Tata Kelola Data Jadi ''PR'' Implementasi AI di Industri Migas
Ilustrasi AI(Freepik)
17:03
15 April 2026

Tata Kelola Data Jadi ''PR'' Implementasi AI di Industri Migas

– Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di industri minyak dan gas (migas) memang menjanjikan efisiensi dan transformasi besar. Namun di balik potensinya, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diatasi.

Hal ini disampaikan Oil and Gas Industry Principal Aveva, Cindy Crow dalam sebuah wawancara eksklusif dengan KompasTekno pada Senin (13/4/2026). Aveva merupakan penyedia solusi software dan platform digital asal Inggris.

Cindy mengatakan bahwa tantangan AI terbesar yang dihadapi industri migas saat ini adalah kesiapan dan tata kelola data suatu perusahaan.

Baca juga: AI Kini Jadi Otak Industri Migas, Tak Sekadar Analisis Data

Menurut Cindy, banyak perusahaan migas saat ini sebenarnya sudah memiliki data dalam jumlah besar. Namun, data tersebut sering kali belum terkelola dengan baik atau tidak konsisten.

"Akibatnya, AI tidak dapat memberikan hasil yang optimal karena bergantung pada kualitas data yang dianalisis," ujar Cindy kepada KompasTekno di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan. 

Inilah yang membuat tata kelola data (data governance) cukup penting ketika perusahaan di industri migas ingin mengimplementasikan AI ke sistem mereka. 

Tanpa fondasi ini, implementasi AI berisiko menghasilkan insight yang tidak tepat, bahkan bisa menyesatkan pengambilan keputusan dan membuat semuanya tidak efisien.

Risiko bukan dari AI, tapi manusia

Selain soal data, tantangan lain datang dari sisi penggunaan teknologi itu sendiri.

Cindy menilai bahwa risiko terbesar bukan berasal dari AI, melainkan dari manusia yang mengoperasikan dan mengelolanya.

Kesalahan penggunaan, kurangnya pemahaman, hingga celah keamanan bisa muncul jika sistem tidak dikelola dengan baik.

"Saya sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan AI. Saya lebih khawatir dengan apa yang dilakukan orang terhadap teknologi tersebut, dan ada banyak risiko keamanan jika teknologi seperti ini disalahgunakan,” ungkap Cindy.

Global Principal Aveva, Cindy Crow, dalam wawancara eksklusif dengan KompasTekno di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).KOMPAS.com/Bill Clinten Global Principal Aveva, Cindy Crow, dalam wawancara eksklusif dengan KompasTekno di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).

Meski demikian, AI juga bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi risiko tersebut, jika pebisnis di industri migas memakai alat AI yang tepat.

Baca juga: Tata Kelola Data Jadi Tantangan Penerapan E-Government di Indonesia

Dengan AI, perusahaan bisa meningkatkan kemampuan analitik untuk kelancaran bisnis, mendeteksi potensi kerentanan sistem, mengidentifikasi anomali, hingga meningkatkan keamanan operasional.

Aveva memiliki semua tool AI yang relevan dengan industri migas, mulai dari software bernama Aveva Connect, PI System, Unfified Engineering, Operations Control, Enterprise Resource Management, dan masih banyak lagi. 

Masa depan AI di industri migas

Cindy mengatakan bahwa pemakaian AI di industri migas ke depan akan semakin berkembang dan terintegrasi dengan bisnis operasional. 

Saat ini, AI masih dianggap sebagai alat bantu analisis saja. Namun perlahan, AI akan lebih berperan dalam pengambilan keputusan secara mandiri, sehingga bisnis operasional migas akan tetap lancar tanpa hambatan.

Pada akhirnya, teknologi ini akan bisa mengoptimalkan proses produksi, menentukan konfigurasi operasi terbaik, hingga sekaligus meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.

“AI bukan hanya membantu tugas-tugas kecil, tapi juga bisa mengoptimalkan seluruh proses operasional,” tutur Cindy.

Dengan perkembangan seperti ini, Cindy memproyeksikan AI akan menjadi “otak” baru dalam industri migas, yang mengendalikan berbagai proses penting dalam transformasi digital di masa depan.

Baca juga: Transformasi Digital dan Cybersecurity: Pendekatan Holistik dalam Menghadapi Tantangan Keamanan Siber

Meski arah perkembangan AI semakin jelas, Cindy kembali menegaskan bahwa keberhasilan implementasinya tetap bergantung pada fondasi yang kuat, terutama dari sisi data dan tata kelola.

Tanpa data yang bersih dan dapat dipercaya, potensi AI tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Dengan kata lain, sebelum melangkah lebih jauh ke teknologi canggih, perusahaan perlu memastikan satu hal mendasar, yaitu data yang rapi dan siap digunakan.

"Data rapi itu kunci. Perusahaan yang punya data governance baik akan bisa memaksimalkan potensi AI dan mengintegrasikan teknologi tersebut ke sistem dan operasional mereka dengan mudah," pungkas Cindy. 

Tag:  #tata #kelola #data #jadi #implementasi #industri #migas

KOMENTAR