Kata Indonesia soal Negosiasi AS-Iran di Pakistan, Desak 3 Hal
- Indonesia menyambut baik pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Ibu Kota Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026) dan menyebutnya sebagai hal yang menggembirakan.
Seperti diketahui, Pakistan menjadi penengah gencatan senjata AS-Iran, dan mendesak kedua pihak untuk memajukan solusi berkelanjutan untuk konflik di Timur Tengah.
"Ini adalah perkembangan yang menggembirakan dan membantu menjaga saluran komunikasi tetap terbuka, dan menciptakan ruang untuk diplomasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela kepada Anadolu.
Baca juga: Perang Iran Bikin Pupuk Langka, Pangan Dunia Terimbas
Menurutnya, langkah negosiasi ini menjadi gerbang awal untuk membuka kemungkinan solusi damai antara keduanya.
“Perkembangan ini merupakan langkah awal yang positif dan mendorong semua pihak untuk memperkuat deeskalasi dan memajukan solusi damai dan berkelanjutan untuk konflik tersebut,” ujar Vahd.
Indonesia mendesak tiga hal, yaitu semua pihak untuk menahan diri secara maksimal, menghormati kedaulatan dan integritas wilayah, serta mendorong dialog dan diplomasi.
Baca juga: Islamabad Lockdown, Ini 5 Hal tentang Negosiasi AS-Iran di Pakistan
Vahd juga menambahkan bahwa Jakarta sangat mengecam serangan berkelanjutan Israel terhadap Beirut dan wilayah lain di Lebanon, yang dapat membahayakan momentum de-eskalasi dan diplomasi saat ini.
"Serangan-serangan semacam itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, dan berisiko memperburuk ketegangan regional serta melemahkan keamanan regional dan global," katanya.
Indonesia menekankan eskalasi yang berkelanjutan di kawasan ini memiliki implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas regional, keamanan maritim, dan ketahanan energi global.
Baca juga: Negosiasi Damai AS-Iran Digelar Hari Ini, Pakistan Sambut Delegasi
Pakistan jadi jembatan negosiasi AS-Iran
Ilustrasi perundingan AS dan Iran di Pakistan.
Adapun negosiasi AS dan Iran di Islamabad dapat terwujud setelah Pakistan mengamankan gencatan senjata selama 14 hari pada Rabu (8/4/2026).
Pakistan, bersama dengan Turkiye, China, Arab Saudi, dan Mesir, berhasil menjembatani kesepakatan gencatan senjata setelah melalui diplomasi yang panjang.
Wakil Presiden JD Vance mewakili AS, sedangkan delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Bagher Ghalibaf.
Baca juga: Pembicaraan AS-Iran Tak Jelas, Belum Ada Delegasi Hadir di Pakistan
Keterlibatan Pakistan dinilai sebagai langkah strategis mengingat posisi unik negara tersebut di peta politik internasional.
Dikutip dari Kompas.com (27/3/2026), mantan Duta Besar Pakistan untuk Teheran, Asif Durrani, menyebut negaranya memiliki modal diplomatik yang tidak dimiliki negara lain.
"Pakistan memiliki kredensial kuat sebagai satu-satunya negara di kawasan yang menikmati hubungan baik dengan AS dan Iran," kata Durrani.
"Secara bersamaan, Pakistan juga memiliki hubungan strategis dengan Arab Saudi, negara-negara Teluk, dan Turkiye," tambahnya.
Baca juga: Geram Lebanon Diserang Terus, Menhan Pakistan Sebut Israel Kutukan Kemanusiaan
Selain itu, faktor penguat peran Pakistan adalah hubungan personal yang dibangun oleh Panglima Angkatan Darat Pakistan Field Marshal Asim Munir dengan Presiden AS Donald Trump.
Kedekatan keduanya telah terpupuk sejak tahun lalu, saat Munir bersama PM Pakistan Shehbaz Sharif mengunjungi Washington setelah ketegangan dengan India di Kashmir.
Kala itu, Sharif memuji intervensi Trump sebagai langkah yang berani dan visioner. Sebaliknya, Trump membalas dengan menyebut bahwa Pakistan mengenal Iran lebih baik daripada kebanyakan negara lainnya.
Tag: #kata #indonesia #soal #negosiasi #iran #pakistan #desak