Wabah Ebola Merebak, WHO Pertimbangkan Pakai Vaksin Eksperimental
- Para pemimpin kesehatan global kini mempertimbangkan penggunaan vaksin atau obat-obatan yang masih dalam tahap eksperimental guna menekan penyebaran virus Ebola di Republik Demokratik (RD)Kongo.
Langkah darurat ini dikaji seiring dengan meningkatnya kekhawatiran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap kecepatan dan skala penularan wabah tersebut.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan rasa prihatinnya yang mendalam atas situasi kritis ini.
Baca juga: Peringatan WHO, Dunia Makin Berbahaya Usai Wabah Ebola dan Hantavirus
Berdasarkan data terbaru, kini telah tercatat setidaknya 500 kasus suspek Ebola dan 130 kematian suspek di RD Kongo sejak wabah baru ini diumumkan pada Jumat (15/5/2026) pekan lalu.
Angka tersebut melonjak tajam dari laporan awal yang hanya mencatat sekitar 200 kasus dan 65 kematian, sebagaimana dilansir The Guardian, Selasa (19/5/2026).
Tedros menyatakan, jumlah kasus dan kematian ini masih akan terus berubah seiring peningkatan operasi lapangan, termasuk penguatan pengawasan, pelacakan kontak, dan pengujian laboratorium.
"Ini adalah pertama kalinya seorang Direktur Jenderal menyatakan PHEIC (Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional) sebelum menyelenggarakan komite darurat. Saya tidak melakukan ini dengan ringan. Saya sangat khawatir dengan skala dan kecepatan epidemi ini," ujar Tedros, Selasa.
Baca juga: WHO Deklarasikan Keadaan Darurat Kesehatan Global untuk Varian Ebola Langka
Hal itu disampaikan setelah penetapan status darurat global tersebut pada Minggu (18/5/2026) dini hari.
Menurut Tedros, laporan mengenai temuan kasus Ebola di kawasan perkotaan menjadi alarm bahaya tersendiri.
Pasalnya, virus biasanya menyebar lebih mudah di area padat penduduk.
Penularan juga terdeteksi di kalangan tenaga medis yang mengindikasikan potensi penyebaran di dalam klinik dan rumah sakit.
Baca juga: Ethiopia Konfirmasi Wabah Virus Marburg yang Mematikan Mirip Ebola
Situasi kian diperparah oleh mobilitas penduduk yang tinggi di wilayah tersebut untuk bekerja maupun akibat konflik bersenjata.
Provinsi Ituri, yang menjadi pusat wabah, saat ini dalam kondisi yang sangat tidak aman.
"Konflik telah meningkat sejak akhir tahun 2025, dan pertempuran melonjak secara signifikan selama dua bulan terakhir yang mengakibatkan kematian warga sipil," papar Tedros.
"Lebih dari 100.000 orang baru-baru ini mengungsi. Dan dalam wabah Ebola, Anda tahu apa arti dari perpindahan penduduk (pengungsian) tersebut," kata sambungnya memperingatkan dampak buruk mobilisasi massa terhadap transmisi virus.
Baca juga: Presiden Uganda Perpanjang Masa Karantina 2 Distrik Episentrum Ebola
Fenomena gunung es
Kekhawatiran senada disampaikan oleh Mesfin Teklu Tessema, Direktur Senior Kesehatan di International Rescue Committee (IRC).
Organisasi kemanusiaan yang beroperasi di Provinsi Ituri ini menilai bahwa data yang tampak saat ini barulah permulaan dari krisis yang jauh lebih masif.
Tessema mengatakan kepada The Guardian bahwa ia memperkirakan kasus-kasus yang diketahui saat ini barulah ujung dari gunung es.
Ia juga memproyeksikan bahwa penyebaran virus melintasi perbatasan yang berpori menuju Sudan Selatan kemungkinan besar merupakan masalah waktu.
Mengingat lemahnya infrastruktur kesehatan masyarakat di Sudan Selatan, Tessema memperingatkan bahaya yang besar.
Baca juga: Kasus Ebola Sudan di Uganda Menurun 3 Minggu Beruntun
Melalui kerja kemanusiaannya di kawasan tersebut, termasuk menyokong klinik-klinik kesehatan, IRC melaporkan adanya kelangkaan parah pada alat pelindung diri (APD) dasar seperti sarung tangan, masker, dan kacamata pelindung bagi para petugas medis yang menangani pasien.
"Ebola adalah penyakit yang sangat mematikan. Galur ini memiliki tingkat kematian antara 30 persen hingga 50 persen. Itu dengan ketersediaan perawatan. Ketika perawatan tidak tersedia, ketika orang-orang terlambat datang, risiko kematian bisa lebih tinggi dari itu," paparnya.
Tantangan vaksin
Sebagai informasi, wabah kali ini disebabkan oleh Ebola galur Bundibugyo.
Hingga saat ini, galur tersebut belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi yang disetujui.
Berbeda dengan galur Zaire yang ditemukan pada 1976 dan telah memiliki vaksin operasional, vaksin tersebut dipastikan tidak dapat diaplikasikan untuk menghadapi galur Bundibugyo saat ini.
Baca juga: Wabah Ebola Makin Ganas, Uganda Lockdown 2 Distrik
Ilustrasi virus ebola.
Perwakilan WHO untuk DR Kongon Anne Ancia menegaskan, pandangan para ahli menunjukkan vaksin yang ada saat ini tidak dapat digunakan dalam respons yang berjalan sekarang.
Meskipun demikian, dia menambahkan bahwa banyak studi lebih lanjut yang perlu dilakukan.
"Di tingkat internasional, (kami sedang) melihat kandidat vaksin atau pengobatan apa yang tersedia dan apakah ada yang bisa digunakan dalam wabah ini," jelas Ancia kepada para wartawan pada Majelis Kesehatan Dunia di Genewa.
Ancia juga memperkirakan penanganan wabah ini membutuhkan waktu yang lama.
"Saya rasa dalam dua bulan kita tidak akan selesai dengan wabah ini," tuturnya.
Baca juga: Wabah Ebola di Uganda Terus Berkembang, Petugas Kesehatan Mulai Terjangkit dan Tewas
Tag: #wabah #ebola #merebak #pertimbangkan #pakai #vaksin #eksperimental