Terbaru, Ini 10 Profesi Paling Terdampak dan Aman dari AI
- Gelombang kecerdasan buatan (AI) memang sukses bikin banyak pekerja ketar-ketir. Apalagi dengan makin canggihnya model bahasa besar (LLM) belakangan ini. Namun, seberapa besar sih ancaman nyata AI buat pekerjaan kita?
Para peneliti dari Anthropic baru saja merilis laporan berjudul "Labor Market Impacts of AI: A New Measure and Early Evidence".
Yang menarik, mereka tidak cuma mengukur apa yang bisa dilakukan AI di atas kertas.
Mereka justru membandingkan potensi teori tersebut dengan data riil pemakaian chatbot Claude oleh para profesional di dunia kerja saat ini. Hasilnya cukup bikin bernapas lega, setidaknya untuk sekarang.
Anthropic menyimpulkan kalau adopsi AI di dunia kerja nyatanya masih sangat jauh dari batas kemampuannya.
Meski begitu, laporan ini juga memetakan secara jelas profesi apa saja yang kini mulai "dijajah" AI, dan mana yang masih aman sentosa.
Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI
10 profesi paling terdampak AI
Profesi yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang kesehariannya berkutat dengan tugas-tugas di depan layar yang sifatnya bisa diotomatisasi secara penuh oleh sistem AI.
Berdasarkan laporan tersebut, ini daftar lengkap 10 profesi dengan tingkat paparan AI tertinggi, seperti dirangkum KompasTekno dari laporan terbaru Anthropic:
- Programmer (74,5%): Posisi teratas ditempati oleh para programer. Mayoritas tugas mereka, coding, membuat update, dan mengelola software, kini mulai banyak diambil alih secara otomatis oleh AI.
- Customer service (70,1%): Interaksi dengan pelanggan, memproses pesanan, hingga menangani komplain, kini pelan-pelan mulai digantikan oleh chatbot AI.
- Data entry (67,1%): Pekerjaan repetitif seperti membaca dokumen sumber dan memasukkan datanya ke dalam sistem adalah "makanan empuk" buat AI.
- Spesialis rekam medis (66,7%): Mengompilasi, menyarikan, dan mengodekan data pasien kini masuk ke dalam tugas yang makin mudah diotomatisasi.
- Analis riset pasar dan pemasaran (64,8%): Tugas menyusun laporan, membuat grafik ilustrasi data, sampai menerjemahkan temuan riset rumit ke dalam teks tertulis kini sudah sangat lumrah dikerjakan mesin.
- Sales/tenaga penjualan grosir dan manufaktur (62,8%): Rutinitas menghubungi pelanggan untuk mendemonstrasikan produk dan meminta pesanan ternyata punya tingkat paparan AI yang cukup tinggi.
- Analis keuangan dan investasi (57,2%): Menganalisis informasi keuangan untuk memproyeksi kondisi bisnis, industri, atau ekonomi demi keputusan investasi kini bisa dieksekusi dengan cepat oleh LLM AI.
- Software QA/penguji perangkat lunak (51,9%): Pekerjaan memodifikasi software untuk memperbaiki bug atau meningkatkan performa rupanya mulai banyak didelegasikan ke AI.
- Analis keamanan informasi (48,6%): Melakukan penilaian risiko siber dan menguji keamanan pemrosesan data. Tugas krusial ini ternyata tak luput dari tren otomasi.
- Spesialis support komputer (46,8%): Menjawab pertanyaan pengguna terkait pengoperasian software atau hardware demi menyelesaikan masalah teknis kini makin sering ditangani oleh agen AI.
Baca juga: Anak Anda Usia 5 Tahun Saat Ini, Nanti Dewasa Tak Perlu Cari Kerja Lagi
Daftar profesi yang paling Aman dari AI
Kalau Anda bekerja menggunakan keterampilan fisik, butuh interaksi manusia tingkat tinggi, atau harus terjun langsung ke lapangan, Anda patut bersyukur.
Anthropic mencatat ada sekitar 30 persen pekerja di Amerika Serikat yang menduduki level paparan AI "nol persen".
Artinya, tugas harian mereka terlalu jarang atau bahkan mustahil untuk digantikan oleh mesin, setidaknya untuk saat ini.
Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat
Siapa saja mereka?
- Guru dan tenaga pendidik: AI sekarang memang sudah bisa diandalkan untuk menilai PR atau tugas siswa. Namun, untuk urusan mengelola ruang kelas secara langsung, pekerjaan ini murni ranah manusia yang belum bisa disentuh mesin.
- Perawat dan praktisi kesehatan: Profesi perawat terdaftar memiliki tingkat paparan AI yang sangat minim pada kuadran proyeksi lapangan kerja.
- Pekerja lapangan dan kasar: Ini termasuk pekerja sektor pertanian (memangkas pohon, mengoperasikan traktor mesin) , mekanik sepeda motor , koki dan tukang cuci piring, penjaga pantai, bartender , hingga penjaga ruang ganti baju.
- Pengacara litigasi: Pekerjaan legal spesifik yang mengharuskan perwakilan klien secara lisan di ruang sidang pengadilan juga masih jauh dari jangkauan otomasi AI.
Satu fakta menarik dari laporan ini: pekerja yang paling rawan tergusur AI ternyata justru berasal dari kalangan profesional berpendidikan tinggi dan bergaji besar.
Data menunjukkan bahwa pekerja yang sangat terpapar AI didominasi oleh lulusan sarjana (37,1 persen) dan pascasarjana (17,4 persen).
Rata-rata gaji mereka (32,69 dollar AS/jam) juga jauh lebih tinggi ketimbang pekerja yang tidak terpapar AI sama sekali (22,23 dollar AS/jam).
Meski daftar di atas terlihat meresahkan, ada kabar baik dari riset ini. Sampai lapora tersebut dirilis, Anthropic sama sekali tidak menemukan adanya lonjakan angka pengangguran yang masif, bahkan di kalangan profesi yang paling rentan sekalipun.
Jadi, ancaman PHK massal gara-gara AI tampaknya belum akan menjadi realitas dalam waktu dekat.
Baca juga: Sempat PHK Ribuan Karyawan demi AI, IBM Kini Rekrut Orang Besar-besaran