Siasat China Hadapi AS Pakai AI dan Militer
Presiden China Xi Jinping saat menghadiri sesi kedua rapat pleno Kongres Rakyat Nasional di Aula Besar Rakyat di Beijing, 8 Maret 2025.(AFP/GREG BAKER)
18:12
7 April 2026

Siasat China Hadapi AS Pakai AI dan Militer

- Situasi geopolitik belakangan semakin memanas. Amerika Serikat (AS) mengerahkan kekuatan militernya ke sejumlah negara, seperti Venezuela dan Iran.

Di saat yang sama, Washington juga menekan beberapa mitra dagang lewat kebijakan tarif impor, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat China meningkatkan kewaspadaan.

Presiden Xi Jinping dilaporkan telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk menghadapi rivalitas dengan AS.

Dalam strategi itu, Beijing disebut mengalihkan fokus sumber dayanya ke kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan berbagai teknologi strategis lain, sembari terus memperkuat kapasitas militernya.

Rencana ambisius untuk lima tahun ke depan itu dipaparkan dalam sidang parlemen nasional di Beijing beberapa waktu lalu sebagaimana dilaporkan New York Times, Rabu (4/3/2026).

Arah kebijakan ini menunjukkan bahwa Xi memandang persaingan dengan AS pada akhirnya akan ditentukan oleh keunggulan inovasi teknologi yang menopang kekuatan ekonomi, militer, dan budaya.

Maka dari itu China kini semakin agresif mengembangkan bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, embodied intelligence, hingga jaringan seluler 6G.

“Di tengah persaingan internasional yang sengit, kita harus memenangkan inisiatif strategis,” demikian isi rencana tersebut.

Baca juga: Pabrik China Ini Bisa Cetak Robot Humanoid Baru Tiap 30 Menit

Pemblokiran menjadi titik balik

Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) diketahui berulang kali membatasi akses China terhadap teknologi. Pembatasan ini menyasar banyak sektor, termasuk perusahaan swasta, yang terkena aturan ketat terkait penggunaan maupun akses terhadap teknologi asal China.

Salah satu contohnya terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Pada 2023, pemerintah AS membatasi Nvidia untuk menjual chip canggih ke China, termasuk kartu grafis (GPU) H200 yang dipakai untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Biden beralasan, penjualan teknologi AS ke China dapat mengancam keamanan nasional negaranya sekaligus membuat Beijing unggul dalam persaingan AI.

Pada 2025, kebijakan itu kemudian dibatalkan oleh Donald Trump, yang kembali mengizinkan Nvidia menjual chip AI canggih ke pasar China.

Terbaru, Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) juga melarang penggunaan router terbaru buatan asing mulai Januari 2026. Meski tidak menyebut negara tertentu, banyak analis menilai kebijakan ini terutama diarahkan untuk menahan laju perangkat keras asal China.

Sebelumnya, perusahaan teknologi China seperti Huawei dan ZTE juga pernah menjadi sasaran pembatasan.

Keduanya masuk dalam daftar hitam (entity list), yang berarti dilarang menjual produk maupun memperoleh komponen dari perusahaan asal AS. Hingga kini, Huawei masih terkena blokade tersebut. Dampaknya, sejumlah produk Huawei tidak lagi bisa memakai teknologi AS.

Di sektor ponsel, misalnya, seluruh HP Huawei, termasuk yang dipasarkan di Indonesia, tidak dibekali sistem operasi Android milik Google. Sebagai gantinya, Huawei mengembangkan sistem operasinya sendiri yang bernama HarmonyOS.

Rangkaian pembatasan yang terus berulang dari tahun ke tahun membuat pemerintah China memandang kemandirian teknologi sebagai kebutuhan mendesak.

Pada Oktober lalu, Xi mengatakan China harus memanfaatkan momentum ini untuk memaksimalkan keunggulan yang dimiliki.

Ia berupaya memperkuat strategi agar ekonomi dan militer China tidak mudah goyah akibat terputusnya akses terhadap semikonduktor canggih dan teknologi penting lain dari Barat.

“Para pemimpin China berpandangan bahwa Washington akan terus berupaya membatasi perkembangan teknologi China,” kata Gerard DiPippo, analis senior sekaligus Associate Director di RAND China Research Center.

Xi juga disebut ingin memperkuat posisi China dalam sektor logam tanah jarang, yang ekspornya sempat dibatasi Beijing sebagai respons atas tarif AS. Namun, pembatasan itu akhirnya tidak diteruskan setelah kedua negara menghentikan langkah balasan tarif impor.

Menurut Daniel R. Russel, mantan Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu, serta intervensi AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro untuk mengambil alih minyak, menjadi alarm tersendiri bagi Beijing. Para pemimpin China pun disebut semakin waspada terhadap langkah Trump.

“Trump mungkin mengira ia sedang menunjukkan kekuatan militer untuk mengintimidasi Beijing. Namun, tindakannya di Venezuela dan Iran, justru kemungkinan besar akan mendorong Beijing memperkuat kemampuan untuk melawan AS, dan mempererat hubungan dengan Rusia,” kata Russel.

Baca juga: 5.000 Robot Humanoid Diproduksi di China dalam 3 Bulan

Meningkatkan anggaran militer

Xi juga menyatakan komitmennya untuk memperkuat kemampuan militer Tentara Pembebasan Rakyat (TKR).

China bahkan berencana menaikkan anggaran militernya sebesar 7 persen tahun ini dibanding tahun sebelumnya, menjadi sekitar 277 miliar dollar AS atau setara Rp 4.710 triliun.

Meski begitu, Xi menegaskan bahwa kemenangan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan juga oleh kemampuan China menguasai industri masa depan.

Maka dari itu, rencana ini turut menargetkan berbagai terobosan teknologi, mulai dari pengembangan obat-obatan, penambangan laut dalam, hingga riset energi fusi.

Menurut Kyle Chan dari Brookings Institution, pemerintah China juga yakin bisa melampaui AS dalam bidang AI, robotika, komputasi kuantum, dan 6G.

Walaupun Xi telah menetapkan visinya di tingkat nasional, implementasinya kerap dijalankan oleh pemerintah daerah. Kondisi ini berpotensi memicu lonjakan produksi yang kemudian meluber ke pasar internasional.

“Jika kebijakan industri dijalankan dengan koordinasi yang minim di tingkat lokal, kelebihan kapasitas akan terus terjadi,” kata Zongyuan Zoe Liu dari Council on Foreign Relations.

“Ini berarti produsen China akan terus mencari pembeli di seluruh dunia, dengan taktik kombinasi ekspor dan pemindahan kapasitas produksi ke luar negeri,” imbuh Liu, dikutip KompasTekno dari New York Times.

Baca juga: Pendiri Xiaomi: Jangan Sebut Saya “Steve Jobs dari China”

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #siasat #china #hadapi #pakai #militer

KOMENTAR