Kenapa Scroll Medsos Susah Berhenti? Ini Penjelasan Psikologi
Psikolog ungkap bahwa kebiasaan remaja sering scroll medsos dapat membuat mereka lebih mudah mencari validasi dan rentan terpengaruh standar sosial.(freepik)
14:36
13 April 2026

Kenapa Scroll Medsos Susah Berhenti? Ini Penjelasan Psikologi


- Scroll media sosial kerap terasa sulit dihentikan, meski awalnya pengguna hanya berniat membuka aplikasi sebentar.

Tanpa sadar, beberapa menit bisa berubah menjadi puluhan menit karena jari terus menggulir layar dan mata terpaku pada aliran konten yang seolah tidak ada habisnya.

Kebiasaan ini pun makin umum terjadi di tengah derasnya arus informasi dan hiburan digital yang selalu tersedia dalam genggaman.

Dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut bukan semata-mata soal kurangnya kemauan menahan diri.

Ada mekanisme tertentu dalam cara otak merespons rasa penasaran, kejutan, validasi sosial, hingga kepuasan instan yang membuat aktivitas scrolling terasa begitu menarik untuk terus diulang.

Kombinasi itulah yang membuat media sosial dirancang terasa seperti ruang interaksi yang hidup, padahal tidak selalu memberi manfaat psikologis yang benar-benar setara.

Baca juga: 9 Buku yang Dibaca Bos ChatGPT, Mulai dari Psikologi hingga Soal Kecerdasan Buatan

Fenomena social snacking

Dirangkum KompasTekno dari laman Expert Editor, salah satu konsep yang menjelaskan fenomena ini adalah social snacking.

Istilah ini menggambarkan kebiasaan melihat foto, membaca pembaruan, atau menonton story orang lain secara pasif tanpa benar-benar terlibat dalam interaksi yang bermakna.

Sekilas, aktivitas tersebut memberi kesan seolah pengguna sedang bersosialisasi. Namun, yang hadir sebenarnya hanya lapisan luar interaksi sosial, bukan hubungan dua arah yang sungguh-sungguh.

Dalam ulasan tersebut dijelaskan bahwa otak manusia tetap memproses wajah, cerita, dan emosi dari konten media sosial seperti sebuah pengalaman sosial.

Masalahnya, unsur terpenting dalam hubungan sosial justru tidak ada, yakni timbal balik. Tidak ada orang yang benar-benar merespons kehadiran pengguna, menyesuaikan perilaku, atau sadar bahwa pengguna sedang menyimak mereka.

Akibatnya, rasa terhubung yang muncul cenderung hanya sesaat, lalu menghilang dan bisa meninggalkan rasa sepi yang lebih besar setelah scrolling berhenti.

Bukan durasinya, tetapi cara memakainya

Ulasan itu juga menyoroti temuan bahwa bukan sekadar lamanya waktu bermain media sosial yang menjadi masalah, melainkan cara penggunaannya.

Analisis European Commission’s Joint Research Centre pada 2024 menemukan bahwa penggunaan media sosial secara pasif, seperti terus scroll tanpa berinteraksi, berkaitan dengan peningkatan rasa kesepian pada anak muda di Eropa.

Sebaliknya, penggunaan yang lebih aktif, seperti mengirim pesan atau benar-benar berkomunikasi, tidak menunjukkan kaitan signifikan dengan kesepian.

Artinya, yang memicu dampak psikologis negatif bukan hanya media sosial itu sendiri, tetapi pola konsumsi pasif yang meniru interaksi sosial tanpa memberi koneksi nyata.

Hubungan satu arah yang terasa nyata

Ada pula penjelasan soal parasocial relationship, yakni hubungan satu arah yang terbentuk antara pengguna dengan figur media atau kreator yang mereka ikuti.

Hubungan semacam ini memang dapat memberi rasa dekat, rasa memiliki, bahkan sedikit peningkatan harga diri untuk sementara waktu.

Namun, karena sifatnya satu arah, efek itu cepat memudar. Kreator yang ditonton tidak benar-benar mengenal penggunanya, sehingga rasa terhubung tersebut harus terus “diisi ulang” dengan melihat konten berikutnya.

Pola inilah yang membuat pengguna terdorong untuk terus membuka aplikasi dan menggulir layar tanpa henti.

Desain platform ikut memperkuat kebiasaan

Lebih jauh, Expert Editor menjelaskan bahwa siklus ini mirip dengan mekanisme variable reinforcement, salah satu pola yang dikenal sangat kuat dalam memicu perilaku kompulsif.

Pengguna scroll, merasa terhubung sesaat, lalu setelah berhenti perasaan itu memudar. Untuk mendapatkan sensasi serupa, pengguna kembali mengambil ponsel dan mengulang proses yang sama.

Siklus ini diperkuat oleh desain platform, mulai dari feed tanpa akhir, konten yang dikurasi algoritma, autoplay, hingga notifikasi yang terus memancing pengguna kembali masuk ke aplikasi.

Maka dari itu, sulit berhenti scroll media sosial bukan hanya soal kebiasaan buruk atau lemahnya kontrol diri.

Ada desain platform dan respons psikologis yang bekerja bersamaan, membuat aktivitas tersebut terasa memuaskan di permukaan tetapi tidak selalu benar-benar memenuhi kebutuhan sosial pengguna.

Dalam banyak kasus, yang dibutuhkan seseorang mungkin bukan tambahan konten, melainkan interaksi yang lebih aktif, lebih nyata, dan lebih timbal balik.

Baca juga: Scroll Bikin Capek Mental? Ini Cara Detoks Media Sosial dari Instagram

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #kenapa #scroll #medsos #susah #berhenti #penjelasan #psikologi

KOMENTAR