Trump Umbar Chat Pribadinya dengan Presiden Macron dan Sekjen NATO ke Medsos, Bahas Isu Greenland
Ringkasan berita:
- Donald Trump mengunggah chat pribadi yang diklaim dari Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Sekjen NATO Mark Rutte di Truth Social.
- Bocoran pesan lain dari PM Norwegia Jonas Gahr Støre (beserta balasan Trump) memperlihatkan Trump mengaitkan ambisi aneksasi Greenland, tarif impor, dan kekecewaan soal Nobel Perdamaian.
- Aksi Trump menuai kritik pakar karena melakukan norma diplomasi yang tak lazim, dan dianggap bentuk ekstrem “megaphone diplomacy”.
- Di tengah konflik geopolitik yang memanas, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumbar chat pribadi yang memuat isu cukup senstif.
Trump mengunggah beberapa tangkapan layar (screenshot) chat yang diklaim berasal dari Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO, Mark Rutte.
Tangkapan layar chat tersebut diunggah ke platform media sosial Truth Social. Sebagian besar chat tersebut membahas soal Greenland, di mana Trump belakangan getol ingin mencaploknya.
Chat pertama yang diumbar Trump adalah pesan yang diklaim dari Presiden Macron, diunggah pada Senin (19/1/2026) sore waktu AS. Isi chatnya adalah sebagai berikut:
Isi chat Presiden Macron ke Presiden Donald Trump
Tangkapan layar posting Presiden AS Donald Trump yang melampirkan pesan dari Presiden Perancis, Emmanuel Macron. Pesan ini membahas isu cukup sensitif, yakni soal keinginan Trump mencaplok Greenland.
Dari Presiden Macron untuk Presiden Trump
Sahabatku,
Kita sangat sejalan soal Suriah
Kita bisa melakukan hal besar terhadap Iran
Saya tidak paham, apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan terhadap Greenland
Coba kami susun sesuatu yang baik:
1. Saya bisa menyiapkan pertemuan G7 setelah Davos di Paris Kamis sore. Saya juga bisa undang perwakilan Ukraina, Denmark, Suriah, dan Rusia di sela-sela pertemuan.
2. Mari hadiri jamuan makan malam bersama di Paris hari Kamis sebelum Anda kembali ke AS.
Emmanuel
Kemudian, Rabu (20/1/2026) Trump kembali mengunggah chat pribadinya yang diklaim dikirim oleh Sekjen NATO Mark Rutte. Secara garis besar, pesan tersebut berisi pujian dari Rutte terhadap Trump. Berikut isi pesan selengkapnya:
Isi chat Sekjen NATO ke Presiden Donald Trump
Tangkapan layar posting Trump di media sosial Truth Social yang melampirkan pesan dari Sekjen NATO Mark Rutte.
Bapak Presiden, Donald yang terhormat -apa yang sudah Anda capai di Suriah saat ini luar biasa. Saya akan menggunaan agenda media saya di Davos untuk menyoroti keberhasilan Anda di sana, di Gaza, dan di Ukraina. Saya berkomitmen untuk mencari jalan soal Greenland. Sampai jumpa.
Salam, Mark.
Sebelum dua chat itu diumbar sendiri oleh Trump, media sosial juga dihebohkan dengan bocoran pesan dari Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre ke Trump.
Pesan tersebut diumbar pertama kali oleh seorang jurnalis dari media PBS News. Pesan itu dikirim Støre setelah Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor 10 persen mulai Februari terhadap barang dari negara-negara yang secara terbuka mendukung Denmark dan Greenland, termasuk Norwegia.
Dalam rangka transparansi informasi, pemerintah Denmark lalu membagikan isi pesan secara lengkap, beserta balasan Trump.
Dalam pesan ini, Trump juga mengaitkan kekecewaannya karena tidak mendapat Nobel Perdamaian dengan ambisinya menganeksasi Greenland, yang berada di wilayah otonom Kerajaaan Denmark, salah satu anggota NATO. Berikut pesannya:
Kepada Bapak Presiden, Donald yang saya hormati - terkait komunikasi lintas Atlantik kita mengenai Greenland, Gaza, Ukraina, serta pengumuman tarif Anda kemarin.
Anda paham posisi kami dalam isu-isu ini. Tapi kami percaya bahwa kita semua perlu berupaya menurunkan ketegangan dan meredakan eskalasi. Terlalu banyak hal yang sedang terjadi di sekitar kita, di mana justru dibutuhkan sikap untuk berdiri bersama.
Kami mengusulkan untuk melakukan pembicaraan lewat sambungan telepon dengan Anda hari ini, bisa bersama-sama atau secara terpisah. Mohon beri petunjuk mana yang Anda pilih.
Salam hormat,
Alex (atas nama Presiden Finlandia Alexander Stubb) dan Jonas.
Trump kemudian membalas dengan pesan yang berisi:
Jonas yang terhormat,
Mengingat negara Anda memutuskan untuk tidak memberikan saya Nobel Perdamaian, padahal saya telah menghentikan delapan perang dan lebih dari itu, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk semata-mata memikirkan soal Perdamaian, walaupun Perdamaian tetap menjadi hal utama, tetapi kini saya juga akan memikirkan apa yang baik dan pantas bagi AS.
Denmark tidak mampu melindungi wilayah itu dari Rusia dan China. Lagi pula, atas dasar apa mereka memiliki "hak kepemilikan" atas wilayah tersebut?
Tidak ada dokumen tertulis. Hanya ada cerita bahwa sebuah kapal mendarat di sana ratusan tahun lalu. Kami juga pernah memiliki kapal yang mendarat di sana.
Saya telah melakukan lebih banyak hal untuk NATO dibanding siapa pun sejak organisasi itu didirikan, dan sekarang NATO seharusnya melakukan sesuatu untuk Amerika Serikat. Dunia tidak akan aman kecuali kita memiliki kendali penuh dan total atas Greenland. Terima kasih!
Presiden DJT
Norma diplomasi tak lazim
Ilustrasi yang diunggah Donald Trump menggambarkan dirinya menancapkan bendera AS di Greenland.
Tindakan Trump yang mengumbar chat dari pemimpin negara dan organisasi internasional di media sosial, mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari mantan juru bicara NATO, Oana Lungescu.
"Norma diplomasi telah berubah untuk sementara dan itu bukan hanya Presiden Trump," kata Lungescu, dikutip KompasTekno dari BBC.
"Cukup tidak lazim pesan pribadi antar pemimpin negara dipublikasikan ke ruang publik. Namun, hal ini memang sesuai dengan kebiasaan Presiden Trump yang kerap menjalankan diplomasi secara terbuka. Bisa dibilang, ini adalah bentuk paling ekstrem dari megaphone diplomacy," kata Mark Weller, profesor dari University of Cambridge, yang pernah menjadi penasihat berbagai pemerintah dan organisasi internasional.
Weller menambahkan, komunikasi tingkat tinggi yang melibatkan pemimpin negara, sejatinya dilakukan dengan sangat hati-hati.
Tujuannya adalah untuk menghindari salah tafsir dan salah langkah terkait isu penting, agar para pihak bisa menanggapi dengan pikiran matang.
"Ini bukan masalah bagi Presiden Trump, yang kerap mendobrak ekspektasi," imbuhnya.
Sebaliknya, Weller mengatakan bahwa merespon isu sensitif secara terbuka, bukan hal biasa bagi Norwegia.
"Sangat jarang melihat pihak Norwegia yang dikenal tenang dan terkendali, membalas dengan cara serupa. Jelas ada perasaan bahwa untuk menghadapi hal seperti ini, perlu pendekatan "api lawan api", selain adanya frustrasi pribadi akibat runtuhnya seluruh etika dan tata krama diplomatik," katanya.
Sementara itu, soal pesan dari Presiden Macron kepada Trump yang diumbar ke media sosial, mantan diplomat Perancis, Francios-Joseph Schichan mengatakan bahwa hal ini bisa jadi "memalukan" bagi Macron.
"Di awal pesan, Macron jelas-jelas mengakui sesuatu yang tidak pernah ia sampaikan di ruang publik, yakni bahwa ia tidak memahami perilaku Donald Trump terkait Greenland," kata Schichan.
"Saya pikir, hal itu sungguh buruk karena Anda tidak ingin terekspos seperti itu, jadi itu adalah hal yang sangat memalukan," jelasnya.
Ia menekankan bahwa Macron sebetulnya ingin membujuk Trump untuk kembali ke diplomasi konvensional, yakni dengan melakukan pertemuan mulilateral bersama negara-negara anggota G7 (AS, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris).
Namun, karena chat itu bocor, rencana tersebut juga terekspos.
"Itu adalah contoh lain dari elemen diplomasi global yang mulai runtuh," kata Schichan.
"Dulu, percakapan empat mata secara tertutup masih bisa diandalkan. Sekarang, tak pernah ada kepastian apakah percakapan itu akan tetap privat atau justru berakhir di media sosial," jelasnya.
Adapun pertemuan Davos yang disinggung Macron adalah pertemuan tahunan World Economic Forum 2026 yang digelar di Davos, Swiss. Pertemuan yang berlangsung pada 19-23 Januari 2026 ini biasanya dihadiri para pemimpin negara.
Tag: #trump #umbar #chat #pribadinya #dengan #presiden #macron #sekjen #nato #medsos #bahas #greenland