MacBook Neo Laris Manis, Apple Malah Pusing
- Strategi Apple merilis MacBook versi murah tampaknya sukses besar, bahkan mungkin terlalu sukses hingga membuat pusing para eksekutif dan tim rantai pasok mereka.
Tingginya angka permintaan untuk MacBook Neo, laptop entry-level yang dirilis untuk perayaan 50 tahun Apple, kini mulai menciptakan krisis kelangkaan komponen yang serius.
Ironisnya, biang kerok masalah ini justru bersumber dari "rahasia dapur" di balik murahnya harga laptop tersebut, yakni prosesor daur ulang.
Apple kini dikabarkan tengah berdiskusi dengan para penyuplainya untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Apakah mereka harus menggenjot produksi tambahan dengan biaya yang jauh lebih mahal, atau membiarkan stok laptop warna-warni ini perlahan ludes di pasaran?
Bagi Anda yang sempat bertanya-tanya bagaimana Apple bisa merilis MacBook baru dengan harga sangat "merakyat", jawabannya ada pada jeroannya.
MacBook Neo ditenagai oleh chip A18 Pro. Yang menarik, ini adalah chip yang sama persis dengan yang menjadi "otak" lini iPhone 16 Pro tahun lalu.
Apple memanfaatkan sisa stok chip A18 Pro dari gelombang produksi iPhone awal. Mereka mempraktikkan metode yang disebut binning.
Alih-alih membuang kepingan sirkuit (die) yang memiliki cacat minor, Apple menyelamatkannya dengan cara menonaktifkan satu core GPU-nya, lalu menjadikannya mesin penggerak MacBook Neo.
Dengan trik daur ulang komponen surplus ini, chip-chip tersebut praktis harganya "hampir gratis" untuk Apple. Tak heran jika banderol MacBook Neo bisa sangat ditekan.
Baca juga: Laptop Murah MacBook Neo Segera Dijual di Indonesia, Ini Buktinya
Stok "gratisan" menipis
Strategi efisiensi ini awalnya ditargetkan sangat matang, seperti dikutip KompasTekno dari Techspot.
Apple memproyeksikan perakitan sekitar 5 hingga 6 juta unit MacBook Neo oleh Foxconn dan Quanta di pabrik mereka di China dan Vietnam.
Sayangnya, karena laptop ini ludes di luar prediksi, pasokan chip A18 Pro yang masih bisa diselamatkan pun kini mulai habis tak bersisa.
Jika Apple ingin meneruskan produksi untuk merespons membeludaknya pesanan konsumen, mereka harus siap merogoh kocek lebih dalam.
Memesan wafer chip A18 Pro baru ke TSMC akan menelan biaya besar, karena jalur pabrikasi 3-nanometer TSMC saat ini sudah beroperasi maksimal.
Apple sebenarnya bisa saja meminta TSMC memprioritaskan pembuatan chip baru tersebut di harga premium. Namun, langkah itu dipastikan bakal langsung menghanguskan sisa margin keuntungan dari MacBook Neo yang harganya memang sudah sangat mepet.
Hal ini makin diperparah dengan tren kenaikan harga material pendukung lain, seperti bahan memori dan sasis aluminium.
MacBook Neo tersedia dalam empat warna pilihan.
Baca juga: MacBook Neo Bikin Industri Laptop Windows Geger
Skenario penyelamatan
Untuk mengakali margin keuntungan yang menipis akibat biaya komponen ekstra, Apple diyakini tengah mematangkan beberapa skenario penyesuaian harga. Salah satu siasat yang paling masuk akal adalah mengubah portofolio produk.
Apple mungkin akan menghentikan produksi model terbawah berkapasitas 256GB (yang dijual seharga 599 dollar AS) dan hanya menyisakan varian 512GB (seharga 699 dollar AS atau sekitar Rp 12 juta).
Sebagai kompensasi naiknya harga tersebut, Apple dirumorkan akan memaketkannya dengan bonus langganan storage iCloud gratis selama satu tahun.
Di luar masalah produksi ini, meroketnya popularitas MacBook Neo sebenarnya membawa dampak strategis yang masif.
Memang ada sedikit risiko saling "kanibal" dengan penjualan seri MacBook Air dan Pro, tetapi daya pikat harga miring Neo terbukti sukses "merampok" pangsa pasar dan memaksa banyak pengguna PC Windows biasa hingga kalangan korporat untuk mencoba pindah ke macOS.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pemutar musik iPod dua dekade silam, di mana sebuah perangkat murah meriah sukses menjadi gerbang utama yang memikat jutaan konsumen baru ke dalam ekosistem eksklusif Apple.
Baca juga: Skor Benchmark Laptop MacBook Neo Terungkap, Setara iPhone dan MacBook Air