Meta PHK Massal Lagi, Kini Pangkas hingga 1.500 Karyawan
Ringkasan berita:
- Meta memangkas sekitar 10 persen karyawan divisi Reality Labs atau sekitar 1.500 orang, sebagai bagian dari penyesuaian strategi bisnis dan efisiensi perusahaan.
- Perusahaan mengalihkan fokus investasi dari metaverse dan headset VR ke perangkat wearable, mobile, serta teknologi AI yang dinilai punya basis pengguna dan potensi pertumbuhan lebih besar.
- Proyek metaverse dinilai belum berhasil menarik minat massal sejak diumumkan pada 2021, sehingga Reality Labs tetap berjalan tetapi dibuat lebih ramping dan dengan peta jalan yang lebih sempit.
- Meta kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal terhadap karyawannya. Kali ini, induk perusahaan Facebook, WhatsApp, dan Instagram itu memangkas hingga ribuan karyawan di divisi Reality Labs.
Berdasarkan laporan outlet media Fast Company, Meta telah memberi tahu karyawannya yang terdampak bahwa hingga 10 persen posisi di divisi Reality Labs akan dihapus.
Adapun divisi tersebut diketahui mempekerjakan sekitar 15.000 orang, sehingga jumlah karyawan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang.
Informasi mengenai pemutusan hubungan kerja karyawan Meta ini sebelumnya dilaporkan oleh media Bloomberg dan The New York Times, sebelum akhirnya dikonfirmasi Meta kepada Fast Company pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat.
Dalam sebuah unggahan internal (memo) kepada karyawan, CTO Meta, Andrew Bosworth telah mengagendakan pertemuan dengan seluruh karyawan divisi Reality Labs pada Rabu pekan ini. Pertemuan tersebut disebut Bosworth sebagai pertemuan "paling penting".
Melalui unggahan tersebut, Bosworth juga menyinggung soal estimasi pemangkasan karyawan Reality Labs sebesar 10 persen.
Beralih fokus ke perangkat wearable
Seorang juru bicara Meta mengatakan bahwa mulai bulan lalu, perusahaan mengalihkan sebagian investasinya dari metaverse ke perangkat wearable.
Langkah pengalihan ini disebut sebagai salah satu upaya perusahaan untuk memperkuat lini produk yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
"Kami mengatakan bulan lalu bahwa kami mengalihkan sebagian investasi dari metaverse ke wearable. Ini adalah bagian dari upaya tersebut, dan kami berencana menginvestasikan kembali penghematan biaya untuk mendukung pertumbuhan wearable tahun ini," ujar juru bicara Meta.
Hal ini juga dikonfirmasi oleh Bosworth. Dalam unggahan internal yang sama, ia menyatakan bahwa Meta tengah mengalihkan prioritas pengembangan mereka dari teknologi virtual dan augmented reality.
Bosworth menyebut, ke depan, sumber daya metaverse akan lebih difokuskan pada pengalaman berbasis perangkat mobile, alih-alih headset VR.
"Dengan potensi basis pengguna yang lebih besar dan tingkat pertumbuhan tercepat saat ini, kami mengalihkan tim dan sumber daya hampir sepenuhnya ke mobile untuk terus mempercepat adopsi di sana," tulis Bosworth.
Kendati mengalihkan fokusnya ke perangkat mobile, Meta menegaskan bahwa mereka tidak sepenuhnya menghentikan rencana pengembangan headset VR.
Menurut Bosworth, divisi VR nantinya akan tetap beroperasi, tetapi sebagai organisasi yang lebih ramping dan datar dengan peta jalan yang lebih terfokus untuk memaksimalkan keberlanjutan jangka panjang.
Metaverse dinilai gagal
ilustrasi Metaverse
Reality Labs sendiri merupakan salah satu divisi di perusahaan Meta yang bertanggung jawab atas pengembangan produk augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).
Divisi tersebut dianggap sebagai salah satu ujung tombak pengembangan dunia virtual metaverse Meta yang selama ini dinilai gagal dalam menarik minat konsumen secara luas.
Sebelum berada di bawah naungan Meta, divisi tersebut dikenal dengan nama Oculus, perusahaan headset VR yang didirikan oleh Palmer Luckey dan diakuisisi Meta pada 2014. Saat itu, perusahaan masih bernama Facebook.
Reality Labs selama ini menjadi ujung tombak pengembangan teknologi metaverse Meta. Selain mengembangkan headset VR, divisi ini juga menggarap kacamata pintar Ray-Ban Stories serta platform jejaring sosial Horizon World.
Adapun pergeseran fokus Meta yang kini lebih memprioritaskan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan mobile dinilai tidak lagi mengejutkan, mengingat dalam beberapa tahun terakhir inisiatif dunia virtual metaverse tidak begitu signifikan.
Pada 2021, CEO Meta Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa perusahaan media sosial yang sebelumnya dikenal sebagai Facebook itu akan beralih ke frontier teknologi berikutnya, yakni dunia virtual.
Langkah tersebut bahkan ditandai dengan perubahan nama perusahaan dari Facebook menjadi Meta. Namun dalam lebih dari empat tahun sejak pengumuman, metaverse belum mampu menarik minat konsumen secara luas dan masih terbatas pada segmen tertentu.
Sebaliknya, perkembangan teknologi berbasis AI sejak 2022 justru mendorong Meta untuk mengalihkan fokus investasinya ke bidang tersebut, sementara produk metaverse-nya tertinggal.
Setelah kabar PHK mencuat, saham Meta Platforms (Nasdaq: META) tercatat turun lebih dari 2 persen pada perdagangan siang hari Selasa, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Fast Company.
Tag: #meta #massal #lagi #kini #pangkas #hingga #1500 #karyawan