Populasi China Kembali Menyusut pada 2025, Kelahiran dan Penuaan Jadi Faktor
Sejumlah warga yang beberapa di antaranya memakai masker, menyeberang jalan di Beijing, China, Rabu (20/10/2021). Ibu kota China mulai menawarkan vaksin booster Covid-19, empat bulan sebelum Beijing dan wilayah sekitarnya menggelar Olimpiade Musim Dingin.(AP PHOTO/NG HAN GUAN)
07:04
25 Januari 2026

Populasi China Kembali Menyusut pada 2025, Kelahiran dan Penuaan Jadi Faktor

Penurunan jumlah penduduk di China pada 2025 menandai kelanjutan tren demografis yang sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.

Data resmi menunjukkan, untuk keempat kalinya secara berturut-turut, populasi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu kembali menyusut.

Penurunan ini terutama dipicu oleh anjloknya jumlah kelahiran, meningkatnya angka kematian seiring penuaan penduduk, serta perubahan sosial-ekonomi yang memengaruhi keputusan keluarga untuk menikah dan memiliki anak.

Biro Statistik Nasional China atau National Bureau of Statistics (NBS) melaporkan total populasi China pada akhir 2025 berada di kisaran 1,405 miliar jiwa, turun sekitar 3,39 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, jumlah kelahiran tercatat hanya 7,92 juta bayi, sementara jumlah kematian mencapai sekitar 11,31 juta jiwa.

Selisih antara kelahiran dan kematian tersebut menciptakan defisit alami yang semakin melebar dan menjadi penyebab langsung penurunan populasi.

Penurunan kelahiran pada 2025 bahkan disebut sebagai yang terendah sejak pencatatan modern dimulai pada 1949. Angka ini menegaskan bahwa persoalan demografi China bukan lagi bersifat sementara, melainkan struktural.

Angka kelahiran China anjlok ke titik terendah

Laporan NBS menunjukkan jumlah kelahiran pada 2025 turun sekitar 17 persen dibandingkan 2024 yang masih berada di angka 9,54 juta.

Penurunan tajam ini terjadi meskipun pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk mendorong keluarga memiliki lebih banyak anak, mulai dari pelonggaran kebijakan jumlah anak hingga pemberian insentif finansial.

Bandar Udara Internasional Ibu Kota BeijingShutterstock Bandar Udara Internasional Ibu Kota Beijing

Reuters dalam laporannya menulis bahwa tingkat fertilitas total China kini diperkirakan berada di bawah 1, jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1.

Kondisi ini berarti, secara rata-rata, setiap perempuan di China melahirkan kurang dari satu anak sepanjang usia reproduksinya.

Demografer Yi Fuxian mengatakan kepada Reuters, tingkat kelahiran China saat ini setara dengan level yang terjadi berabad-abad lalu, ketika ukuran populasi jauh lebih kecil.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa drastisnya perubahan struktur demografi China dalam waktu relatif singkat.

Rendahnya angka kelahiran juga tidak terlepas dari menyusutnya jumlah perempuan usia subur. Kohort perempuan berusia 20 sampai 39 tahun terus menurun akibat dampak jangka panjang kebijakan satu anak yang diterapkan selama puluhan tahun.

Dengan basis calon ibu yang semakin kecil, ruang untuk rebound kelahiran menjadi semakin terbatas.

Penuaan penduduk dan lonjakan angka kematian

Di sisi lain, jumlah kematian di China pada 2025 tercatat meningkat. NBS melaporkan angka kematian mencapai sekitar 11,31 juta jiwa, dengan tingkat kematian sekitar 8 per 1.000 penduduk.

Kenaikan ini sejalan dengan bertambahnya proporsi penduduk lanjut usia.

Menurut data resmi, sekitar 23 persen penduduk China kini berusia 60 tahun ke atas. Penuaan yang cepat ini merupakan hasil kombinasi dari meningkatnya harapan hidup dan rendahnya angka kelahiran selama beberapa dekade.

Reuters mencatat, penuaan populasi menjadi faktor yang mempercepat penyusutan penduduk karena semakin banyak warga yang memasuki usia rentan terhadap penyakit kronis.

 

Ilustrasi bendera China.SHUTTERSTOCK/CRYSTAL51 Ilustrasi bendera China.

Kondisi ini juga menambah tekanan terhadap sistem jaminan sosial dan layanan kesehatan. Semakin besar proporsi lansia berarti semakin tinggi kebutuhan pembiayaan kesehatan, sementara basis penduduk usia produktif yang menopang sistem tersebut justru menyusut.

Bayang-bayang kebijakan satu anak

Banyak analis menilai penurunan populasi China pada 2025 tidak bisa dilepaskan dari warisan kebijakan satu anak yang berlaku dari awal 1980-an hingga 2015.

Kebijakan tersebut berhasil menekan laju pertumbuhan penduduk, tetapi juga membentuk struktur umur yang timpang.

Ketika kebijakan dilonggarkan menjadi dua anak pada 2016 dan kemudian tiga anak pada 2021, respons masyarakat tidak sebesar yang diharapkan pemerintah.

Reuters menulis, kebijakan baru tersebut datang ketika preferensi sosial sudah berubah dan tekanan ekonomi rumah tangga meningkat.

Generasi yang kini berada pada usia produktif dan usia menikah merupakan generasi dengan jumlah relatif kecil akibat pembatasan kelahiran di masa lalu.

Akibatnya, meskipun aturan sudah dilonggarkan, potensi peningkatan kelahiran tetap terbatas secara struktural.

Pernikahan menurun dan perubahan pilihan hidup

Penurunan jumlah pernikahan juga menjadi indikator penting yang menjelaskan merosotnya angka kelahiran.

Dalam beberapa tahun terakhir, pencatatan pernikahan di China terus menurun, seiring semakin banyak anak muda yang menunda atau memilih tidak menikah.

Perubahan nilai juga ikut berperan. Di kota-kota besar, gaya hidup individual, tuntutan pekerjaan, dan aspirasi karier sering kali lebih diprioritaskan dibandingkan membangun keluarga besar.

Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China. UNSPLASH/HANNY NAIBAHO Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China.

Pilihan untuk hidup tanpa anak atau hanya memiliki satu anak semakin diterima secara sosial, terutama di kalangan kelas menengah perkotaan.

“Laju penurunan (angka kelahiran) ini sangat mencolok, terutama tanpa adanya guncangan besar,” kata Yue Su, kepala ekonom di Economist Intelligence Unit, dikutip dari CNBC.

Ia menambahkan, dorongan dari langkah-langkah stimulus telah memudar, sementara kaum muda menunda rencana pernikahan dan memiliki anak karena tekanan ekonomi yang meningkat dan persaingan yang semakin ketat di tempat kerja.

Beban ekonomi rumah tangga

Tekanan ekonomi disebut-sebut sebagai salah satu faktor paling konkret di balik keputusan menunda atau menolak memiliki anak. Biaya perumahan yang tinggi, pendidikan yang mahal, serta biaya pengasuhan anak menjadi pertimbangan utama.

The Guardian, dalam laporan terpisah, menyebutkan membesarkan seorang anak di kota besar China dapat menelan biaya ratusan ribu yuan hingga lebih dari setengah juta yuan hingga anak dewasa.

Beban tersebut dinilai terlalu berat bagi banyak pasangan muda, terutama di tengah ketidakpastian pasar kerja dan tingginya pengangguran pemuda.

Tekanan ini dirasakan lebih kuat di wilayah perkotaan, tempat sebagian besar penduduk China kini tinggal.

Urbanisasi yang pesat memang mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan biaya hidup dan memperkecil ruang tinggal, yang pada akhirnya memengaruhi keputusan keluarga terkait jumlah anak.

Urbanisasi dan melemahnya dukungan keluarga

Urbanisasi yang terus meningkat juga mengubah struktur dukungan keluarga tradisional. Dengan lebih dari dua pertiga penduduk tinggal di wilayah perkotaan, banyak pasangan muda hidup jauh dari orang tua atau keluarga besar yang sebelumnya berperan membantu pengasuhan anak.

Reuters mencatat bahwa hilangnya dukungan ini membuat beban pengasuhan sepenuhnya ditanggung oleh orang tua, baik dari sisi waktu maupun biaya.

Pusat perbelanjaan Cloud Nine di kota Shanghai, China.Wikipedia Pusat perbelanjaan Cloud Nine di kota Shanghai, China.

Dalam konteks budaya kerja yang panjang dan kompetitif, kondisi tersebut semakin menurunkan minat memiliki anak.

Respons kebijakan pemerintah

Pemerintah China menyadari risiko jangka panjang dari penurunan populasi. Sepanjang 2025, sejumlah kebijakan diluncurkan, mulai dari subsidi kelahiran, perluasan cakupan asuransi kesehatan untuk kehamilan dan persalinan, hingga dukungan untuk program fertilisasi in vitro (IVF).

Reuters melaporkan bahwa pemerintah pusat dan daerah menyiapkan anggaran besar, diperkirakan mencapai ratusan miliar yuan, untuk mendukung kebijakan pro-kelahiran.

Selain itu, aturan administrasi pernikahan dilonggarkan agar pasangan dapat mendaftarkan pernikahan di luar domisili asal mereka.

Namun, sejumlah analis yang dikutip media internasional menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk membalikkan tren.

Mereka menyoroti bahwa persoalan utama terletak pada struktur ekonomi dan sosial, termasuk budaya kerja, ketimpangan gender dalam pengasuhan, serta mahalnya biaya hidup di kota-kota besar.

Tag:  #populasi #china #kembali #menyusut #pada #2025 #kelahiran #penuaan #jadi #faktor

KOMENTAR