, Qwant, akan menjadi mesin pencari bawaan di browser yang digunakan lembaga tersebut mulai pekan ini.

Langkah tersebut mencerminkan perubahan pendekatan Uni Eropa. Jika sebelumnya Brussels lebih dikenal sebagai regulator perusahaan teknologi besar, kini kawasan itu mulai aktif membangun dan mempromosikan alternatif teknologi buatan Eropa sendiri.

Tag:  #eropa #ogah #bergantung #pada #teknologi #china

KOMENTAR